
"Gimana santri kamu?" Tanya Yuna keesokan lusanya di sekolah.
"Udah lebih baik." Jawab Aqeela.
"Jahat banget kamu.." Yuna masih mode mengomel. Bibirnya Masya Allah sampai maju beberapa centi.
"Monster dong, kalo jahat." Aqela masih menanggapi dengan bercanda.
"Iya, monster bersayap malaikat." Yuna akhirnya bisa menarik sudut bibirnya terhipnotis senyum sang monter bersayap malaikat.
"Aku pilih malaikatnya aja deeh." Aqeela malah menggoda Yuna dengan jahilnya.
"Somplak." Maki Yuna.
Aqeela hanya menggeleng sambil tersenyum merasa menang bisa membuat temannya itu kembali ke karakter cerewet dan ceplas ceplosnya.
"Mbak, kenapa sih gak cerita sama kita-kita?" Oca menyela dengan nada serius.
"Banyak pertimbangan. Salah satunya kalian pasti akan kaget dengan kenyataan yang ada." Jawab Aqeela menanggapi Oca.
"Kayak sinetron aja.." Gerutu Oca.
"Enggak akan kita kaget." Sela Yuna
"Yang bener aja. Aku aja yang tau duluan gak terima. Apalagi kalian." Hanin menimpali.
"Mbak, kami hanya kaget. Seandainya kami tahu latar belakang Mbak Aqeela mungkin..." Sahut Oca
"Kalian gak mau berteman dengan aku kan?" Potong Aqeela.
"Bukan, Mbak. Tapi mungkin kami akan lebih sopan sama mbak besannya Hanin ini." Sahut Oca sedikit lirih.
"Dan saya tidak akan pernah tau karakter asli kalian. Sama aja bo'ong kaleee..." Balas Aqeela ada nada sedih mendengarnya.
"Itu sangat tidak enak buat saya." Sambung Aqeela.
"Yuna.. Oca.. mungkin pesantren itu hanya satu hal yang baru kalian ketahui..." Sahut Hanin setengah was-was sambil melirik ke arah Aqeela.
Memastikan kalau perempuan unik di sebelahnya itu sedang dalam mode friendly.
"Emang masih ada lagi yang masih dirahasiakan?" Sahut Yuna.
"Bukan dirahasiakan. Tapi terkadang saya tidak ingin orang lain mengenal saya karena kelebihan saya." Jawab Aqeela.
"San, biar aku saja yang cerita. Kamu diem saja." Ujar Hanin sambil menatap Aqeela meminta peesetujuannya.
Aqeela hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum.
"Kalian masih ingat, waktu besan aku ke kampus?" Tanya Hanin menatap kedua temannya.
"Iya ingat.." Jawab Yuna dan Oca barengan.
"Datang-datang bawa luka dan wajahnya lebam." Hanin mulai bercerita.
"Kenapa?" Tanya Yuna
"Abis berantem ama orang. Tiga lawan satu pula." Jawab Hanin.
"What??" Yuna mendelik.
"Artinya..?" Oca auto kepo.
"Artinya besan aku ini juga punya masa lalu. Bahkan mungkin kalian tidak menyangka seperti apa masa lalu seorang Bu Nyai Somplak. Macam Besan aku." Lanjut Hanin.
__ADS_1
"Emang kayak apa?" Oca dan Yuna menatap Hanin dengan serius.
"Kayak ulet..." Jawab Hanin
" Serius, Nin..." Oca masih kepo.
"Aku juga serius.."
"Besan cantik aku ini, dulunya petarung. Dia partner tawuran suaminya. Mereka berdua sama-sama jago lapangan. Bahkan dia sempat dirawat karena luka tikam."
"Mbak beneran?" Yuna dan Oca masih terperah.
"Iya.. itu masa lalu saya. Tapi sekarang kita sudah insyaf kok." Kata Aqeela sambil meringis menahan malu.
"Wah, berarti kita aman dong. Kalo ada yang ngisengin kita. Kita punya bodyguard gratisan." Seru Yuna dengan mata berbinar.
"Somplak nomer wahid." Umpat Oca
"Eh, tapi beneran juga sih. Kalo kemana-mana sama besan kamu kita tidak perlu khawatir sama orang yang iseng sama kita." Sambung Yuna.
"Wooii.., dengerin.." Teriak Hanin dengan wajah yang sulit diartikan.
"Enak saja kalian, gak ada bodyguard-bodyguardan. Suaminya aja ngeman-eman. Kalian seenaknya sama dia." Hanin gak terima Aqeela di anggap bodyguard.
Yuna dan Oca kompak terkekeh.
"Kita becanda kalee.." Kata Oca
"Ciye... yang punya calon besan petarung esmosi gaes..." Goda Yuna sambil mencoleh pipi Hanin.
"Udahlah Mbak, gak pa_pa. Mereka juga becanda. Lagian mana bisa aku tinggal diam jika kalian dalam bahaya." Aqeela menenangkan.
"Maafin kita ya.." Kata Yuna dengan memelas.
Hanin mengangguk dan memeluk kedua sahabatnya itu.
💗💗💗💗💗
Aqeela yang awalnya tidak menyangka bahwa mereka bertiga antusias belajar membaca Al-qur'an hanya bisa bersyukur.
"Ini hukuman kamu, karena tidak jujur dengan kita. Mbak Aqeela harus ngajarin kita ngaji sampai lancar. GRATIS...!" Ancam Yuna waktu itu.
Aqeela yang tidak menyangka mendapat perkataan yang demikian, akhirnya hanya bisa mengiyakan saja.
"Beres, asal tidak setengah-setengah. Apapun yang terjadi harus tetap belajar. Bagaimana?" Tantang Aqeela.
"Siapa takut?" Balas Oca.
Dan hari berikutnya mereka bertiga memulai dengan susah payah.
Yuna yang mengulang berkali-kali.
Oca yang sering lupa huruf.
Sedangkan Hanin karena sudah lebih dahulu belajar ia terlihat lebih menguasai walaupun masih terus dibetulkan makhrojnya.
Cara berpakaian merekapun perlahan berubah. Walaupun mereka tidak mengenakan kerudung, tapi pakaian mereka mulai tertutup.
Sudah tidak memakai baju super ketat yang kekurangan bahan.
"Wah, Mama Darren, Mama Malik dan Mama Renata sekarang cantik yaa..." Puji Ustadzah Ratih, yang tak sengaja melewati ruang tunggu setelah kembali dari sebuah kegiatan.
"Terima kasih, Ust..." Jawab Hanin.
__ADS_1
"Semoga bisa istiqomah ya, Mama cantik." Balas Ustadzah Ratih.
"Tergantung Ust.." Ucap Yuna.
"Kok tergantung?" Ustadzah Ratih menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Yuna.
"Tergantung gurunya. Kalo gurunya masih istiqomah ya kita teru. Kalo gurunya berhenti di tengah jalan yaa.. bisa jadi kita kembali." Jawab Yuna.
"Lha memang siapa gurunya?" Tanya Ustadzah Ratih.
"Itu.. " Yuna menunjuk ke arah Aqeela.
"Mbak Aqeela maksudnya?"
"Ustadzah Ratih tahu?"
"Saya sudah lama kenal Mbak Aqeela. Bahkan beberapa Ustadzah disini mengidolakan beliau." Jawab Ustadzah Ratih.
"Lhoo.. berarti kita yang kudet ini?"
Ustdzah Ratih terkekeh mendengar jawaban Oca.
"Enggak, kebetulan beliau ini memang tidak mau dielu-elukan. Jadi ya, kami hanya bisa mengagumi dari kelas kami masing-masing." Jawab Ustadzah Ratih.
"Oowhh.."
"Sebentar jadi, mama-mama ini sambil nungguin anak-anak belajar agama gitu ya?" Ustadzah Ratih mengorek informasi.
"Iya, Ust.."
"Dimana?"
"Dirumah Aqeela."
"Kenapa tidak di sini saja?"
"Emang bole?"
"Bole, akan saya siapkan tempatnya kalo mau. Kan hall juga kosong. Terpakai jika ada acara tertentu. Bisa dipakai."
"Mbak.. gimana?" Yuna menanyakan ke teman-temannya tentang tawaran Ustadzah Ratih.
"Kalian pada mau gak? Karena kalo udah di sini, jatuhnya yang ikut semakin banyak." Aqeela memberi arahan efek dari mengaji di aula sekolah.
Ketiganya tampak berpikir.
"Gimana kalo yang belajar mengaji yang di sekolah seminggu sekali saja?" Oca mencoba memberi masukan.
"Itung-itung kita berbagi dengan wali murid yang lain." Sambung Oca.
"Masukan yang bagus Mamanya Malik." Puji Ustadzah Ratih.
"Gimana Mbak Aqeela?" Tanya Ustadzah Ratih ke Aqeela.
"Saya siap-siap aja, Ust." Jawab Aqeela sambil tersenyum.
"Mama Darren sama Mama Renata gimana?" Ustadzah Ratih bertanya kepada keduanya.
"Bole, Ust. Saya menerima usulan Mama Malik." Jawab Hanin.
"Saya akam kabari Perwakilan Orang Tua Murid, supaya ada penyemangat untuk mereka jika menunggu anaknya. Tidak melulu selalu untuk menggosip." Ucap Ustadzah Ratih.
"Siap, Ust.. Untuk harinya Jum'at kayaknya lebih baik Ust. Karena weekend dan biasanya banyak yang dijemput orang tuanya." Aqeela memberi masukan Ustadzah Ratih.
__ADS_1
"Baik, Mbak Aqeela. Saya balik ke ruangan saya." Pamit Ustadzah Ratih.
💗💗💗💗💗💗