TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Perjalanan Julian


__ADS_3

Julian mengemudikan mobilnya menuju kosan Hani di daerah Dharmawangsa.


Di jok belakang ada Zafira yang tak rela Julian hanya berdua dengan Hani.


"Yan.., jangan menghindar. Hadapi semuanya." Ucap Hani dengan tatapan fokus dijalan.


"Berat, Ning." Ucap Julian.


"Alloh itu tidak akan menguji kaumnya melebihi batas kemampuannya. Itu artinya kamu mampu menghadapi semuanya." Ucap Hani dengan tegas.


Julian menghembuskan napasnya dengan berat.


"Kenapa, Yan?" Tanya Hani.


"Masih belum terima saja rasanya."


"Bagian mana yang belum bisa kamu terima?"


"Kenyataan kalo mama dan papa aku meninggal karena pembunuhan berencana." Julian masih menahan sesuatu yang sesak di dadanya.


"Aku percaya kamu mampu dan sanggup menghadapinya. Kamu punya Mbak Aqeela dan Mas Desta. Belum lagi keponakan-keponakan lucu kamu. Ada support dari orang tua angkat kamu. Pengacara Papa kamu. Kamu memiliki semua." Hani panjang lebar menasehati Julian.


"Mereka percaya kamu bisa bangkit. Kamu bisa diandalkan. Kamu bisa menjalankan amanah almarhum orang tua kamu. Perusahaan membutuhkan kamu." Lanjut Hani.


Julian hanya terdiam sambil terus mengemudi.


"Yan.., segera buat keputusan. Mereka semua menunggu keputusanmu. Aku percaya Mbak Aqeela dan Mas Desta menyayangimu. Mereka juga tak ingin kamu terluka."


"Buatlah keputusan. Konsultasikan dengan pengacaramu."


"Yan, jalan depan belok kiri. Cari rumah nomer 5. Di situ kosanku."


Julian mengarahkam kemudinya sesuai petunjuk Hani. Tanpa banyak bicara, ia langsung berhenti di depan rumah tanpa pagar dengan dinding bercat putih.


"Ayo mampir!" Ajak Hani.


"Zafira, ayo ikut Kakak masuk!" Hani mengajak Zafira mampir ke kosannya.


"Uncle.. mau masuk?" Tanya Zafira.


Julian menggeleng, "Enggak, Fir. Laki-laki gak bole masuk."


Hani tertawa kecil.


"Bole, tapi hanya sampai ruang tamu." Ralat Hani.


"Ayo, masuk bentar!" Ajak Hani sekali lagi.


Julian menepikan mobilnya. Lalu membuka kunci otomatis pintu brio hitamnya.


Julian membukakan pintu untuk Hani dan Zafira bergantian.


Kedua gadis itu tersenyum, sambil mengucapkan terima kasih.


"Duduklah di sini!" Titah Hani.


Julian dan Zafira duduk di kursi ruang tamu yang ukurannya tidak begitu luas. Hanya muat untuk sekitar lima sampai tujuh orang dengan jumlah kursi terbatas lima kursi.


Di sudut ruangan tergelar karpet, berukuran 210 x 150. Tidak ada pajangan apapun hanya sebuah jam dinding terpasang dengan cantiknya.


"Uncle ruangannya aneh." Bisik Zafira kepada Julian.


"Zafira ikut kakak ke kamar bentar, yuk!" Hani kembali mengajak Zafira ikut ke kamarnya.

__ADS_1


Zafira menoleh ke arah Julian meminta persetujuan remaja yang bersamanya. Julian mengangguk tanda persetujuannya.


Di dalam kamar.


"Kak, sempit sekali?" Zafira kembali keheranan.


Melihat kamar Hani yang berukuran 4x4 dengan satu ranjang, meja dan lemari kecil. Belum lagi kamar mandi di pojokan.


Tidak ada AC, hanya sebuah kipas angin yang berputar memindai hawa panas kota Surabaya.


"Ya, beginilah kamar kos." Kata Hani.


"Kakak ke sini kan niatnya mencari ilmu. Jadi, hanya mampu menyewa kamar ini." Lanjut Hani.


"Kenapa gak tinggal di pesantrennya Zafira saja?" Tanya Zafira kepo.


"Pesantren Zafira jauh dari kampus kakak. Nanti kalo kakak jaga malam di rumah sakit, bagaimana?" Tanya Hani.


"Oohh..."


Hani tersenyum melihat gadis kecil, putri Aqeela itu. Perlahan ia membuka lemari kayu di sisi kanan ranjangnya.


"Ini buat Zafira, ya." Hani menyerahkan sebuah paper bag kepada Zafira.


"Hadiah ulang tahun kamu." Lanjut Hani yang paham akan kebingungan Zafira.


"Buat Zafir dan Zafran mana?" Hani terkekeh mendengar pertanyaan Zafira.


"Ini kakak nitip buat Zafir dan Zafran. Maaf yaa.. tadi lupa tidak dibawa kakak."


Hani menyerahkan dua paper bag lain kepada Zafira.


"Jazakillah ya, Kak." Ucap Zafira.


Kedua kemudia tersenyum bersamaan.


"Yuk ke depan. Kasiyan Uncle kamu." Ajak Hani.


"Yuk Kak. Keburu jamuran nanti Uncle Iyan." Zafira langsung menarik tangan Hani mengajak segera keluar.


Setelah mengunci pintu kamarnya, Hani dan Zafira segera ke ruang tamu.


💗💗💗💗💗


"Ciyeee yang dapat kado." Ledek Julian melihat Zafira beberapa kali menatap paper bag pemberian Hani.


"Kak Hani, baik ya Uncle." Bukannya marah Zafira malah memberi pernyataan yang membuat Julian kaget.


"Tumben nee anak." Gumam Julian heran.


"Dari dulu, Ning Hani memang baik." Jawab Julian.


"Uncle suka ya sama Kak Hani?" Tanya Zafira cemas.


"Hmm.." Jawaban ambigu Julian membuat Zafira menoleh ke arah unclenya itu.


"Jawaban apaan itu?" Tanya Zafira.


"Jawaban Hm.." Balas Julian tanpa mempedulikan Zafira yang kepo.


"Kalo Kakak Ai?" Kali ini Julian menoleh menatap gadis cilik itu.


"Hmm juga." Julian kembali berdehem tanpa ada maksud membalas ucapan Zafira.

__ADS_1


"Uncle nyebelin." Zafira memukul lengan Julian dengan kuat. Tapi tetap saja tidak sakit, karena lengan kokohnya lebih kuat daripada pukulan Zafira. Meskipun gadis itu memakai tenaga supernya.


"Meski nyebelin tapi ngangenin kan?" Ledek Julian.


"Enggak." Sahut Zafira cepat.


"Enggak salah." Balas Julian.


"Serah.. " Zafira kembali cemberut.


"Eh, kita lewat Xi bo ba. Mau gak?" Tawar Julian saat hendak melintas viaduk Jalan Kertajaya.


Tapi Zafira diam tak merespon. Walaupun dalam hati, ia lagi ngeces sama minuman viral itu.


Julian yang tahu Zafira lagi ngambek, tanpa menunggu jawaban gadis cilik itu ia langsung membelokkan kemudinya ke stand xi bo ba di jalan Sulawesi.


Zafira seketika bersorak dalam hati. Karena tidak mungkin ia bersorak secara langung di hadapan Julian. Gengsi.


(Kecil-kecil tahu gengsi juga nee anak, Aunty gemes nee Kak)


Setelah mengantri sebentar, Julian kembali dengan membawa dua cup xi bo ba.


Gadis itu dengan malu-malu menerima satu cup xi bo ba dari Julian.


"Udah gak usah malu-malu meong. Nee minum." Julian menyodorkan satu cup yang sudah ia coblos dengan strawnya.


Jadi Zafira tinggal seruput doang.


(Uncle Iyan, udah baik gitu lo Kak. Udahan dong gengsinya)


"Makasi, Uncle." Akhirnya Zafira bersuara.


"Sama-sama." Julian kembali bersiapa denga. kemudinya untuk kembali ke rumah.


💗💗💗💗💗


Julian termenung di kamarnya. Sedari tadi ia duduk diam di meja belajarnya.


Fokusnya buyar, tak karuan.


Nasehat dari Hani tadi sore membuatnya berfikir ulang tentang keputusannya.


"Benar kata Ning Hani, aku harus segera menemui Om Edo. Apapun yang terjadi, semua milik Papa. Aku masih punya hak untuk menggunakan aset Papa."


"Pa, maafin Iyan. Iyan saat ini hanya bisa mendo'akan Papa dan Mama. Semoga Papa dan Mama bahagia di sana."


"Iyan di sini sangat bahagia. Karena bertemu keluarga yang menyayangi Iyan apa adanya. Bahkan mereka tidak pernah tahu siapa Julian."


"Julian di didik jadi anak yang bertanggungjawab dan soleh."


"Entah bagaimana Iyan membalas mereka kelak. Iyan juga ingin mereka merasakan kebahagian seperti yang Iyan rasakan."


Julian menatap jendela kamarnya yang terbuka. Semilir angin malam masuk ke dalam kamarnya. Ac sudah ia matikan sejak tadi.


Julian menatap ke langit yang dipenuhi kelap kelip cahaya bintang.


"Pa.. Ma.. Iyan hanya bisa mendo'akan kalian."


💗💗💗💗💗


Keep spirit Uncle...


Vote yaa.. buat Uncle Iyan..

__ADS_1


__ADS_2