
Julian keluar dari mobil di ikuti keluarganya yang lain.
Dari loby sudah terlihat Gus Burhan menyambut mereka.
Setelah ritual cium tangan, Gus Burhan membawa rombongan Julian ke ruang ICU.
Di salah satu brankar terbaring Hani dengan berbagai selang di tubuhnya.
Julian sampai pangling dengan keadaaan temannnya itu. Wajahnya semakin tirus, tubuhnya semakin kurus. Tak ada lagi tubuh yang dulu tetlihat seksi walau tertutup.
Yang Julian ingat hanya senyumannya. Hani tersenyum menyambut kedatangan Julian.
Matanya membuka menatap dalam pria itu.
Iya Hani meskipun terbaring di ICU, tapi kondisinya sadar.
Penyakitnya akutnya yang membuat tubuhny semakin menyusut.
Setelah berbincang sejenak dengan Gus Burhan, Julian meminta ba'da isya untuk segera melalukan ijab kabul.
Gus Burhan san Ning Izza menyambutnya dengan uraian air mata.
💗💗💗💗💗
Ba'da isya.
Brankar tempat berbaring Hani di tata sedemikan rupa. Tentunya dengan izin para dokter.
Gus Burhan dan Julian berhadapan diantara Hani.
Desta dan Aqeela berdiri di samping Julian. Beberapa dokter dan perawat menjadi saksi keduanya.
Tak ada penghulu, karena Gus Burhan sudah terbiasa menikahkan pasangan pengantin. Tapi kali ini ia menikahkan putrinya.
Satu pernikahan yang sah dimata agama. Tapu tidak dimata negara.
Julian mengeluarkan sejumlah uang sebagai mahar pernikahannya.
Jangan berharap yang lebih, bahkan seserahan saja tidak ada.
Dengan satu kali tarikan napas dan ucapan sah dari saksi. Julian dan Hani resmi menjadi pasangan suami istri. Tepat pukul 21.00.
Setelah acara, Aqeela dan Desta serta rombongannya pamit pulang ke Surabaya.
Kecuali Julian, ia akan menemani Hani sebentar.
Selesai ijab kabul dan keluarganya pamit Julian meminta Gus Burhan dan istri untuk pulang le rumah. Karena ia akan menjaga Hani.
💗💗💗💗
Pagi setelah sholat subuh, Julian menemani Hani dengan izin dokter.
Sorot mata wanita itu terlihat lebih cerah daei hari kemarin.
Senyumnya juga mengembang sangat sempurna.
Julian mengelus kepala wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya itu.
"Terima kasih," Ucap Hani lirih bahkan Julian sampai membaca bibirnya saat ia membuka mata.
"Yan, bisakah kamu mengajakku keluar?" Aku bosan ingin jalan-jalan keluar." Pinta Hani.
Julian menatap ragu istrinya.
"Ayoolaah!" Rengeknya.
__ADS_1
"Akan aku bicarakan dulu dengan dokter!" Akhirnya Julian mendatangi dokter jaga.
Setelah berbincang dan mengatakan keinginan istrinya.
Dokter bername tag Wira itu tidak langsung bisa memutuskan.
"Kita periksa kondisi Hani, dulu!" Wira mendahului Julian mendekati brankar Hani.
Dengan teliti Wira memeriksa kondisi Hani. Pria itu terkadang tersenyum, terkadang mengerutkan dahi bahkan sempat membuka lebar mulutnya.
"Mas, kita tunggu satu jam lagi. Jika kondisi pasien sama seperti barusan saya izinkan membawa keluar tapi tidak bole terlalu lama. Cukup satu jam saja," seru dokter Wira.
Julian mengangguk mengerti.
"Baiklah."
Sambil menunggu satu jam Julian kembali le samping Hani, melantunkan ayat al-quran.
Hani memejamkan mata mendengarkan lantunan ayat Julian yang begitu merdu dan menghanyutkan pendengarnya.
Satu jam kemudian. Dokter Wira menempati janjinya. Ia balik ke brankar Hani. Memeriksa kondisi wanita tersebut.
"Mas, ini luar biasa. Kayaknya setelah menikah dia terlihat lebih semangat. Organ tubuhnya berjalan dengan sangat baik. Beda dengan beberapa hari lalu. Jantungnya sempat melemah," tutur Wira dengan takjub.
Julian hanya menyimak karena memang tidak tahu kondisi Hani sebelumnya. Bahkan Hani sakit aja Julian tak pernah tahu. Karena seprtinya gadis itu merahasiakannya.
Setelah semua alat yang melekat di tubuhnya lepas, Hani di dudukkan di sebiah kursi roda oleh Julian.
Dengan hati-hati Julian merapikan kerudung Hani. Aksi spontan Julian ini membuat Hani merasakan sedikit gelenyer aneh di tubuhnya.
Ada sedikit sengatan listrik di sana. Apalagi bagi perempuan seperti Hani, yang tidak pernah disentuh lelaki manapun.
Perlakuan Julian membuatnya kagum, kayak drama-drama korea yang ia tonton.
Walau hanya merapikan jilbab, bagi seorang wanita adalah aksi tersebut bisa menumbuhkan banyak cerit lain.
"Yan..." Panggil Hani.
"Iyaa...." Julian seperti bingung menyebut Hani dengan panggilan apa.
"Panggil aku seperti biasanya," Ucap Hani seakan tahu kebingungan Julian.
"Baiklah!" Jawab Julian.
"Yan..." ulang Hani.
Pria itu berjongkok mensejajarkan pandanganya dengan Julian.
"Yan, izinkan aku menunaikan kewajibanku sebagai istri walau sekali." Hani mengankat jari telunjuknya.
"Tapi.. Han?"
Hani meletakkan jari telunjukkan di bibir Julian.
"Aku akan melakukannya dengan caraku. Dan kamu tidak diizinkan menolaknya!" Tegas Hani.
"Baiklah apa yang akan kamu lakukan?" Julian sudah bingung dengan kemauan Hani, bermacam halu masuk ke otaknya.
Hani menelangkupkan kedua tangannya di pipi Julian yang kini sudah sah sebagai suaminya. Julian merasakan kedua tangan itu gemetar saat berada di wajahnya.
Julian berinisiatif mengenggam jemari Hani. Melepas satu tangannya dan mengecup punggungnya berkali-kaki dengan lembut.
"Sebentar!" Julian mendorong kursi roda Hani menuju ke suatu tempat.
Ruang tunggu penjaga pasien ICU. Kebetulan di sana setiap penjaga di sediakan satu ruangan khusus di balik brankar pasien. Namun terhalang dinding dan kaca.
__ADS_1
Di dalam ruangan tersebut Julian mendekap Hani dengan lembut. Hani membalas pelukan Julian.
Julian mengecup kening Hani lembut. Kemudian beralih ke mata, hidung, pipi dan bibirnya.
Aksi yang awalnya lembut berubah lebih panas dan semakin hot.
"Han, sampai sini aja yaa...!" Julian mengakhiri ciuman panasnya karena bagian bawahnya sudah tidak bisa diajak kompromi jika diteruskan.
Julian juga lelaki normal kali.
Hani mengangguk pelan.
"Maaf ya Yan." Bisiknya.
"Lakukan kewajibanmu jika sudah sehat," Bisik Julian dengan senyum. Padahal sedari kemarin di otaknya hanya ada Zafira.
"Aku mungkin hanya bisa memberikan ini." Hani memberikan banyal ciuman di wajah Julian.
"Selebihnya aku tak tahu," ucapnya sedih.
Julian begitu memperhatikan setiap detail kondisi Hani, meskipun tak ada cinta di hatinya. Namun mereka pernah dekat. Jadi Julian tidak kesulitan beradaptasi dengan Hani sebagai suami.
Setelah satu jam, Mereka kembali ke ruang ICU.
💗💗💗💗
Wajah Hani begitu teduh saat Julian meninggalkannya sejenak untuk menunaikan kewajibannya sholat isya.
Saat kembali ruang ICU sudah ramai. Julian dipanggil seorang perawat.
"Mas.. Mbak Hani kritis." ucap perawat tersebut.
Julian yang masih belum sadar dengan ucapan sang perawat diam mematung.
"Mas ayoo segera dipangil doker!" Perawat itu akhirnya menyeret tangan Julian dengan paksa.
"Mas, maaf tadi kami cari!" ucap dokter bername tag Yudo beda dengan dokter yang tadi pagi.
Meski sama-sama ramah tapi dokter Wira lebih santun daripada Yudo.
"Pasien tadi sesak napas, sudah kami bantu dengan oksigen dan beberapa obat lainnya." Yudo menatap Julian.
"Ini ada surat pernyataan yang harus ditanda tangani intinya jika nanti terjadi sesuatu yang gawat kami diizinkan melakukan tindakan medis." ucap Yudo.
Selang beberap jam kemudian.
Yudo memanggilnya dan meminta Julian mendampingi Hani.
Napas Hani sudah tersenggal-senggal naik turun dengan berat.
Julian segera memeluk dan membisikkan banyak kalimat toyibah ke telinga Hani.
Tiit tiit...
"Tepat pukul 21.23 waktu kematian pasien,"
"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un."
💗💗💗💗
Maaf yaa gaess.. aku harus tulis ini.
Aku masih ingin di bully kayak e ini ðŸ¤
Like yaa komen dan Vote
__ADS_1
cara baru vote. 😘