TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Ke Kampus


__ADS_3

Aqeela memarkir Pajeronya perlahan lalu turun membukakan pintu belakang ketiga anaknya.


"Kamu turun gak Din?" Tanya Aqeela ke Dinda sahabatnya.


"Disini aja." Kata Dinda datar.


Entah apa yang ia pikirkan. Aqeela sengaja membiarkannya sendiri.


Hari Dinda dan Aqeela berencana membayar uang semesteran ke kampus. Karena kuliah di kampus yang sama keduanya berangkat bersama.


Didepan gerbang, Triple say good bye dengan Ummanya.


Setelah ritual cium tangan dan cium kening dan pipi. Ketiga masuk dengan riang karena sudah di sambut Ustadzahnya.


Aqeela menuju ruang tunggu menemui geng emak rempongnya.


Setelah menemukan posisi geng rempong dan melakukan ritual cipika cipiki. Aqeela membisikkan sesuatu ke Hanin.


"San, aku hari ini nitip anak-anak sebentar bisa?" Pinta Aqeela lirih.


"Ya Allooh.. bole. Mau kemana emangnya?" Tanya balik Hanin.


"Mau ke kampus, hari ini jadwalku bayar uang semester." Jawab Aqeela.


"Siap, San.. Udah kamu berangkat yang tenang." Kata Hanin.


"Kalo saya belum datang anak-anak mau dibawa Mbak Hanin kemana?" Tanya Aqeela.


"Ke rumahku saja. Nanti biar si Malik dan Darren nemenin mereka." Jawab Hanin seenaknya.


"Yun.. Ca... Ntar pul sek ke rumahku yaa. Si Kembar mau di titipin aku. Besanku mau ke kampusnya." Titah Hanin seenaknya.


"Iyaa.. kamu tenang aja." Balas Yuna


"Maaf yaa merepotkan. Kakek Neneknya pada luar kota semua."


"Udah gak pa_pa." Jawab Oca.


Drrt...drrt..


Ponsel Aqeela berdering.


"Bentar ya... " Pamit Aqeela mengangkat telpon.


📱📲


"Assalamu'alaikum. Iya Kak ada apa?" Sapa Aqeela.


"Wa'alaikum salam. Qee kamu sama Dinda gak?"


"Iya Kak, sama dia. Kenapa?"


"Tolong bilang sama dia nanti suruh ke cafe ya jam 12an."


"Kenapa gak telpon dia sendiri aja?"


"Gak diangkat."


"Ooh.. Kak kebetulan kita hari ini ke kampus kalo sebelum jam 12 selesai aku antar langsung dia ke sana. Tapi kalo sampai jam 12 kita belum datang jangan diarep-arep yaa. Bisa jadi ngantrinya panjang."


"Oh.. okaylah.."


"Ntar aku kabari lagi deh. Bye Kak Vian."


Aqeela menutup telponnya.


📱📱


Aqeela menghampiri geng rempongnya sekalian berpamitan.


"San, aku tinggal dulu yaa..."


"Mbak Yuna.., Mbak Oca... Nitip anak-anak."


kembali ritual Cipika cipiki.


Aqeela melambai.


"Nin, itu mobilnya besan kamu gede banget." Komen Yuna begitu Aqeela mengemudikan mobilnya sambil melambai ke arah teman-temannya.

__ADS_1


"Entahlah, kemarin aku sempet ngintip di carpotnya ada 2 mobil di sana. " Ucap Hanin


"Emang suaminya kerja apa siih?" Kepo si Ocha


"Tanya aja sendiri." Hanin enggan memberitahu meskipun tahu.


******


"Din, henpon kamu mana?" Tanya Aqeela setelah pajeronya mulai membelah jalanan kota Surabaya.


"Di tas."


"Tadi Kak Vian telpon, katanya tidak kamu anagkat."


Dinda sedikit kaget. Ia segera mengobrak abrik isi tasnya.


"Gak ada Qee..." Jawab Dinda panik.


"Inget-inget kamu taruh mana tadi?" Tanya Aqeela.


"Waduuh aku lupa, Qee.."


"Masya Alloh, Din. Tumben?"


"Gak tau, lagi gak fokus aja."


"Emang kenapa?"


"Kak Vian, ngajak nikah secepatnya."


"Uppzz..." Hampir aja Aqeela ketawa kenceng tuuh untung masih bisa nahan.


"Ya udah nikah aja kalee.. Biar gak lupaan dan galau kayak gini. Emang kamu nungguin apa sih Din."


Dinda menarik napas panjang.


"Nunggu lulus."


"Kelamaan... Udah cepetan deeh nikahnya."


"Kamu siih enak semua sudah tersedia. Nah, aku? Aku ini cuma orang biasa. Kak Vian bukan orang biasa. Aku masih minder, Qee."


"Terus jangan membandingkan pernikahanku. Lihat masa lalu aku sama suami aku. Kita pernah terperangkap dalam masa kelam. Mungkin saja kalo waktu itu orang tua kami tidak menyetujuinya, kita masih jadi genkges gak jelas. Percayalah Alloh tahu yang terbaik buat makhkuknya. Kita cukup berdo'a, ikhtiar, pasrah dan istiqomah."


Dinda terdiam mendengarkan penuturan Aqeela.


"Oh yaa.. nanti pulang dari kampus. Kak Vian nyuruh kamu ke cafenya. Nanti aku antar."


"Si kembar gimana?"


"Ada calon besan.." Aqeela tanpa sengaja mengucapkan besan, auto membuat Dinda terpingkal-pingkal.


"Wkwkkkk.... Elo cepet banget jadi tuwa yaa.. Mau punya calon besan segala."


"Diem Kamu.. "


"Uuppzzz... emang siapa yang udah ngegebet cewek."


"Zafran.."


"Haa haa ...emang anak kamu itu ajaib kok Qee..."


"Entahlah... untung saja Mbak Hanin gak rewel orangnya."


"Wkwkkkk... jadi kalian udah pedekate gitu. Lucu banget siiih.."


Tiba-tiba saja galau dan kalut Dinda menguap mendengar celotehan Aqeela tentang besanan.


Aqeela tersenyum melihat sahabatnya itu sudah bisa tersenyum kembali.


*******


"Udah sampe... turun." Perintah Aqeela dengan sewot.


"Napa loe Neng, PMS yaa.. " Goda Dinda.


"Bomat.. " Jiwa bar bar Aqeela muncul kembali.


"Haa haa.. rasanya udah lama banget gak denger celotehan Ibu Negara..."

__ADS_1


"Turun gak?" Ancam Aqeela.


"Iyaa aku turun... Bar bar banget siih."


"Bomat..."


"Inget anak Buk... "


Aqeela segera turun dari Pajeronya. Setelah menklik kunci otomatisnya. Keduanya segera menuju Bank yang berada di lokasi kampus.


"Hai cantik... " Teriak seseorang yang sengaja menggoda Aqeela dan Dinda.


"Qeee..." Bisik Dinda takut.


"Gak usah diliat. Biarin aja..."


"Sombong amat... " Suara itu lagi.


Dinda semakin mengeratkan pegangan tangannya di lengan Aqeela.


Mereka mempercepat langkah menuju kantor kas bank. Mengacuhkan suara yang menganggu telinganya.


Setelah mendapat nomer antrian dan menuliskan jumlah hang harus dibayar. Keduanya menunggu dengan tenang. Beberapa teman menyapa keduanya.


Sambil menunggu antrian mereka basa basi sekedar berbincang dengan teman yang mereka kenal.


Perlu diingat saja, Dinda sekarang mendekati skripsi sedangkan Aqeela baru semester 4. Dia kan nangkring beberapa semester karena cuti hamil.


Setelah urusan pembayaran selesai. Mereka bergegas ke mobil.


"Hai.. sayang... " Seorang pemuda mencegat keduanya.


"Mau apa kalian." Jawab Aqeela ketus.


Dinda sudah gemetar saja.


"Mau kenalan." Ucap pemuda tadi.


Aqeela tidak menggubris ucapan pemuda di depannya.


Aqeela menggandeng Dinda berjalan dari sisi kanan menghindari si pemuda.


"Cantik, kenalin aku Hariis." Harris menarik tangan Aqeela.


Merasa terancam Aqeela langsung melepas menangkis tangan Harris.


Harris yang kaget, malah cekikikan.


Ia kembali menghadang jalan Aqeela dan Dinda sambil bersiul.


Dua orang pemuda lain muncul dari samping kanan dan kiri Aqeela dan Dinda.


Dinda semakin gemetar. Sedangkan Aqeela sudah merah padam tidak karuan.


Ketiganya mengepung Aqeela dan Dinda.


Aqeela memejamkan matanya. Menarik napas dalam-dalam. Hatinya komat kamit merapalkan do'a.


Ya Alloh semoga tenaga aku masih sebaik dulu


"Minggir kalian." Ucap Aqeela masih mencoba menghindari kekerasan.


"Tidak akan. Kalian sudah membuat Harris marah." Ucap pemuda di samping kanan Aqeela.


"Mau kalian apa? Uang? Emas? Henpon? Aku serahkan." Kata Aqeela.


"Kita maunya kalian sayang. Temani kita bertiga." Tukas pemuda di samping kiri Aqeela.


"Mimpi aja kalee..." Teriak Aqeela.


Sedangkan Dinda semakin gemetaran dan mengeluarkan banyak keringat dingin.


"Yuuk Din.." Aqeela menarik tangan Dinda dan mencoba menerobos tiga pemuda yang mengepungnya.


Tak dinyana salah satu dari mereka berusaha menjegal Aqeela.


💗💗💗💗💗💗💗


Aqeela bagaimana yaa?

__ADS_1


__ADS_2