TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Final


__ADS_3

Zafir menatap tajam ke arah Satria.


"Aku minta perbaiki bacaanmu!" titah Zafir.


"Hadeeh siapa sih di seenaknya nyuruh-nyurublh aku!" gerutu Satria dalam hati.


"Dua minggu lagi, aku tunggu di sini! hafalkan an-nas, al-falaq dan al-ikhlas!" titah Zafir sontak mata Satria membulat sempurna.


Pemuda itu beranggapan siksaannya akan selesai dengan sholat. Ternyata tidak berhenti di situ.


Lelaki yang katanya kakak Thifa itu terus menyiksanya dengan meminta menghafal dan menghafak sesuatu yang tidak pernah diajarkan orang tuanya.


Satri mendengus keras, ada kemarahan tersirat di sana. Namun Zafir tidak menggubrisnya. Bagi lelaki itu Thifa tidak boleh jatuh ke pelukan sembarang cowok.


Sejak kecil ia menjaga gadis cantik itu. Menemani bahkan menunggu waktu yang teoat untuk menjadikan pengantinnya.


Sayang, gadis berusia enam belas tahun itu tidak satu frekuensi lagi dengannya.


Membuat pemuda itu hanya bisa mengikhlaskannya dengan Satria. Namun karena permintaan orang tua Thifa, Zafir kembali ikut campur masalah hati gadis itu.


Sangat menyesakkan memang. Disaat ingin menjauh malah didekatkan.


Zafir menarik napas panjang dengan memejamkan kedua matanya.


"Fel, ayo aku antar pulang!" Tutur Zafir.


"Oya... bacaan sholatnya kamu perbaiki!" Zafir menunjuk ke arah Satria.


Pemuda itu sudah tak lagi menatap ke arah Thifa. Zafir akan memantapkan diri melawan rasa sakitnya mengalihkan kesakitannya menjadi ibadah.


"Mungkin Allah menunjukkan yang terbaik buat aku sejak sekarang daripada sudah terlanjur nanti," bisik sudut hatinya.


"Ayo Fel!" ucap Zafir karena Fely masih duduk dengan cemas di kursinya.


Tanpa permisi Fely menyusul Zafir keluar cafe.


Zafir membukakan pintu mobilnya untuk Fely sebelum masuk ke jok kemudi.


Tidak ada percakapan apapun selama perjananan. Fely sampai merasa bosan.


Ditengah kecanggungan, Fely berinisiatif menyalakan musik. Tanpa sadar Zafir juga melakukan hal yang sama.


Kedua jemari mereka bersentuhan, baik Zafir maupun Fely auto saling menarik tangannya menjauh.


"Nyalain musiknya, Fel!" titah Zafir mencoba menghalau kecanggungan diantara mereka.


Tanpa menjawab, Fely mematuhi titah Zafir.


Gadis bermata sipit itu mencari lagu yang menurutnya pas untuk di dengar.


"Fel... " panggil Zafir sambil menikmati lagu cinta dalam diamnya Ariel Noah feat Difky Khalif.


Suasana yang nyaris sempurna untuk kondisi mereka saat ini.


"Fel, antar aku menemui orang tua kamu!" ulang Zafir sekaligus menyampaikan keinginananya.


"Fir, aku mohon jangan terburu-buru. Aku tidak ingin hanya sekedar menjadi pelampiasan kamu!" bantah Fely.


"Aku serius, Fely!" Tegas Zafir.


Fely terdiam tak ingin mengatakan apapun. Ia paham saat ini Zafir benar-benar serius.


"Aku saat ini hanya punya mama. Aku akan membawamu bertemu mamaku," pungkas Fely.


"Papa kamu?" tanya Zafir.


Fely hanya menggeleng.

__ADS_1


"Akan ku coba untuk menanyakan pada mama dimana keberadaannya sekarang," ucap Fely dengan sedih.


"Fel, maafin aku." Zafir tak sanggup lagi menatap gadis bermata bening itu.


Zafir sangat yakin, Fely kali ini sedang mengeluarkan air matanya.


"Fel..., ini salah satu alasan aku mengajakmu menikah. Aku tak ingin melihat air mata di kedua mata indah itu!" lirih Zafir yang ia yakini Fely mendengarnya.


"Jika papaku tidak ketemu? Bagaimana?" tanya Fely masih dengan berurai air mata, suaranya sesenggukan.


"Kita menikah dengan wali hakim!" pungkas Zafir.


"Mamaku?" panik Fely.


"Aku yang akan meminta izin padanya untuk menikahimu!" tegas Zafir.


"Tapi tidak akan mudah, Fir!" Fely merasa ada sesuatu yang menusuk jantungnya saat Zafir mengatakan menikahimu.


Bahkan telinganya berdenging cukup panjang. Sakit. Sehingga yang bisa ia dengar hanya kata menikah saja.


"Kamu bisa percaya kan sama aku. Aku akan meyakinkan mama kamu!" ucap Zafir.


"Fir, aku takut ini tidak akan mudah?"


"Lalu apa kamu akan menyerah begitu saja?" Zafir menjadi kesal mendengar ucapan pesimis dari Fely.


"Aku tidak takut. Tapi aku khawatir mama akan menggunakan cara apapun untuk mencelakaimu!" tutur Fely.


Zafir mengerang tanpa tahu harus kesal atau marah mendapati jawaban Fely.


"Fel, kalo mama kamu menggunakan cara curang. Aku juga bisa lebih dari itu!" kata Zafir dengan suara yang tidak bisa Fely artikan nadanya.


Karena benar-benar membuat gadis itu ketakutan.


"Aku turun dulu!" pamit Fely.


***


Selesai memberikan les untuk muridnya. Fely duduk termenung di kursi belajarnya.


"Papa," bisiknya lirih.


Bayangan sang papa yang hadir di mimpinya beberapa bulan lalu kembali mengusiknya.


"Pa, Fely kangen sama Papa. Papa dimana sih sekarang? Apa Papa marah sama Fely? Seperti Papa marah sama Mama?" gumam Fely.


"Mungkin kalo kita bertemu, Papa udah gak ngenalin Fely lagi."


"Maafin Fely ya Pa. Harus ikut mama,"


"Semoga kita masih bisa bertemu, Fely ingin dipeluk Papa."


Air bening kembali memenuhi pipi mulus Fely. Dadanya terasa sesak dan nyeri.


Berkali-kali, mengusap pipinya dengan kedua telapak tangannya.


Tapi, semakin ia mengusap semakin deras saja aliran airnya.


Fely memutuskan meraih gawainya menghubungi seseorang.


"Ma...," panggil Fely.


Gadis itu berusaha sekuat tenaga menahan semua isakannya.


"Fely..." panggil suara di seberang.


"Ma... gimana kabarnya?"

__ADS_1


"Baik, Fel."


"Ma... bolehkah Fely nanyain Papa sekarang ada dimana?"


"Mama tidak tahu Fely. Papa kamu dimana sekarang."


Fely mendengar ada nada kesal di seberang.


"Ya udah ma, terima kasih." Fely menutup panggilannya.


"Pa.. Paa dimana sih?" Fely menarik napas panjang.


***


Zafir terburu-buru menuju kelasnya. Tujuannya tentu saja mencari keberadaan Fely.


Semalam ia menghubungi gadis itu berkali-kai tapi tidak diangkat.


Sampai di depan pintu, pandangan Zafir langsung tertuju pada pemilik meja nomer dua dari depan yang sedang meletakkan kepalanya di atas meja, menghiraukan keramaian sekitarnya.


"Fel.. Fely..!" panggil Zafir menegakkan bahu Fely dengan lembut.


Fely yang merasa rapuh tanpa bisa menahan diri, dipeluknya pemuda tampan beraura dingin itu dengan erat.


"Hei, kenapa?" bisik Zafir.


"Papa..."


"Ada apa dengan Papa?" tanya Zafir.


"Mama..."


"Kenaoa dengan mama?" Zafir masih menanggapi semua ucapan Fely.


"Boy, Kiat cabut lagi ya!" pamit Zafir pada Boy si Ketua kelas.


"Pacaran mulu, Loe!" ledek Boy.


Zafir hanya tersenyum menanggapi Boy.


"Fely butuh ketenangan. Kita balik dulu ya! Bye!" Zafir dengan paksa menuntun Fely ke parkiran.


Setelah mendudukkan Fely di jok penumpang, Zafir menuju ke jok samping Fely.


"Mau kemana?" tanya Zafir.


"Mama," jawab Fely lirih.


"Dimana?"


Fely menyebutkan sebuah tempat.


"Semalam kamu pasti udah nangis kayak gini kan?" tebak Zafir.


Fely hanya mengangguk.


Zafir menarik napas, menahan gejolak di dadanya yang sudah kayak nano-nano.


"Mama ngomong apa semalam?" tebak Zafir.


"Mama gak mau bilang, Papa dimana?" balas Fely masih dengan suara lirih menahan isaknya.


"Serahkan pada Allah, minta petunjuk agar jalan kita dimudahkan." Zafir memeprlambat kecepatan mobilnya.


***


edisi gabutnya Fely.

__ADS_1


Like, komen dan vote yaa...


__ADS_2