TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Bertemu Pak Han


__ADS_3

"Rapi sekali, Beb?" Tanya Desta melihat istrinya sudah rapi. Padahal hari ini hari libur sekolahnya si triple.


"Lupa ya Bae, kemarin kan aku sudah cerita." Aqeela mengingatkan suaminya.


Desta mengingat kembali.


"Aku kok lupa. Seingatku kemarin kita gulat di kasur doang." Ucap Desta sambil menatap Aqeela.


"Bae.. Gak usah godain aku deh."


"Serius, aku lupa. Kemarin izin apaan sih ke aku."


Aqeela tepuk jidat.


"Bae, hari ini aku mau ketemu Pak Han sama Pak Jamal di sekolah. Siapa tahu bisa ketemu Ustadz Zainal dan Ustadzah Dewi. Dua orang itu sekarang kayak artis susah ditemuin."


"Astaghfirulloh. Ya Alloh. Haa ha haa..." Desta yang menyadari kelupaannya hanya bisa beritighfar dan terkekeh.


"Aku antar." Titah Desta seketika.


"Anak-anak?"


"Nanti anak-anak aku titipin Bunni-nya. Hee hee hee.."


"Gak ngantor?"


"Abis itu ngantor. Ikutlah sesekali ke kantor. Temani aku."


"Gak ganggu gitu?"


"Enggak, sayang. Lagian sepertinya hari ini gak ada yang harus aku temui."


"Okaylah. Permaisuri tidak akan menolak titah Raja." Ucap Aqeela sambil mengecup kening Desta.


"Siap-siap deh, Bae. Ntar kesiangan. Kasiyan Pak Han dan Pak Jamal."


"Dua orang tua itu kenapa sih harus nyuruh kamu kembali?" Gerutu Desta.


Aqeela merasa tidak perlu menjawab pertanyaan suaminya. Karena ia tahu gerutuan Desta itu hanya ungkapan kekhawatirannya.


💗💗💗💗💗💗💗


Setelah menitipkan si kembar kepada Bunni dan AyahKung. Tentunya tetap ditemani Bu Erna, untuk meringankan beban Bunni.


Aqeela dan Desta segera meluncur ke gedung SMA mereka dulu.


Gedung penuh kenangan bagi mereka.


Desta menyapa seoranga satpam yang berjaga di sana.


"Pagi, Pak. Kita mau ketemu Pak Han." Sapa Desta. Sepertinya seorang satpam baru karena ia belum pernah melihat sebelumnya.


"Sudah ada janji?"


"Sudah."


"Mas Desta...." Tiba-tiba sebuah suara menyapanya.


"Pak Soleh..., saya parkir dulu ya Pak." Balas Desta sambil memarkirkan X-pandernya.


Desta dan Aqeela segera menyapa Pak Soleh setelah turun dari mobil.


Setelah bercengkerama sebentar, keduanya pamit menemui Pak Han.


💗💗💗💗💗


Setelah dipersilahkan masuk, Aqeela dan Desta masuk ke ruangan Pak Han.


"Kalian kenapa sih, harus datang berdua?" Komentar Pak Han begitu Aqeela masuk ditemani Desta.


"Lha emang salah gitu, Pak?"

__ADS_1


"Enggak, heran saja. Kayak gak ada kerjaan lain."


"Ya udah kita pulang, Beb." Ajak Desta menarik tangan Aqeela keluar ruangan Pak Han.


Walaupun sebenarnya ia tahu Pak Han bercanda.


"Woi, posesif dan nesu-an banget sih kamu." Ledek Pak Han.


"Duduklah dulu, kasiyan itu Aqeela kamu tarik kayak gitu. Masih saja bar-bar kayak anak kecil." Omel Pak Han ke Desta.


Desta akhirnya kembali, dan duduk di sofa yang ada di ruangan Pak Han.


"Mau minum apa?" Pak Han menawari tamunya minum.


"Uwiik kayak resto aja, kita ditawari minum." Oceh Desta sambil meledek Pak Han.


"Bocah gak tau diri." Maki Pak Han.


"Aku udah bukan bocah lagi lo, Pak. Apa Bapak lupa. Aku udah menghasilkan 3 anak kembar." Desta menggoda Pak Han.


"Tetep aja, bocah. Inget kamu dulu dari sini. Tukang bikin kacau. Tiga tahun tawuran melulu." Pak Han mengingatkan sepak terjangnya sewaktu sekolah dulu.


Desta dan Aqeela hanya tersenyum lebar mendengarkan kenangan Pak Han tentang Desta.


"Qee, kamu balik ngajar lagi deh." Gurauan Pak Han terhenti.


Beliau beralih ke Aqeela, karena tujuannya memang untuk itu.


"Aku kasiyan sama Pak Jamal, Ustadzah Zainal dan Ustadzah Dewi. Mereka kelabakan terus." Terang Pak Han


"Lha terus saya ngajar apa, Pak? Kuliah aja gak lulus-lulus." Ucap Aqeela sambil terkikik. Mengingat masa kuliahnya yang banyak cutinya.


"Terserah, kamu mau dimana?" Pak Han malah memberi peluang ke Aqeela.


"Pak, jangan bikin saya ge-er deh. Gak baik terlalu membumbung tinggi orang." Elak Aqeela.


"Pak Jamal kemarin ngotot kamu diajak ke BK. Zainal Sama Dewi ngotot nyuruh kamu menggantikan jam mereka yang kelebihan. Terserah kamu deh. Mau yang mana? Ada banyak guru yang kelebihan jam mengajar mereka di sini." Pak Han tampak serius.


"Pak Han kenapa ya, Bae?" Bisik Aqeela.


"Entahlah?" Jawab Desta sambil menaikkan turunkan bahunya.


"Aku panggil mereka dulu."Ucap Pak Han.


Dengan ponselnya, lima menit kemudian ketiga orang yang mereka kenal masuk ke ruangan Pak Han.


"Aqeela..." Sapa Ustadzah Dewi.


"Ust..." Mereka saling berpelukan.


"Jahat banget sih, gak pernah main ke sini."


"Rempong Ust, ngurusin 3 balita yang super jahil dan iseng." Ucap Aqeela.


"Iya siiih, aku yang punya satu aja kelabakan. Apalagi kamu." Ustadzah Dewi ikut merasakan kerepotan Aqeela.


"Hai anak muda, tambah tua aja." Ledek Ustadz Zainal.


"Hmm..." Sahut Desta, tapi tetap saja mereka saling melepas rindu.


"Terus aku harus peluk siapa?" Tanya Pak Jamal dengan muka polosnya.


"Pak Han..." Seru Aqeela, Desta, Ustdzah Dewi dan Ustadz Zainal.


"Haa haa haa.. Enggak deh lebih baik aku di peluk Pak Soleh daripada Pak Jamal." Ucao Pak Han dengan kocak.


"Huu.. tahu gitu aku gak mau diminta menghubungi Aqeela." Pak Jamal protes.


"Ya udah sini deh Pak, duduk dekat saya aja. Biar ketularan ganteng dan punya istri secantik Aqeela."


"Bocah gak jelas.. aku udah nikah. Masa di suruh nikah lagi." Omel Pak Jamal sambik duduk di sebelah Ustadz Zainal.

__ADS_1


"Sekarang ada Aqeela katakanlah mau kalian." Ucap Pak Han.


"Gabunglah bersama kami lagi. Kami tidak meminta full. Cukup seminggu 2 atau 3 kali." Permohonan Ustadzah Dewi seakan mewakili semuanya.


"Jujur kita kewalahan." Lanjut Ustadzah Dewi.


"Banyak yang berubah selepas kalian tinggal." Sambung Pak Jamal.


"Bae, bagaimana?" Aqeela menoleh ke arah suaminya.


"Aku sih terserah Aqeela. Cuma kami minta kelonggaran jika nanti Aqeela harus datang membawa tiga kembar kami." Ucap Desta seakan ia tahu keinginan Aqeela.


"Kami tidak akan mempermasalahkannya. Bagaimana Pak Han?"Kata Ustadz Zainal.


"Aku percaya Aqeela bisa walaupun dengan tiga kembarnya." Sahut Pak Han.


"Tuuh kan... Apalagi coba."


"Besok kami kabari ya Pak Han. Karena saya juga harus kuliah. Saya akan mencocokan dengan jadwal kuliah saya selanjutnya." Aqeela menjawab dengan bijak.


Bagaimanapun ia harus merundingkan dengan suaminya, pengasuh anaknya dan Orang tua serta mertuanya.


Bagi Aqeela mereka juga banyak berperan selama ini bagi dirinya dan suaminya.


Dan bagi Aqeela kembali bergabung ke sekolah bukan tentang uang. Suaminya sudah mencukupi semua kebutuhannya.


Ini hanya sebatas menyalurkan kebutuhan hatinya bertemu dengan banyak orang dan menemui hal baru.


💗💗💗💗💗💗💗


"Bae cari minum yuk, aku haus neee.." Ajak Aqeela.


"Kemana? Mini market?" Tanya Desta.


"Itu.. kayaknya itu penjual es cao." Rajuk Aqeela.


"Serius? Mau es cao yang itu." Desta menunjuk ke sebuah gerobak bertuliskan Caola.


"Iya..."


Desta menghentikan mobilnya tepat di tepi jalan sebelah MI Abu Mansur. Di Lidah Wetan.


Aqeela turun dan langsung memesan es cao.


Seorang lelaki dan wanita nampak melayani Aqeela dengan ramah. Mereka terlihat seperti sepasang suami istri.


"Bang Anton?" Sapa Desta.


Lelaki yang sedang melayani Aqeela langsung mengangkat kepalanya.


"Mas Desta?"


"Kok di sini?" Desta terlihat bingung.


"Iya Mas, ini juga usaha kami. Kenalkan ini istri saya." Bang Anton memperkenalkan istrinya.


Aqeela menyalami istri Bang Anton. Dan keduanya langsung terlibat percakapan yang hanya mereka berdua yang paham temanya.


"Bang, aku buatin 50 cup untuk karyawan kantorku." Desta langsung memesan es cao Bang Anton.


"Laris terus yaa.. Bang." Do'a Desta.


💗💗💗💗💗💗💗💗


Like


komen


vite


rate

__ADS_1


ya.. gengs..


__ADS_2