
Julian memaksa Hani masuk ke ruangan OSISnya, meskipun tanpa menyentuh. Karena makanan yang ia pesan dibawa begitu saja oleh Julian. Akhirnya gadis itu menyusul langkah Julian dengan memaki tentunya.
Makian halus ala Ning-Ning Mas Kyai Ndalem. Beda banget sama kita-kita. Yang pasti sangat penuh istilah khas Suroboyoan.
"Kebangeten kamu, Yan. Kalo ngerjain liat-liat dong." Maki Hani kesal.
"Justru aku itu nyelametin Ning Hani." Bantah Julian.
"Nyelametin dari siapa?" Hani masih saja tifak terima.
"Dari syaitonirrojim." Jawab Julian sambil ngakak.
Cowok itu meletakkan makanan Hani di sebuah meja.
"Auk aah.. Mending aku makan dulu." Tanpa mempedulikan Julian yang terus terpingkal-pingkal, Hani melanjutkan makannya yang sejak tadi belum ia sentuh.
"Ning Hani, kok sudah di sini aja? Tadi katanya kulian sampe jam 3." Tanya Julian sambil mengangkat satu kaki mengamati Hani yang terus mengunyah tanpa mempedulikannya.
"Gak ada dosen. Dosennya izin." Jawab Hani.
"Terus kamu sendiri, ngapain ke kantin pas jam pelajaran." Selidik ulang Hani.
"Kaki kamu tuuh, gak sopan banget kayak di warung." Omel Hani.
Julian kembali tertawa sambil menurunkan kakinya.
"Kan sudah aku kasi tahu, kalo aku habis menyiapkan kegiatan PHBI besok." Jawab Julian setelah tenang.
"Warungnya pindah." Balas Julian sambil meledek.
Hani hanya mendengus mendengar jawaban Julian tanpa menoleh karena sibuk menikmati makan siangnya.
"Memangnya gak ada teman lain yang bantuin gitu?" Tanya Hani setelah makanannya habis.
"Ada yang tadi di kantin, kalo anak-anak Rohis udah balik ke kelas semua. Hanya kita bertiga aja yang kelaperan karena belum diisi apapun perutnya mulai istrihat pertama tadi." Julian masih menatap Hani yang sudah membersihkan sisa-sisa makanannya dengan tisu.
"Kok ada gitu ya, orang ngomong tapi mulutnya penuh makanan. Gak keselek apa?" Sindir Julian.
Hani yang merasa di sindir hanya diam saja.
"Ning, emang gak pusing gitu kuliah kedokteran?" Tanya Julian sambil menempelkan punggungnya ke tembok.
"Oooh.. jadi mbak ini mahasiswa kedokteran." Dua orang teman Julian masuk membawa sepiring siomay dan sebotol air putih pesanan Julian.
"Mbak kok mau-maunya sih deket sama cowok ABG kayak Julian. Emangnya di kampus gak ada yang lebih ganteng dari cowok edan ini." Seru teman Julian tersebut sambil menunjuk muka Julian.
"Apa kata Lo?" Julian menyingkirkan telunjuk temannya itu.
"Tapi gue salut ama elo deh, Yan. Berani nolak cewek secantik Ai. Sekeren Loli sampai seseksi Tiara. Belum lagi akhwat-akhwat Rohis yang sering lirik-lirik kamu. Semua cuma di kedipin lalu ditinggalin tanpa ngomong apapun." Ucap teman Julian tadi.
"Ternyata sukanya sama yang lebih matang, bro." Sambung yang satunya lagi.
"Kalian bisa diem, gak?" Berang Julian
"Uwik, Bisa juga elo mengaum kayak singa. Kita kira elo slowly kayak itik."
Tawa lebar kedua teman Julian kembali membahana.
"Udah, ngoloknya?" Tanya Hani dengan santai.
Ketiganya menatap Hani heran.
"Kalo udah bayarin sekalian makan aku." Ucap Hani polos.
"Lha mbaknya mau kemana?"
"Mau tidur aja di mobil.Di sini gerah gak ada ACnya." Kata Hani sambil berjalan keluar ruang OSIS.
Saat keluar Hani sempat berpapasan dengan seorang gadis yang menatapnya keheranan dan hanya diberinya senyuman.
__ADS_1
"Cewek tadi siapa, Gong?" Tanya cewek yang barusan masuk.
"Bininya Julian." Jawab cowok yang dipanggil Gong sambil nyengir bersiap kalo Julian membantah atau mengomel.
"Yang bener aja." Cewek itu langsung duduk di bangku yang tadi ditempati Hani.
"Yan, elo gak lagi bercanda kan?" Tanya si cewek dengan mode penasaran pake banget.
Julian hanya mengedikkan bahu.
"Yan, gue serius nee." Kepo si cewek dengan penuh harap-harap cemas.
"Kalo bener. Pantesan elo gak mau sama Si Ai, Si Loli, Si Dona dan cewek-cewek antik lain di sini. Ternyata kayak gitu tipe cewek idela ketos kita ini." Cerocos cewek iti tanoa henti.
"Fan, elo ngomong ama siapa sih?" Tanya si Gong.
"Ama Iyanlah Gong."
"Tapi perasaan darintadi elo ngomong sendiri deh. Iyan juga anteng sama siomaynya."
"Bagong elo bisa diem gak?" Maki si cewek.
"Reng, si Petruk mana?" Lanjut si cewek, menoleh pada cowok satunya yang ia panggil Reng.
Kepanjangan dari Gareng kali ya?
he he he ..
"Kenapa? Kangen Lo ama Petruk? Dia lagi kabur dari matpelnya Bu Ais." Jelas Si Gareng.
"Beneran deh tuh anak. Pengen gue pecel aja." Umpat si cewek.
"Perasaan ada yang pengen pecel nee." Seorang cowok masuk.
"Nah itu si Petruk." Tunjuk Bagong.
"Truk, gantiin pulsa gue cepet!" Omel Si cewek dengan juteknya.
"Hadeeeh.. cewek gadungan ribut melulu. Untung cuma utang 10rebu." Umpat yang namanya petruk.
"Gue balik dulu ya. Kasiyan yang nungguin gue dari tadi." Pamit Juluan
"WAIT, Julian ada yang nungguin. Gosip baru nee.." Sahut Petruk.
"Ntar kalo si Semar datang, tolong sampaikan datang lebih pagi. Gue duluan. Kalo sempet gue balik. Kalo kagak yaa.. wassalam aja. Bye." Julian langsung keluar ruangan membawa bekas piring dan gelas yang Hani dan ia pakai.
"Beneran Iyan ada yang nungguin?" Kepo si Petruk.
"Cantik. Pake banget." Jawab si cewek gadungan.
"Mahasiswa kedokteran, Bro." Sahut Gareng.
"Siapa tau itu sodaranya Julian." Balas Petruk sambil memeluk pinggang cewek gadungan tadi.
"Habis maki-maki sekarang sayang-sayangan. Kagak jelas kalian berdua." Celoteh Semar yang hanya disenyumi keduanya.
"Julian kagak punya sodara lagi, Kakaknya udah meried. Ponakannya masih kecil-kecil. Siapa lagi kalo bukan....." Jawab Gareng.
"Dasar tukang ghibah." Potong Semar yang tiba-tiba masuk.
Auto Petruk, Gareng dan cewek gadungan menoleh ke sumber suara.
"Agenda besok gimana?" Tanya Semar mengalihkan topim ghibah teman-temannya.
"Bagong mana?" Tanya Semar celingukan mencari Bagong.
"Gue di sini!" Sahut Bagong yang baru keluar dari kamar mandi.
"Sini Loo.. Besok acaranya kayak apa? Persiapannya yang ready apa aja? Biar Gue bisa segera laporan sama Julian."
__ADS_1
💗💗💗💗💗
Semar, Gareng, Petruk dan Bagong adalah nama Punokawan.
Bukan nama sebenarnya teman-teman Julian tadi.
Hanya saja karena mereka berempat selalu bersama-sama akhirnya Julian menjuluki keempatnya nama-nama Punokawan.
Semar nama aslinya Alan Wicaksono. Paling bijaksana diantara mereka berempat.
Gareng nama aslinya Budi Santoso. Memiliki hidung bulat persis Gareng.
Petruk nama aslinya Candra Kusuma. Yang istimewa darinya hanya hidung mancung dan wajah putihnya.
Bagong nama aslinya Deni Prayoga. Paling gembul tapi wajahnya lumayan imut
Sedangkan cewek gadungan, adalah cewek tomboy bendahara OSIS yang super kepo tapi lihai dan teliti.
Nama kerennya Andhini Prameswari. Orang Jawa tulen. Dan satu-satunya cewek yang lari duluan kalau Julian diserbu fansnya.
Apalagi sampai mendekatinya hanya untuk mencari informasi tentang Julian.
Andhini selalu menutup akses tentang Julian. Tapi bukan berarti Andhini menyukai Julian. Ia malah berpacaran dengan Petruk.
Yang menurut Andhini mirip Oppa-Oppa Korea.
💗💗💗💗
"Kok udah di sini?" Tanya Hani begitu Julian masuk ke jok kemudi.
"Udah jam pulang." Jawab Julian dengan santainya.
"Mau langsung pulang?"
"Menurut Elo?" Jawab Hani menirukan logat teman-teman Julian tadi.
"Ciyee.. ciyee.. Udah pinter bahasa gaul aja." Ledek Julian.
"Biar Elo gak malu, jalan ama Noona-Noona cantik kayak aku.'
Mendengar jawaban Hani auto Julian ngakak, sambil mengarahkan kendaraannya menuju Pesantren Aqeela.
"Baiklah Noona. Oppa siap mengantar Noona kemana saja." Goda Julian
"Wleeekk..." Seru Hani sambil melet.
Tak urung kedua tertaww bareng.
Sejak Aqeela punya Aira dan Ara, Hani diminta menggantikannya mengisi beberapa kajian dan kelas diniyah.
Aqeela meminta Hani tinggal di Pesantren saja. Tapi permintaan wanita itu baru diiyakan sebulan yang lalu.
Itupun demi menjalankan misi status palsu Julian.
Jadinya tiap hari, ia harus antar jemput Julian. Karena nebeng ABG yang gantengnya kebangetan.
Kan yang dipakai mobilnya Julian. Jadi Hani harus rela mengantar Julian lebih dulu ke sekolahnya yang lebih dekat dengan Pesantren Aqeela daripada kampusnya.
💗💗💗💗
Upss.. Sory yaaa.
Partnya gak bikin baper kan?
Oh ya maaf yaa yg kmrn kedoubelan up.
Karena pas mau nulis part yang ini.
Di draft masih ada partnya Zafira.
__ADS_1
Pas mau di hapus, Akunya ketiduran. Jadi yaa udah deh**...