TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
triple (2)


__ADS_3

Zafir terlihat sibuk di dapur. Ia mengeluarkan poci dan diisinya dengan air panas yang baru mendidih.


Beberapa sendok gula ia aduk bersama air panas dan dua bungkus teh celup.


Zafran yang baru keluar kamar, segera duduk di salah satu kursi makan.


Melihat Zafir sedang menyeduh teh, Zafran menunggu saudaranya itu dengan sabar.


Sesekali ia menguap dan mengucek matanya. Bahkan saat ini kepalanya ia letakkan diatas meja dengan tangan sebagai bantalan.


Mata Zafran terlihat merah. Di sekitar matanya ada lingkar hitam. Bak mata panda. Zafir menatap keadaan saudaranya itu dengan senyum cekikikan.


pemuda itu sengaja membiarkan saudara dengan kondisi aneh tersebut.


Zafir menyiapkan beberapa gelas piring dan sendok. Setelah sholat subuh tadi Julian sudah berpesan kepadanya agar menyiapkan piring dan sendok.


Karena menu sarapan akan ia belikan di warung. Sedangkan Mommy dan Daddy setelah sholat subuh sudah sibuk dengan tanaman yang ada di halaman rumah anaknya yang terlihat tak terawat.


Julian dan Zafira datang tepat ketika Zafir selesai menata meja makan.


"Beli nasi apa, Uncle?" Tanya Julian sambil menerima kresek dari Julian dan Zafira.


"Pecel." Jawab Julian meski ia sudah di kamar mandi untuk mencuci kaki dan tangannya.


Zafir mengisi piring-piring kosong tersebut dengan sebungkus nasi pecel.


Bau khas bumbu pecel merebak kemana-mana. Zafran yang dalam kondisi tertidur di meja makan saja. Sampai membuka mata.


"Nasi pecelnya sedap sekali. Peyeknya mana Zafira?" Teriak Zafran sambil membuka karet pembungkusnya.


"Zafran..! Ya Alloh cuci muka dan gosok gigi dulu!" Jawab Zafira melihat Zafran berusaha menikmati nasi pecel lebih dulu.


"Ha ha ha ha...." Belum sempat Zafran menjawab Zafira sudah ngakak gak karuan melihat mata panda saudaranya itu.


"Semalam abis ngapaian aja, Bang." Goda Zafira dengan suara dibuat gemulai.


Zafran yang belum paham maksud Zafira menatap kembarannya itu dengan tajam.


"Ya Alloh, aku takut Fran. Udah sana cuci muka dan gosok gigi dulu!" Titah Zafira lagi masih dengan sisa-sisa tawanya.


"Eits, tunggu dulu." Cegah Zafira sebelum Zafran ke kamar mandi.


"Jangan-jangan semalam kamu ngeronda ya sama Renata." Selidik Zafira.


Zafir yang sudah selesai dengan teh dan kopi ikut tertawa di sebelah Zafira.


"Sama siapa lagi? Secara di sini jam dua belas malam di sana jam enam sore. Aku yakin tagihan wifi Buya bulan ini membengkak." Zafir ikut meledek Zafran.


"Suka-suka aku." Sahut Zafran tanpa mempedulikan ocehan kedua kembarannya melanjutkan ritual ke kamar mandi.


"Kalian kayaknya lagi hepi banget gitu. Padahal kemarin pada merengek minta ke Jerman." Usil Julian yang ikut gabung di meja makan.


"Emang Uncle gak liat muka Zafran tadi?" Sahut Zafira.


"Enggak."


"Ya Alloh. Lucu banget. Kayak panda." Zafira tidak bisa menahan tawanya.


"Semalaman ia ngeronda sama Renata. Kenapa sih tuh anak gak terbang aja sono ke Spanyol daripada jauh-jauhan kayak gini kan gak enak." Cerocos Zafira.


"Huuuh.. kamu kira Indonesia - Spanyol kayak Surabaya - Kediri apa?" Ledek Zafir.


"Kangen tinggal cuss pake mobil. Spanyol di Eropa, Non. Jaauuh. Pake buroq ke sananya." Sambung Zafir.

__ADS_1


"Bela teruuusss..." Komentar Zafira.


"Tuh.. tuh liat deh Uncle matanya Zafran." Zafira menunjukkan mata panda Zafran kepada Julian begitu ABG itu kembali ke ruang makan.


Julian yang baru melihatnya hampir kelepasan tawa. untung bisa ia rem mendadak.


"Wajah-wajahnya ada yang abis kangen-kangen neee." Goda Julian.


"Makan yang banyak, dek. Biar punya tenaga ekstra buat ntar malam." Sambung Julian begitu Zafran membuka bungkusannya.


"Bisa gak kalian diam sebentar atau jatah kalian aku habiskan." Omel Zafran sebal.


Julian dan Zafira ngajak bareng, sedangkan Zafir hanya nyengir.


"Sanggup? Kalo sanggup aku ikhlas kok, Fran." Sahut Zafira.


"Hm.. Uncle juga ikhlas deh, jatah Uncle buat Ayang Zafran." Goda Julian.


"Ya udah siniin." Zafran menyeret nasi bungkus jatah Zafira dan Julian ke dekatnya.


"Ya Alloh Zafran, ojo kemaruk!" Zafir menepuk telapak tangan Zafran dengan kasar.


"Mereka ikhlas, kok."


"Bukan ikhlasnya, tapi itu perut kondisikan. Awas aja ayang beb kamu illfeel gara-gara perut buncit."


"Aish.. aku kan rajin olah raga. So, aman." Cerocos Zafran.


"Bentar aku panggil Oma sama Opa. Awas kamu kena omel mereka loo..." Nasehat Zafir sambil bangkit dari kursi menuju halaman belakang.


Oma dan Opa sempat kaget dan melarang Zafran saat ABG berniat menghabiskan tiga bungkus nasi pecel sekaligus.


"Fran, apa-apaan uni?" Seru Mommy.


"Mereka berdua udah ikhlas kok Oma." Jawab Zafran santuy.


"Muat, Opa."


"Zafran lagi balas dendam, Opa." Ledek Zafir.


"Maklum di pondokkan makannya dibatasi. Mumpung di rumah..."


Pletak.


Satu jitakan dari Zafran memotong Zafira.


"Awwwhh.. Zafran sakit tau..!"


Bug.


Satu bogem balasan dari Zafira mengenai lengan Zafran.


"Ternyata tenaga kamu masih perlu diperhitungkan. Aku kira enam bulan di pondok udah bikin tenaga kamu berkurang. Ternyata aku salah." Ledek Zafran.


Bugh.


Satu bogem mendarat di paha Zafran.


Zafira sengaja memilih paha karena posisi Zafran yang sedang makan.


"Zafira... sudah berhenti." Cegah Mommy.


"Zafran ... udah habisin tuh sarapan." Sahut Daddy.

__ADS_1


Julian dan Zafir terlihat nyengir menatap wajah keduanya yang terlihat kesal.


"Udah habis niih sebungkus." Zafran melipat pembungkus nasinya untuk dibuang di tempat sampah.


Mommy dan Daddy hanya geleng-geleng kepala melihat porsi makan Zafran.


"Mom, kok cucu-cucu kita kayak anak busung lapar ya?" Bisik Daddy miris kepada Mommy.


"Entahlah, Dad. Mungkin kehidupan di pesantren seperti itu. Mommy gak tahu istilahnya. Yang mommy tahu santri itu harus menerima semua yang ada dengan ikhlas." Balas Mommy dengan berbisik pula.


"Alhamdulillah..." Suara lirih Zafran terdengar keras karena suasana hening di sana.


"Kenyang, Fran?" Tanya Zafir yang hafal dengan kelakuan Zafran.


Zafran mengangguk.


"Nee buat Uncle sama Zafira. Aku gak jadi ngabisin. Perutnya sudah demo minta stop." Zafran menyodorkan piring berisi nasi bungkus ke hadapan Julian.


Julian dan Zafira hanya saling pandang sambil menatap sepiring nasi di dekatnya.


"Mau gak?" Tanya Zafir sambil menatap keduanya.


Julian dan Zafira masih bingung, sama-sama bimbang dengan nasi bungkus.


"Kalo aku yang makan, uncle gimana?" Batin Zafira.


"Fira kamu makan saja." Batin Julian berharap Zafira mendahuluinya menarik piring.


Ternyata harapannya tinggallah harapan, Zafira bahkan tidak menyentuh piringnya sama sekali.


"Haduh, kalian lama banget sih? Mau enggak? Kalo enggak. Aku juga mau." Ucap Zafir menahan senyum malu.


Auto Mommy, Daddy, Julian dan Zafira tepuk jidat.


"Malu-maluin..!" Ledek Zafran.


"Ngomong kek dari tadi, kalo kamu juga mau!" Sambungnya.


💗💗💗💗💗💗


Nasib.. nasib


Nasib anak pondok.


Mommy bener tuh, mereka pada busung lapar. Nyampe rumah balas dendam.


Makan sepuasnya.


Mommy gak kasiyan tuh sama cucu-cucunya.


🙈🙈🙈


🤭🤭🤭


Tahan senyum


vote


like


komen


share

__ADS_1


bantuin share dong man teman


love from triple


__ADS_2