
"Halooo..." sapa Zafir di ujung benda pipihnya.
"Iya..." sahut suara lelaki di seberang.
"Dengan Om Reksa?"
"Iya..."
"Om maaf, saya Zafir. Temannya Fely. Bisakah Om datang ke dokter Sutomo. Fely butuh bantuan Papanya,"
"Fely... anak saya?" terdengar suara gemetar di ujung sana.
"Iya, Fely anaknya Om Reksa dan Tante Alena." ujar Zafir meyakinkan pria yang ada di ujung sambungan panggilannya.
Setelah memastikan lelaki yang bernama Reksa itu datang, Zafir menutup panggilannya.
"Mas, biarkan jenazah Fely di sini ya!" pinta Zafir masih dengan wajah sembab.
"Baik, Mas. Saya ada di sana. Kalo ada apa-apa hubungi saya!" Tunjuk Fahribke sebuah lokasi.
"Baik. Terima kasih, Mas." ucap Zafir sebelum Fahri kembali ke ruangannya.
Sembari menunggu kedatangan Reksa, Zafir duduk di kursi yang tak jauh dari brankar jenazah Fely diletakkan.
Tak lupa pemuda itu menghubungi kedua orang tuanya. Mengabarkan berita duka tentang Fely.
Zafir membuka kembali diary pink milik Fely. Ada rasa penasaran apa kira-kira isi buku tersebut.
Mengapa gadis itu hanya membawa diary, mukenah dan kerudung saja? Kemana dompet, uang dan ponselnya?
Berbagai prasangka kembali menyerang Zafir.
Namun, Zafir kembali menyimpan rasa penasarannya begitu membaca halaman kedua diary tersebut.
Dear Diary,
Sore itu aku ketemu cowok paling cool dan cuek di kelas.
Tau gak sih aku ketemunya di tribun.
Nyebelin gitu liat muka sok coolnya itu.
Tapi dia nyelamatkan aku dari terjangan lautan manusia yang keluar terburu-buru karena mendengar suara dentuman keras.
Aku dibawa ke rumahnya. Ketemu keluarganya.
Mereka begitu hangat. Mereka nerima aku, yang jelas-jelas asing bagi mereka.
Sesaat aku iri dengan pemuda cuek itu.
Ternyata di keluarganya ia bukan tipe cuek, ia malah terkesan care banget.
Jadi inget sama Papa.
Apa kabar Papa.
Apa Papa tidak kangen Fely.
Fely tiap hari kangen Papa.
Papa ada dimana sih?
Apa suatu hari ini kita bisa ketemu ya Pa?
🙁🙁🙁
Lembar berikutnya
__ADS_1
Dear Diary,
Aku malu tau gak sih.
Ketiduran di sofa rumahnya Zafir.
Apalgi pas nganter aku pulang dia pake ada acara bad mood lagi.
Akhirnya aku nyampe kos-an kemalaman gerbang udah di gembok.
Endingnya malah di suruh tidur rumah Zafir sama ibunya.
Oh, ya Ibunya Zafir cantik banget.
Dia pake gamis dan jilbab bikin teduh mata yang melihatnya.
Keinget sama Mami. Tapi, mami tidak secare Umma Zafir.
Iya, begitu cowok itu manggil ibunya.
Aku gak ngerti apa arti Umma itu, tapi aku diminta manggil seperti itu ya udah aku ikutin aja.
Andai saja Mamiku bisa sehangat Umma.
Aku kangen Mami yang dulu, yang selalu peluk dan cium-cium aku.
Tapi Om Felix ngerubah Mami.
Mami lupa sama Fely.
🙁😟😟
Zafir menarik napas panjang membaca lembaran tersebut.
"Fel, makasi yaa... udah nyebut Umma di diary kamu." Ingatannya kembali ke masa saat masuk kuliah pertama.
Meski baru hari pertama, tapi sudah ribut. Entah apa yang mereka obrolin, Zafir benar-benar tidak tahu.
Rata-rata mereka sudah saling mengenal saat ospek. Sedangkan dirinya. Ia bukanlah tipe orang yang suka basa basi.
Tidak sesupel Zafran atau seramah Zafira. Zafir tipe pendiam yang peduli.
Dalam diamnya ia paham nama masing-masing teman sekelasnya. Begitulah Zafir dengan kelemahannya.
Pemuda itu langsung memilih kursi yang dirasa kosong tanpa bertanya. Andai bertanya iapun tak tahu harus bertanya pada siapa?
Maklum, ia datang tepat dua menit sebelum dosen pertama masuk.
Ternyata dosen yang masuk adalag dosen wali mereka. Auto hari itu langsunglah dia minta dibentuk PK, pimpinan kelas. Kalo di sekolah kita menyebutkan Ketkel alias ketua kelas.
Saat pemilihan Zafir menyarankan nama Boy. Pemuda itu juga menjelaskan kelebihan teman sekelasnya.
Auto sekelas menatap Zafir bingung apalagi si Boy. Yang merasa tidak pernah dekat dengan dirinya itu bisa membeberkan kelebihannya.
"Elo cenayang ya, Fir?" bisik Boy seketika daei kursi belakangnya.
"Bukan," jawab Zafir.
Melalui perdebatan sedikit akhirnya terpilih Boy sebagai PK.
Saat itu juga ia sempat melirik teman yang berwajah putih semi oriental tapi ia acuhkan. Meski tahu gadis itu bernama Fely.
Namun, untuk sekedar menyapa ia segan. Sampai .mereka bertemu di tribun beberapa bulan lalu.
Zafir menatap brankar tertutup kain putih di depannya.
"Fel, Aku hanya percaya ini yang terbaik buat kamu. Walau aku belum terima. Aku masih berharap kamu bangun dan tersenyum seperti senyum kamu biasanya. Yang selalu bikin aku mengalihakan duniaku buat kamu," Zafir berrmonolog dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Allohummaghfirlaahaa warhamha wa afiha wa'fu anha..." Zafir terus bermonolog.
"Semoga perjalanan kamu dimudahkan. Kubur kamu dilapangkan. Ibadah kamu penerangnya. Allah tahu perjuanagan hambaNya. Dia gak tidur kok, Fel."
"Fel, aku bole tanya rupa malaikat Izroil kayak gimana? Biar nanti kalo pas waktunya aku dipanggil gak kaget. Karena udah pernah kaamu ceritain," ucapan konyol Zafir untuk menenangkan hatinya.
Ia teringat Malik dan Devan, pemuda itu segera mengirim pesan kepada kedua sahabatnya itu. Zafir mengabarkan kepergian Fely yang menyedihkan.
"Inna lillahi wa inna ilahi rojiun. Elo dimana Bro?" balas Malik.
"Gue ikut berduka, semoga Yang Maha Kuasa melapangkan jalan kuburnya. Dimana Fely dimakamkan?" balas Devan.
"Gue masih di Karmen gak tau dimakamkan dimana?" balas Zafir kepada keduanya.
Tepat setelah ia membalas pesan Malik dan Devan. Umma dan Buya berada di pintu UGD. Keduanya bergegas mendekat ke arah Zafir duduk.
"Dimana jenazah Fely?" tanya Umma.
"Itu!" tunjuk Zafir ke brankar di depannya.
Aqeela mendekati brankar tersebut, dan membukanya.
"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun," ucap Aqeela lirih.
Netranya berkaca-kaca menyaksikan jenazah gadis yang dicintai putranya itu. Wanita itu segera menutupnya karena tidak tega.
"Dia pasti menderita, menghadapi ini sendirian." Aqeela menjatuhkan tubuhnya ke pelukan sang suami. Melanjutkan isakannya.
Desta yang penasaran ikut membukanya, lelaki itu ikut mengepalkan kedua tangannya geram.
"Siapa pelakunya, Fir?" tanya Desta kepada Zafir.
"Belum tahu, Buya." Zafir menatap kedua orang tuanya yang berada di reaksi berbeda namun sama-sama merasa kehilangan, membuatnya terenyuh.
Seorang lelaki berkacamata, mendatangi mereka bertiga.
"Maaf yang namanya Zafir siapa?" tanya lelaki itu.
"Saya Om," Zafir berdiri.
"Saya Reksa, Papanya Fely. Dimana dia sekarang?" ucap Reksa dengan cemas.
"Dia di sini, Om!" Zafir membuka kain penutup jenazah putri Reksa itu.
Sontak pria itu menjerit, memanggil nama putrinya.
Dipeluknya tubuh itu dengan erat. Sebagai bentuk kerinduannya selama belasan tahun.
"Dimana Alena?" tanya Reksa.
"Tidak tahu, Om. Tapi Fely sekarang milik Om. Bukan Tante Alena." jawab Zafir.
"Maksud kamu?"
🌷🌷🌷
Masih seputar misteri kematian Fely.
Yang dag dig dug siapa nih?
Aku butuh like, komen, vote...
Mau dong dibagiin Hati dan Kopi...
Ditungguin ya...
love you all 😍😘
__ADS_1