TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Alim Tapi Tukang Palak


__ADS_3

Baru juga Zafir menyelesaikan makannya. Malik dan Devan tiba-tiba duduk di meja yang sama dengannya.


"Oh, jadi begini sekarang kelakuannya?" oceh Malik sembari memukul punggung Zafir.


"Udah berani berduaan ama yang cantik-cantik," Devan mengedipkan satu matanya pada Zafir.


"Ah, paling-paling dia juga kebelet. Pengen nyusul Zafran sama Zafira," ledek Malik karena ocehannya tidak digubrik Zafir.


Sedangkan Devan hanya terkekeh mendengar Malik yang terus meledek Zafir.


"Elo juga, kenapa mau-maunya diajak cowok jones ini!" tunjuk Malik ke Fely.


"Elo kenal dia, Lik?" tatap Devan keheranan.


"Kenal, kemarin malam dia bahkan nginep di rumahnya Zafir," jawab Malik kembali membuat Devan menatap lekat mantan adik kelasnya itu.


Fely menatap Zafir tidak nyaman, apalagi dengan ledekan Malik dan Devan.


"Kita pergi dari sini, Fel! Mereka berdua memang biang resek. Maklum belum move on abis patah hati," Zafir bangkit mengajak Fely keluar dari kantin.


"Jangan lupa bayar makananku sama Fely. Itu sanksi kalian ngeledek dia!" Omel Zafir sembari menarik tangan Fely tanpa sengaja.


Tujuannya hanya mengamankan hati Fely dari kedua biang onar sahabatnya. Nyatanya malah mendapat tatapan aneh dari seisi kantin.


Bagaimana tidak, cowok sedingin Zafir menggandeng keluar seorang Fely. Gadis yang terkenal tomboy dan tidak tahu aturan.


"Fir, bisa lepasin tangan gue gak?" pinta Fely menahan malu karena mereka menjadi pusat perhatian sejak dari kantin tadi.


"Astaghfirullah," Zafir langsung melepas genggangam tangannya.


"Maaf ya Fel, bukan maksudku..."


"Udah gak pa-pa. Tadi itu makanannya belum aku bayar," Fely mengingatkan.


"Udah biar dibayar duo onar itu!" ucap Zafir.


"Waduh... ternyata alim-alim tukang palak juga nih cowok!" batin Fely menahan geli.


"Mau langsung pulang?" tanya Zafir menatap Fely datar. Ada rasa bersalah di dadanya karena sudah menarik tangan teman sekelasnya itu.


"Iya. Udah siang juga. Bentar lagi aku juga kerja," jawab Fely


"Kerja?" beo Zafir.


"Iya Zafir, aku kerja." Zafir mengernyitkan dahinya.


Baru kali ini ia mendengar bahwa gadis secantik Fely harus bekerja.


"Dimana tempat kerja kamu?" tanya Zafir.


"Di cafe deket sini," jawab Fely.


"Aku antar!"


🌹🌹🌹🌹


Sore ini, di kediaman Aqeela dan Desta.


Pasutri ini duduk berdampingan dengan kepala Aqeela yang menyandar di bahu Desta.


Jemari keduanya saling bertaut erat, seakan melepas segala kerinduan di hati keduanya.


"Buya..." panggil Aqeela.

__ADS_1


"Hmmm...." respon Desta.


"Gak terasa kita udah semakin tua aja," keluh Aqeela.


"Usia bole bertambah, Beb. Tapi posisi aku di hatimu tidak bole bergeser. Apalagi gerakan lincahmu ingat tidak ku izinkan berhenti," goda Desta.


"Iih... kok nyambung ke sana sih!" protes Aqeela .


Desta auto ngakak sembari mengelus kepala istrinya yang tertutup kerudung.


"Kak...." panggil Aqeela seolah membawa keduanya ke masa dua puluh dua tahun silam.


"Iya Qee..."


"Kak, istirahatlah di rumah lebih lama. Aku merindukan masa-masa kita dulu," lirih Aqeela.


"Biarkan Zafir mengurus perusahaan!" lanjutnya wanita berhijab orange itu sembari mengeratkan genggamannya.


Desta menyamankan duduknya, agar kepala Aqeela bisa ia tahan lebih lama.


"Kamu yakin?"


Aqeela mengangguk masih dengan menyandar.


"Gak akan bosan aku di rumah terus?"


Bugh... Satu pukulan telak mengenai lengannya.


Tidak sakit sih, tapi njarem.


Lelaki itu hanya meringis menahan perlakuan istrinya.


"Ngaco kamu!" seru Aqeela.


"Al sebentar lagi SMA, Si twins sudah sepuluh tahun. Di rumah sepi," keluh Aqeela.


Terbiasa di kelilingi enam anak yang kini beranjak dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing membuatnya banyak berdiam.


Tanpa aktivitas menyenangkan bersama putra putrinya.


Desta mendengarkan semua keluh kesah istrinya dengan seksama. Agar tak terlewatkan satu katapun.


"Qee..." Satu kecupan mendarat mulus di kening Aqeela.


"Apa kamu ingin kembali ke sekolah?" lirih Desta seakan memahami kesepian sang istri.


Aqeela menggeleng.


"Nusantara sekarang sudah di ambil alih orang baru semua, Pak Han sudah pensiun. Ustadz Zainal mutasi, Ustadzah Dewi juga sibuk di pesantrennya. Pak Jamal ia sudah mendekati masa pensiun juga." ucap Aqeela malas.


"Sampai kapan kamu ingin aku gak ngantor?" pancing Desta.


"Seterusnya!" tegas Aqeela.


"Beb, gak bisa segitunya juga kaleee.... Zafir masih kuliah. Gak mungkin ia bisa full!" bujuk Desta.


"Tapi kamu dulu..."


"Aku dan Zafir beda, cinta..." potong Desta yang berusaha menyamakan dirinya dan Zafir.


"Zafir sampai sekarang masih single, aku dulu pas seusia Zafir udah punya kamu. Zafir kuliah di kampus negeri dengan jam ketat pagi hari sedangkan aku dulu ambil kelas khusus," jelas Desta.


"Kita jalani step by step dulu. Toh, Zafir sudah sering membantu Buya di kantor," sambung Desta.

__ADS_1


Aqeela terdiam menyadari keegoisannya.


"Maaf ya Bae,"


"Sudahlah..."


"Aish... kalian berdua, kerjaannya pacaran melulu..." Tiba-tiba Zafir muncul di hadapan mereka.


"Bagus masuk gak salam, nyelonong aja?" omel Aqeela.


"Astagfirullah, Zafir salam sampai teriak-teriak. Tidak ada yang respon. Untung urat Zafir ciptaan Allah, jadi masih aman di tempatnya," balas Zafir kesal.


"Ternyata penghuninya lagi pacaran di sini. Apa kalian sengaja pamer gitu? Mentang-mentang anaknya jomblo,"


Desta tertawa keras mendengar ucpan anak kesayangannya itu.


"Gak bole sirik sama orang tua!" seru Desta.


"Enggak sirik Buya. Tapi kalian berdua tuh yang gak tau tempat!"


Desta menatapa Zafir prihatin.


"Tapi kasiyan juga sih kamu. Kapan lakunya?" goda Desta.


"Auk aah..." Zafir meninggalkan kedua orang tuanya yang masih melanjutkan bermesraannya.


"Buya kalo godain anak kira-kira napa!" protes Aqeela.


"Umma juga kalo nasehatin anak ingat masa muda kita dulu napa!" balas Desta.


"Hu.. anak dan bapak sama aja!"


Suara tawa kembali terdengar di ruangan keluarga mereka.


🌹🌹🌹🌹


Sedangkan Zafir.


Begitu masuk kamar ia melempar begitu saja ranselnya ke kasur.


Pemuda itu masuk kamar mandi sekedar mencuci tangan dan kakinya. Kebiasaan yang diajarkan Umma sejak dini masih tertanam jelas di hatinya.


Umma sejak ia kecil tak pernah lelah mengingatkan ketiga kembarnya menjaga kebersihan.


Terutama saat pulang dari bepergian harus terbiasa mencuci tangan dan kaki sebelum masuk rumah.


Tapi berhubung saat ini ia mengenakan sepatu jadi, cuci tangan dan kakinya di kamar saja.


Setelah mengganti kemeja dengan kaos dan celana panjang dengan celana pendek.


Zafir merebahkan tubuhnya. Melepas penatnya seharian ini.


Apalagi saat mengantar Fely ke tempat kerjanya tadi.


Zafir menyaksikan bagaimana Fely memakai apron dan tangan memegang lap.


Gadis dengan cekatan membersihkan sisa-sisa makanan dan minuman pelanggannya.


Tak tega rasanya menyaksikan gadis yang terus tersenyum pada setiap pengunjung cafe.


Belum lagi suara-suara lelaki hidung belang yang menggoda gadis itu.


Walaupun cafe tempat Fely bekerja masih tergolong aman. Namun Fely tidak bisa memfikter pengunjung dengan maksud lain.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹


__ADS_2