TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Julian N Zafira


__ADS_3

"Iyaaan..." Panggil seseorang dari belakang terdengar seperti suara cewek.


Julian dan Zafira menoleh ke arah pemilik suara.


Di belakang mereka berdiri seorang perempuan berwajah oriental.


cantik dan anggun.


Zafira sampai menelan salivanya menatap wajah cantik di depannya itu.


"Hadeeh.. siapa lagi cewek ini?" Batinnya dalam hati.


"Yan..." Panggil ulang cewek itu.


"Ai? Sama siapa?" Tanya Julian sambil celingukan mencari teman atau siapapun yang bersama Ai.


"Ai..?.Sepertinya pernah tau nama itu deh." Batin Zafira.


"Aku sendirian. Tapi sekarang ketemu kamu. Jadi kan berdua." Jawab Ai masih penuh percaya diri.


"Oh.. iya kalo tidak salah di ponselnya Uncle sering ada panggilan nama Ai. Jadi dia Ai itu. Cantik. Tapi...." Zafira bergumam dalam hatinya sendiri.


Sebuah tarikan menyadarkannya dari lamunan tentang Ai.


"Maaf Ai, hari ini aku hanya ingin bersama calon istriku. Bye Ai." Julian menarik tangan Zafira menjauh meninggalkan Ai yang masih bengong di tempatnya.


"Aaaah...."


Dari jauh Julian masih mendengar jeritan Ai. Tapi cowok itu sengaja tidak menoleh apalagi merespon.


"Bener-bener bikin bad mood aja tuh cewek." Omel Julian.


"Dam, segera ke Surabaya Mall. Bawa Ai pergi jauh dari sini." Dengan berat hati dan untuk mengembalikan good moodnya, Julian menelpon Adam teman sekelasnya yang ia tahu naksir berat sama Ai.


Dengan senang hati Adampun segera meluncur ke lokasi yang disebutkan Julian.


"Memangnya kakak tadi kenapa, Uncle?" Tanya Zafira begitu mereka duduk di sebuah resto salah satu mall tersebut.


"Malas berurusan sama dia." Jawab Julian tanpa semangat.


"Pasti cewek tadi ngejar-ngejar uncle ya?" Bisik Zafira.


"Udah tau nanya."


Zafira hanya terkekeh mendengarnya.


"Nee.. pesan apa gitu. Udah dapat bayangan lapar kan?" Tanya Julian.


"Bayangannya masih malu-malu, uncle." Jawab Zafira.


"Mau makan dimana sih, Fir?" Tanya Julian.


Zafira mengedarkan pandangannya ke seluruh sekeliling lokasi tersebut.


"Uncle, pizza di sana kayaknya enak deh." Zafira menunjuk sebuah resto pizza yang tak jauh dari mereka duduk.


Auto Julian tepuk jidat.


"Kenapa gak minta dari tadi, sih?" Omel Julian.


"Lha kan uncle ngomongnya juga barusan."


"Duh, salah lagi kan?" Julian tepuk jidat lagi.


"Kita ke sana?" Julian menarik tangan Zafira untuk berdiri.


"Maaf mbak, tiba-tiba nyidam istri saya hilang." Pamit Julian kepada salah satu waitress di resto itu.


Auto si Mbaknya bengong sambil menatap Julian dan Zafira bergantian. Dan berhenti tepat di perut Zafira.


Julian sebenarnya tengsin tapi ingin tertawa keras menyaksikan Mbak waitress tadi menatap bingung dirinya dan Zafira.


Sedangkan Zafira mencubit kecil pinggang Julian, membuat cowok itu sedikit geli.


"Uncle resek dan konyol. Mana ada anak usia 13 tahun hamil. Makanya Mbak tadi bingung." Cerocos Zafira sambil masuk resto pizza hasil bayangan laparnya.

__ADS_1


"Ada, mau bukti. Uncle bisa buktikan anak usia 13 tahun bisa hamil." Jawab Julian tanpa dosa.


"Mana?" Tantang Zafira.


"Nanti malam kita jima', uncle yakin 3 bulan kemudian viral ana usia 13 tahun hamil."


Plaak.


Bugh.


Satu bogem. Satu tamparan mendarat di jalur bebas hambatan Julian. Perut dan Pipi.


"Masih mau nambah?" Bisik Zafira sambil. melotot.


"Bole, tapi nanti malam yaa.. gantian kamu yang uncle kerjain."


"Zafira pulang nee.." gadis ini mengancam saking jengkelnya dengan ucapan vulgar Julian.


"Duduk..!" Titah Julian begitu kaki Zafira melakukan sedikit pergerakan.


Zafira kembali ke posisinya, padahal ia hanya menggeser pantatnya capek dengan posii duduknya.


"Seandainya cowok lain yang ngomong kayak gitu, bakal kamu apain?" Selidik Julian.


"Zafira cincang dan jadiin gule." Jawab Zafira menatap tajam ke arah Julian.


"Sadis loo. Masa anak cewek kayak gitu?"


"Terus? Mau Zafira kebiri?"


"Wooi tambah sadis." Julian bergidik juga mendengar jawaban Zafira.


Tidak ia sangka gadis polos itu sudah mengerti istilah-istilah dewasa.


"Nee pesen dulu." Julian menyodorkan menu resto tersebut.


Tanpa membuka buku menu. Zafira langsung menyebutkan pizza yang ia maksud.


Julian hanya geleng-geleng kepala melihatnya.


"Mbak pesanan saya samain aja sama dia, tapi tanpa pinggiran ya mbak." Ucap Julian sambil mengembalikan buku menu kepada waitress.


"Baik. Terima kakak. Ditunggu pesanannya." Ucap Waitress tersebut sebelum meninggalkan meja keduanya.


"Fir, maaf ya. Ternyata Zafira sekarang benar-benar sudah dewasa." Ucap Julian.


Zafira menatap Julian.


"Uncle harap, Zafira selalu menjaga diri. Pertahankan milik kamu satu-satunya. Sampai ada yang menghalalkannya." Sambung Julian.


Zafira tersenyum mendengar ucapan Julian.


"Pasti Uncle. Zafira juga tidak mau mengecewakan orang-orang yang mencintai Zafira."


"Smart girl. Uncle suka itu."


"Jadi beneran tadi itu becanda, kan? Uncle sengaja mau ngeprank Zafira?" Tuduh Zafira.


"Enggak. Kalo Zafira mau Uncle juga gak nolak."


"Uncle mau pilih garpu atau pisau?"


"Buat apa?"


"Mau bikin daging cincang Julian." Sinar mata Zafira sudah berkobar menahan keisengan Julian.


"Bagaimana kalo Zafira uncle halalin?"


Kali ini Zafira yang melotot.


"Aku masih dibawah umur. Uncle bisa kena pasal UU perlindungan anak loo." Jawab Zafira lancar jaya.


"Kok Zafira sampai tau UU perlindungan anak?" Gumam Julian kepo.


"Emang di sekolah ada UU perlindungan anak?" Tanya Julian.

__ADS_1


"Enggak." Jawab Zafira santuy sambil menopang dagunya dengan tangan.


"Terus?" Masih kepo aja Uncle ini.


"Cari tau sendirilah Uncle. Bahkan di dalam UU perkawinan yang baru disebutkan usia minimal perkawinan laki-laki dan perempuan 19 tahun."


Julian manggut-manggut mendengarnya.


"Fir, Uncl bole kepo gak?" Tanya Julian menatap serius ke arah Zafira.


"Boleh." Zafira sedikit menunduk. Ada sedikit gentar menatap mata Julian yang teduh itu.


"Kok Zafira gak nyebutin mahram sih? Waktu uncle ngajak soal pernikahan?" Tanya Julian.


"Maksud, Uncle? Kenapa Zafira gak langsung nolak dengan alasan Uncle dan Zafira muhrim. Gitukah?" Tanya Zafira menjabarkan pertanyaan Julian.


"Iya."


Zafira mengangkat kepalnya.


"Uncle, maaf. Zafira sudah tahu semuanya." Jawab Zafira lirih.


"Semua yang mana?" Julian masih menunkukkan rasa kepo.


"Zafira sudah tahu kalo Uncle bukan adik kandungnya Umma dan Buya. Uncle bukan anak kandungnya Oma, Opa, Bunni atau Ayahkung." Suara Zafira tertahan.


"Kamu marah sama Uncle?"


Zafira menggeleng.


"Tidak."


"Makasii ya, Mbak." Ucapan Zafita terpotong karena pesanan mereka datang.


"Selamat menikmati." Ucap Mbaknya.


"Zafira beruntung punya Uncle yang jagain kita."


"Terus apalagi yang kamu tahu tentang Uncle."


"Hanya itu sih, sama Om Edo. Dia pengacaranya Uncle. Uncle sebenarnya anak orang kaya." Ucap Zafira.


Julian hanya menarik napas panjang.


"Gimana sama Zafir dan Zafran? Mereka udah tau belum?"


"Entahlah. Mungkin belum. Karena Zafira taunya saat Om Edo datang pertama kali ke rumah. Zafira dengar semuanya."


Deg.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


"Kak, anak kakak udah gede sekarang."


"Kakak gak perlu takut. Satu lagi. Zafira sudah tahu kalo aku bukan Uncle kandungnya."


"Makasi yaa.. Yan. Kakak sedikit lega. Ya sudahlah kalo dia sudah tahu."


Laporan Julian kepada Aqeela.


Begitulah, semenjak kedua Kakaknya di Jerman. Julian diminta melaporkan perkembangan si triple.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Teman-teman terima kasih supportnya.


like πŸ‘πŸ»


komen πŸ“‹


votenyaπŸ’―πŸ’―πŸ’―


selalu aku tunggu


Miss You

__ADS_1


__ADS_2