
Di cafe Vian menyisakan Desta, Aqeela, Hanin, Carlos dan
keempat anak mereka.
Dihadapan Hanin dan Carlos, Aqeela dan Desta masih bingung
harus memutuskan apa dengan tawaran menjadi ambasador brand sebuah konveksi
terkenal di Indonesia.
Bahkan Aqeela juga memiliki koleksi brand tersebut.
"Mas Ibra, sebetulnya video itu hanya keisengan saya
setelah anak-anak curhat mendapat lagu baru dari Ustadzah dan belum
hapal." Aqeela menjelaskan videonya.
"Tapi ini sudah ditonton hampir sejuta orang."
Jawab Ibra.
Hanin dan Carlos saling pandang mendengar ucapan Ibra.
"Mbak terima aja, lumayan kan dapat gratisan dari
mereka." Bisik Hanin.
Aqeela hanya menghela napas panjang.
"Terima ajalah Mbak." Bujuk Ibra.
"Desta, bujuk istrinya dong." Ibra juga memohon
kepada Desta.
Entah nilai jual apa yang dilirik Ibra dari video Aqeela.
"Saya ndak bisa maksa istri saya, Ibra." Jawab
Desta.
Ibra tampak gusar.
"Mbak, lumayan loo." Puspa ikut merayu Aqeela.
Wanita itu paham, jika ia menjadi ambassador produk Ibra.
Bukan hanya produk yang ia dapat tapi pundi-pundi rupiah ditabungannya akan
bertambah.
Tapi sekali lagi ini bukan perkara uang. Tapi ia tidak mau
mengeksploitasi ketiga kembarnya.
Aqeelapun main musik karena permintaan mereka bertiga. Bukan
kemauannya.
Aqeela tidak mau kebebasan bermain anaknya berkurang karena
kesibukannya membuat video dan ambassador sebuah brand.
"Mas Ibra, Mbak Puspa." Panggil Aqeela.
"Kebahagiaan tersendiri bagi saya mendapat tawaran
ambassador produk kalian. Tapi maaf kami keberatan dengan persyaratannya."
Aqeela berhenti menatap Desta seakan meminta persetujuan.
Desta hanya mengangguk melihat istrinya menatap ke arahnya.
"Seandainya ada kebijakan tidak harus setiap hari update, tapi
entah seminggu sekali. Kami pasti dengan senang hati menerimanya. Bahkan bisa
kita susun banyak skenario natural di dalamnya. Jadi kesan anak-anak tidak akan
hilang." Urai Aqeela.
Ibra dan Puspa saling berpandangan.
Karena baru kali ini ia dinego saat menawari jadi
ambassador.
"Tapi fee yang kalian dapat dari perusahaan tidak akan
sebesar tadi." Kata Ibra.
Hanin dan carlos yang mendengar bujukan Ibra tentang uang,
hanya tersenyum kecil.
( Duh, mas Ibra gemes deh. Aqeela mah udah numpuk duitnya.
Gak dapet duit mah, dia kagak masalah. )
__ADS_1
"Dari awal kami memposting video itupun bukan untuk
kepentingan komersial. Kami hanya ingin melihat anak-anak kami bahagia."
Aqeela menjelaskan motivasinya kepada Ibra dan Puspa.
"Baru kali ini, ada orang nolak duit." Gerutu Ibra
ke Puspa pelan tapi masih bisa di dengar Aqeela dan Desta.
Keduanya hanya tersenyum kecil mendengar gerutuan Ibra.
"Des, ada yang ingin kalian makan?" Tanya Vian
menghampiri sahabatnya yang tak kunjung kelar menghadapi Ibra.
"Belum, coba tanya anak-anak. Mungkin mereka masih
lapar." Jawab Desta sambil berdiri menghampiri keempat bocil yang sibuk
bermain.
"Kalian mau makan enggak?" Tanya Desta.
Begitu berada di dekat mereka.
"Kentang goreng, Buya." Sahut Zafir cepat
"Sosis bakar." Sahut Zafira.
"Nugget. Kamu mau apa Ren?" Sambung Zafran sambil
bertanya kepada Renata.
"Aku sosis goreng, Buya." Jawab Renata sambil
menatap Zafran dan Desta bergantian.
"Okay.. terus mau minum apa?"
"Air putih." Jawab keempatnya kompak.
"Ya sudah Buya, pesankan ke Om Vian dulu." Ucap
Desta sambil meninggalkan area bermain mereka.
Sebetulnya lokasi mereka tidak benar disebut area bermain. Lokasi itu awalnya adalah tempat
lesehan untuk pengunjung. Tapi karena Vian sering melihat pengunjungnya membawa
anak kecil, akhirnya tempat itu disulap jadi area bermain.
anak.
Desta memesankan pesanan para bocil ke kasir.
Kemudian ia kembali ke tempat dimana Aqeela masih di nego
Ibra dan Puspa.
"Gini aja deh, Bra. Kalo kalian masih keberatan dengan
permintaan istri saya, maka saya tidak akan mengizinkan dia jadi ambassador
brand kalian." Desta akhirnya memutuskan secara sepihak.
Karena Ibra masih kekeuh mempertahankan keinginannya dan
Aqeela sendiri tetap berpegang pada prinsipnya.
"Gimana, Bra?" Tanya Desta menatap Ibra yang
kebingungan.
"Jangan gitu lha, broo.." Protes Ibra tak ingin tawarannya ditolak Aqeela.
Ibra dan Puspa nampak saling berpandangan dan beridiskusi.
"Bra, Iyain aja deeh.. jarang-jarang loo kamu dapat
ambassador kayak mereka." Kata Puspa.
"Kamu yakin, Pus?" Ibra nampak ragu.
Puspa mengangguk pelan.
"Mas.. Mbak.. demi perdamaian di cafe ini. Saya menyetujui
permintaan Mbak Aqeela." Kata Ibra sambil menatap lurus ke arah Aqeela dan
Desta bergantian.
"Wah, terima kasih Mas." Jawab Aqeela.
"Tapi ingat ya Mas, jangan maksa anak-anak saya. Kami
akan melakukannya senatural mungkin. Jadi tidak ada skenarii apapun."
Aqeela menegaskan kembali keinginannya.
__ADS_1
"Iya.. aku percayakan saja semua ke kalian." Besok
kita bisa ketemu lagi?" Pinta Ibra.
"Hmm.. besok bisa, tapi sore diatas jam 4.
Gimana?" Ucap Aqeela.
"Mbak Aqeela kerja."
"Nggak, aku gak kerja. Cuma duduk-duduk dan
ongkang-ongkang di atas kursi sambil nerima duit." Kelakar Aqeela.
"Wah, pantesan cocok jadi artis." Ledek Ibra.
"Gak udah ngeledek. Mana ada PH yang mau punya artis
magabut kayak aku." Oceh Aqeela.
"Nyai mah gak pantes jadi artis. Dia lebih seru kalo di suruh jadi pegulat." Sela Hanin.
"Apa Nyai?" Ucap Puspa melotot.
"Iya." Jawab Hanin dengan tampang polosnya.
Seketika Ibra dan Puspa terpingkal-pingkal mendengar
panggilan Nyai yang melekat pada Aqeela.
"Udah gak usah ndengerin omongannya Emak." Sahut
Aqeela.
"Maklumin saja,gimana sih rasanya jadi Emak."
Ledek Aqeela.
"Mbak.... kayaknya kalian berdua kompak deh sesekali
buatlah konten ledekan ala kalian berdua. Plus panggilan kesayangan kalian yang
bikin kita ketawa."
"Mas, kalo kita berdua mah gak seru. Panggil sekalian
si Sri, Juminten sama Munaroh. Dijamin lebih ngocol."
Ibra kembali ngakak gak jelas mendengar sebutan teman-teman
Aqeela.
"Terus kemana mereka sekarang?" Kepo si Ibra.
"Sudah pulanglah, gak mungkin juga kita ninggalin Besan
kita dalam keadaan terdesak kayak tadi." Hanin masih berceloteh.
"Apa kalian berniat menjodohkan anak-anak kalian."
"He.. Mas Ibra yang kurang info. Dengerin ya..
anak-anak kita gak perlu dijodohkan mereka udah nempel dan mepet."
"Masih piyek gitu?" Ucap Ibra sambil menatap para bocil yang asyik bermain.
"Lhaa memang kenapa?"
"Gak taulah, kok ya bisa hari ini kita ketemu
orang-orang aneh kayak mereka. Tapi kok yaa aku kepincut sama mereka."
"Ya Alloh.. Berilah hambaMu ini kekuatan menghadapi
orang macam mereka." Gumam Ibra
keras.
"Woi.. , Mas Kurang inpo.. Harusnya kamu tuh bersyukur diketemukan sama kita. Rezeki
tau."
"Iya.. Iya.. Mak." Ibra menyebut Hanin dengan
Emak.
"Wah.. kena sangsi kamu Mas Ibra. Yang bole manggil aku
Emak cuma teman-teman aku ya..."
Ibra kembali membuka lebar mulutnya tak tahan dengan ocehan
Hanin yang lebih mirip dengan stand up comedy.
💗💗💗💗💗
Give me your thumbkin
Komen and vote.
__ADS_1
peluk dan cium dari si triple