
Julian duduk diantara Ais dan Rafi yang sibuk menuliskan jawaban dari soal yang dikerjakan.
Sedangkan Julian hanya memperhatikan dengan sesekali mengingatkan jika ada kesalahan dan kekurangan.
"Yan..." Panggil seseorang.
Julian yang menunduk, langsung mengangkat kepalanya.
"Ning.." Sahutnya begitu melihat yang memanggilnya adalah Hani.
Hani langung duduk di samping Julian dan menjaga jarak sewajarnya.
"Yan, makasi ya.. Besok aku berangkat ke Malang." Kata Hani sambil tersenyum kecil.
Julian yang mendengar sedikit terkejut.
"Kok cepat sekali?" Tanya Julian.
"Karena minggu depan, di sana sudah UTS. Sedangkan di sini baru awal bulan. Jadi, Abah mempercepat proses mutasinya." Jelas Hani.
"Ooh..." Julian hanya berO O panjang.
"Aku titip mereka berdua ya..." Kata Hani tanpa melepas senyumnya.
Julian mengangguk lirih.
"Terima kasih sudah mensupport aku. Akhirnya aku dan Abah bisa mencapai kata sepakat." Lanjut Hani.
Julian masih terdiam, meskipun sebetulnya ia kepo apa sepakatan keduanya. Namun Julian tidak ada keberanian menanyakannya.
Apalagi posisinya sekarang di ndalem. Jadi, Julian hanya bisa kepo dalam diam.
"Aku meminta Abah mencari sekolah yang ada jurusan IPA-nya. Jadi begitu lulus aku masih bisa melanjutkan ke Fakultas kedokteran." Hani seakan tahu rasa penasaran Julian dan ketidakberaniannya untuk berkepo ria.
"Sykukurlah, Ning. Aku juga turut gembira." Dukung Julian.
"Semoga kita masih bisa bertemu kembali." Sambung Hani sambil berdiri karena Gud Burhan menatap mereka sejak semenit yang lalu.
"Kalian yang nurut sama Mas Iyan, ya..." Pesan Hani kepada Rafi dan Ais.
"Iya, Ning..." Sahut keduanya kompak.
Tanpa menunggu persetujuan Julian, Hani meninggalkan mereka dengan langkah ringan.
Seolah tak ada beban di hatinya.
Bersiap meninggalkan rumahnya kembali. Dan entah kapan ia kembali. Begitu yang ada dibenaknya sejak menyetujui permintaan sang Abah.
💗💗💗💗💗💗💗
Di Surabaya
Aqeela dan Genk suaminya mempersiapkan sebuah rumah singgah untuk para anjal bekas didikan Bang Iko.
Bang Iko sendiri sudah mendekam dalam penjara dengan tenang.
Dengan bantuan dari Kepolisian dan dinas sosial setempat, rumah singgah para anjalpun terealisasi.
Aqeela dan teman-temannya hanya bisa mensupport dana. Sedangkan untuk para pembimbing dibantu dari dinsos.
Hadi dan genknya masih tetap sekolah di MI si triple. Karena beberapa bulan lagi mereka akan menghadapi ujian kelulusan.
Hadi dan genknya akhirnya mendapat beasiswa dari lembaga Yatim di daerah tersebut.
Apalagi melihat latar belakang dan kondisi ekonomi keluarga genk cilik tersebut, membuat banyak pihak tersentuh dan iba.
Rasa syukur diungkapkan para orang tua ketiganya. Berkat bantuan banyak pihak pendidikan ketiganya terjamin hingga kuliah.
"Hadi, Rio, Gio tugas kalian sekarang hanya rajin belajar, berdo'a dan ibadah. Nurut sama Bapak dan Ibu." Pesan Aqeela kepada ketiganya.
"Iya Umma." Jawab Hadi, Rio dan Gio bergantian.
__ADS_1
Dan sejak itu kedekatan Genk Hadi dan Genk Triple menjadi lebih dekat.
(Si Triple dapat bodyguard gratisan 😀)
💗💗💗💗💗💗
Enam bulan berlalu dengan berat.
Berat badan bertambah.
Berat menanggung biaya.
Berat menahan rindu.
Berat melalui ujian.
Berat memikul sabar.
Beratnya kenaikan harga.
Dan alat-alat berat lainnya.
By the way, hidup terus berjalan. Seberat dan seringan apapun tetap saja hari kemarin harus terlewati hari ini kita jalani hari esok harapan bisa terwujud.
Bulan yang berjalan membawa triple dan teman-teman semakin dewasa.
Mereka sekarang di kelas empat. Uncle Ian kelas 9.
Setahun lagi Uncle Ian lulus MTs, jenjang pendidikan yang setara dengan SMP.
Julian mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir. Tanpa melewatkan pesantren.
Hafalan qur'an Julian semakin bertambah. Meskipun tak cita-cita menjadi hafidz Julian tetap menghafal Al-qur'an semampu dan sebisanya.
Madrasah Diniyahnya tetap ia lakoni denga keikhlasan.
Bukan demi siapa-siapa tapi demi dirinya sendiri.
Setahun berlalu meski berat tetap dijalani dengan ikhlas.
Karena keikhlasan rasa berat menjadi seringan kapas.
Julian akhirnya mampu melalui ujian akhir dengan akumulasi nilai sangat memuaskan.
Dan kembali ke Surabaya dengan hati damai.
Hari ini Aqeela dan Desta ditemanin si Triple dan Dedek Al menjemput Julian boyong dari Pesantren.
"Uncle....."Teriak Zafira begitu melihat Julian keluar dari pagar pesantren.
Julian tersenyum melihat keluarganya berkumpul.
Dengan langkah cepat ia segera menuju keluarganya. Keluarga yang membesarkan dan mendidiknya.
Dipeluknya Desta dengan erat begitu sudah di depan sang Kakak.
"Anak keren, sudah gede aja..."Ucap Desta sambil membalas pelukan Julian.
"Kak..." Kini Julian menatap Aqeela.
"Gak pa_pa peluk, Kakak." Kata Aqeela seakan tahu ada keraguan di hatinya saat ingin memeluk Kakak angkatnya itu.
Desta menepuk bahu Julian.
"Peluklah Kakakmu, dia begitu merindukanmu." Pinta Desta.
Tanpa menunggu lama, Julian menghambur ke arah Aqeela.
"Adiknya kakak akhirnya pulang juga." Ucap Aqeela sambil menahan isakan haru setelah tiga tahun harus ikhlas melepas Julian menimba ilmu si Pesantren.
"Kak, aku juga kangan." Bisik Julian.
__ADS_1
"Uncle.. Zafira kapan dipeluknya?" Tangan Zafira sudah menarik-narik celana panjang batik Julian.
Julian melepaskan pelukan Aqeela begitu mendengar suara manja gadis kecil kesayangannya itu.
Julian jongkok dihadapan Zafira, Zafir dan Zafran. Tanpa ragu ia merentangkan kedua tangannya menyambut si kembar tiga.
Tanpa aba-aba ketiganya langsung memeluk Julian.
"Uncle! Uncle udah gak pulang ke Pesantren lagii kan?" Tanya Zafir.
Julian melepas pelukannya lalu mengelus rambut Zafir dengan lembut.
"Tidak, Uncle akan pulang ke rumah. Jagain Umma dan Buya juga kalian." Kata Julian dengan senyum tipis yang hanya menarik dua sudut bibirnya namun terkesan cool.
"Uncle keren..." Puji Zafran.
"Uncle gitu loo.. harus keren dan istimewa." Sahut Julian dengan bangga.
"Huu... Gak keren. Uncle itu SB2MT." Sambung Zafira dengan bibir sengaja di monyongin.
"Apaan itu?" Julian auto kepo.
"Suka Banget Bikin Mata Terpesona." Jawab Zafira diiringi tawa oleh Julian, Aqeela dan Desta.
"Udah kita pulang, sekarang." Ajak Desta.
Dan langsung diiyakan semuanya.
"Yan, kamu gak bagi-bagi barang ke teman kamu kan?" Tanya Desta sambil berjalan ke parkiran.
"Lhoo ngapain barang-barangku aku sedekahkan?" Kali ini Julian benar-benar dibikin kepo.
"Tanya Kakak kamu tuh!" Jawaban Desta malah bikin Julian mengambang.
"Lhoo Kakak Aqeela memangnya kenapa?" Julian menatap kakaknya. Begitupun si triple yang memang menyimak pembicaraan ketiganya.
Aqeela hanya senyum-senyum mengingat ide gilanya yang bikin masa lalunya berwarna.
"Kok Umma senyum-senyum sih?" Tanya Zafran keheranan.
"Iyaa.. memangnya ada yang lucu?" Sahut Zafir.
"Pasti waktu itu Umma bikin salah yaa... atau malah ngisengin Buni dan Ayahkung?" Tebak Zafira.
Aqeela semakin melebarkan bibirnya mendengar komentar ketiga anaknya.
"Umma bikin kita kepoo...Ngobrol dong Umma." Sambung Zafira.
"Itu tandanya Umma malu, Fir.." Sahut Julian sambil duduk di jok paling belakang ditemani Zafira.
Sedangkan Zafir, Zafran dan Dedek Al di jok tengah.
"Memangnya Umma malu? Perasaan selama ini Umma gak pernah punya malu?" Ledek Zafir.
"Dengerin tuuh suara hati Zafir." Goda Desta.
"Beneran deh kalian gak ada adat. Masa Umma dikatain begitu. Masya Allah."
Seisi mobil tergelak.
💗💗💗💗💗💗
**Upnya kelamaan.. Maaf yaa.
Met long weekend ya...
🙈😘😘
Kiss me for you
Vote yaa...
__ADS_1
Seikhlasnya**..