TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Ikhlas itu ...


__ADS_3

Mendengar Bu Dosen memanggil nama kelompoknya, Zafir berdiri dengan tegas.


Seluruh pasang mata menatap dengan tatapan berbeda dari tiap-tiap kepala.


Ada yang merasa penasaran, iba dan cuek.


"Ini Bu, makalah kami," kata Zafir menyerahkan makalahnya ke hadapan Bu Dosen cantik.


"Selamat siang, teman-teman, Bu Chintya." Zafir membuka presentasinya dengan salam.


Dengan wajah yang tidak bisa diartikan Zafir menatap satu per satu wajah rekannya lalu beralih kepada Bu dosen cantik yang dipanggil Chintya.


Berkali-kali ia tarik anak rambutnya ke belakang, mengalihkan nervous karena menjadi yang pertama.


Zafir sengaja membuka peci putihnya, karena pernah sekali ditegur Chintya supaya membuka peci tatkala mata kuliahnya.


Zafir mengingat pesan Chintya, sehingga ia tidak perlu diingatkan kedua kalinya.


"Harusnya hari ini saya mempresentasikan makalah ini dengan gadis yang namanya tercantum di cover kami, Ruth Alexa Firly. Namun, saya hanya bisa menyampaikan permintaan maaf beliau agar kiranya teman-teman dan Bu Chintya memaafkan segala khilaf Fely semasa hidup dan menjadi mahasiswa," ucap Zafir menyayat hati.


Auto Chintya yang awalnya cuek dan tidak mau tahu urusan mahasiswanya, mengangkat kepala menatap wajah Zafir.


Raut wajahnya mendadak berubah takjub, menatap keindahan makhluk Tuhan yang ada dihadapannya.


Menyesal dirinya, baru menyadari ada yang kinclong di kelas ini. Selama ini ia benar-benar tidak ada keinginan menatap wajah mahasiswanya.


Bahkan bisa dikatakan ia tidak pernah mengingat satu per satu nama mereka.


"Saya berharap keikhlasan teman-teman atas kesalahan Fely, jika almarhum memiliki sangkutan apapun dengan kalian sampaikan pada saya. Insya Allah akan saya sampaikan kepada ahli warisnya." Tampak wajah Zafir berusaha tegar.


"Izinkan hari ini saya berdiri atas nama Zafir Athallah Wijaya sekaligus untuk Ruth Alexa Firly," lanjut Zafir menatap Chintya.


Dosen yang terkenal killer itu seakan runtuh pertahanan mendengar opening Zafir. Ditambah pesona wajahnya yang tidak jauh beda dengan oppa-oppa ganteng dari Korea.


(Ketahuan nih, Bu Dosen penggemar Drakor)


"Maaf, saya tidak bisa mengganti nama Fely dengan siapa pun Klkarena makalah itu sudah selesai dua hari setelah Bu Chintya membagi topik," sambung Zafir


"Oke, silahkan," komen Chintya singkat, kembali menunduk sibuk dengan catatannya.


Chintya kembali menjadi sok jaim karena jabatannya sebagai dosen sedangkan Zafir mahasiswanya.


Padahal terang-terangan ia mengagumi wajah ganteng Zafir.


Zafir mulai menjelaskan isi makalahnya sedetail mungkin, bahkan tidak ada satu pun yang ia lewatkan.


Seolah-olah isi makalah itu ada di dalam otaknya.


"oke, ada yang mau bertanya, menyangga atau memberi masukan?" seru Chintya begitu Zafir selesai mempresentasikan makalahnya.

__ADS_1


Seisi kelas terdiam. Tak ada yang berniat mengangkat tangan karena bagi mereka penjelasan Zafir sudah sangat jelas.


"Tidak ada, Bu. Kami sudah jelas," seru Boy selaku pemimpin kelas mewakili rekan-rekannya yang lain.


"Baiklah, cukup. Zafir silahkan kembali ke tempatmu," ujar Chintya membuat seluruh penghuni kelas terhenyak.


Baru kali ini Chintya tidak mendebat hasil kerja mahasiswanya. Entah apa yang ada di hati dosen cantik itu saat ini.


Yang pasti semua tampak speechlass. Tidak ada yang berani membantah karena ucapan Bu Chintya adalah peraturan tidak tertulis.


Jabatannya sebagai Dekan Prodi Manajemen memperkuat apapun yang ia ucapkan.


****


"Fir, elo pake jimat apa sampai Bu Chintya takluk gitu sama kamu?" tanya Agus mahasiswa yang paling dibenci Chintya karena hasil pekerjaannya tidak ada yang pernah beres.


Agus mendekati Zafir begitu Bu Chintya meninggalkan kelas.


"Sontoloyo, gak ada jimat," jawab Zafir sambil ngakak merasa kocak dengan pertanyaan nyeleneh Agus.


"Pake pelet apaan?" tanya Rosa yang duduk di belakang Zafir seakan ikut kepo seperti Agus.


"Kamu kira aku dukun punya pelet," jawab Zafir.


"Atau kamu pake mahabbah apaan, sih? Kok Bu Chintya sampai gak mendebat apapun. Sedangkan makalahku habis ia babat. Aku sampai gak bisa jawab apapun," keluh Rio dengan nada kesal.


"Aku gak pake ilmu apa-apa, gaess. Aku gak punya jimat, aku gak bisa pelet, aku gak ngerti ilmu pengasih macam mahabbah dan sebagainya," jelas Zafir yang mulai dikerubuti temannya sekelas saking keponya.


"Gak ngerti tapi tau, kan ilmu kayak gitu ada," seru yang lain.


Zafir terkekeh mendengarnya. Ia tidak menampik soal mahabbah. Bukan rahasia umum juga, jika dalam Al-Qur'an ada bacaan-bacaan tertentu untuk menenangkan hati seseorang.


Zafir juga diajarkan amalan-amalan agar orang lain tertarik padanya. Namun, belum ada satu pun yang ia uji coba.


"Belajar. Cukup satu kata itu," jawab Zafir singkat.


"Huuuu," seru yang lain dengan ramai. auto tertawalah seisi kelas.


"Gue ke masjid dulu, yaa gaeess ...," pungkas Zafir membuyarkan kerumunan.


"Jaga jarak, awas virus masih berkeliaran!" ucap Zafir mengingatkan temannya yang masih asyik mengghibah berjamaah.


Temanya masih sama, perlakuan Bu Chintya yang tidak mendebat apapun makalah Zafir.


Selama mengajar, belum pernah ada sejarah dosen cantik itu tidak mendebat presentasi mahasiswa.


Zafir adalah mahasiswa pertama yang berhasil mencetak sejarah tersebut. Auto terjadilah hot trending topik antara Zafir dan Bu Chintya.


Berbagai spekulasi bermunculan di otak gesrek rekan-rekan Zafir.

__ADS_1


"Apa Bu Chintya suka Zafir?" bisik seseorang.


"Bisa jadi. Karena yang aku denger Bu Chintya masih jomlo," kompor yang lain.


"Perawan tua, dong," sahut Rani yang kebetulan lewat.


"Tapi cantik, kan?" sambung Rani.


"Kalian jangan sembarangan ghibah di sini. Awas di dengar Bu Chintya, nilai kalian taruhannya, loh!" ingat Boy yang lewat bersama Rani.


"Kok, aku jadi ngeri," ucap mereka bersamaan


"Udah, ah. Yuk, cari tema lain aja!" bisik mereka sambil berlalu meninggalkan Rani dan Boy.


"Boy, bisa-bisanya ya, kamu." Tatap Rani.


Auto Boy hanya terkekeh menyaksikan reaksi teman-temannya dan Rani.


"Makan siang, yuk! Laper, nih. Nanti kita interogasi lagi si Zafir!" ajak Boy


"Enak saja dia bisa lolos dengan tenang dari Bu Chintya. Eh, kita di cincang halus," omel Boy.


"Daging, kaleee dicincang," ledek Rani sembari melangkah meninggalkan Boy.


"Ran, tunggu!" pekik Boy


"Perasaan aku yang ngajak, deh. Kenapa dia yang ninggalin aku, ya?" gumam Boy berjalan lebih cepat menyusul Rani.


****


Di musola, Zafir tiba tepat azan dikumandangkan.


"Bah," sapa seseorang yang tidak ia kenal.


Zafir menatap pemuda yang menyapanya, berusaha mengenali wajahnya. Namun, ia tidak menemukan jawaban identitas pria tersebut.


"Gue Aldi, anak kelas sebelah." Pemuda itu mengenalkan dirinya sendiri menggunakan logat khas Jakarta.


"Gue udah lama liat elo, bahkan tahu panggilan elo dari Boy," lanjut Aldi.


Zafir masih belum merespon apapun, ia berusaha mencerna semua yang diucapkan Aldi.


Apalagi ia baru mengenal pemuda itu, kewaspadaan selalu yang ia utamakan. Bukan suudzon, tetapi mengingat dunia yang selama ini ia kenal dan dikenalkan kedua orang tuanya.


****


Siapa Aldi?


like dan komennya ...

__ADS_1


Oh, iya yang belum mampir ke novel terbaru saya. Mampir, ya. Aku tungguin, like dan komennya. tebar lope-lopenya ....



__ADS_2