
"Umma...." Tiba-tiba terdengar teriakan Zafira, yang masuk ke kamar orang tuanya.
Seluruh penghuni kamar Desta terdiam mendengar teriakan gadis cilik Aqeela.
"Uncle Ian...Ummaa..." Lanjutnya sambil memeluk Aqeela.
Zafira bersembunyi di belakang kaki Aqeela.
"Iaan...." Seru Aqeela melihat Adiknya itu mengejar Zafira.
"Ummaa.. Uncle Ian nakaaal..." Zafira kembali melapor.
"Ian.. Kamu apain, Zafira?" Tanya Aqeela sambil memandang adik angkatnya itu.
Karena tak biasanya, Zafira ketakutan tanpa sebab.
"Umma... itu yang dipegang Uncle.. aku jijik." Teriak Zafira.
Julian mengangkat tangannya. Menunjukkan sebuah benda.
Aqeela mengamati benda yang dibawa Julian.
Ikan asin.
Gumam Aqeela dalam hati.
Rasanya ia ingin terpingkal-pingkal, menyaksikan Zafira yang jagoan, phobia dengan ikan asin dan ketakutan.
Bahkan orang dewasa yang di dalam kamar itu terlihat tersenyum tapi tak ada yang berani bersuara.
Berawal saat Zafira berusia dua tahun. Bu Erna yang hobi masak, membeli ikan asin pada tukang sayur.
Zafira kecil yang suka iseng membuka bungkusan Bu Erna.
Begitu terbuka, ia mulai mencium bau aneh.Dan terus muntah-muntah.
Sejak itu, Zafira tidak mau mencium bau aneh ikan asin.
Dan mulai saat itu, Aqeela dan Desta berusaha menjauhkan Zafira dari bau ikan apapun sejenis ikan asin.
Entah sampai kapan?
Karena mereka berdua juga tidak suka makan ikan asin. Rasanya aneh. Hanya baunya saja yang sedap saat di masak. Tapi, kalo untuk dimakan mereka berdua juga menyerah.
Tapi, keduanya tidak melarang Bu Erna memasak ikan asin kesukaannya. Hanya pada saat seluruh penghuni rumah sedang keluar.
"Yan.. Kamu tuh ya.. iseng banget siih. Sudah tau kalo Zafira phobia ikan asin masih saja ditakut-takuti. Dapat darimana ikan asinnya?" Aqeela tetap mengomeli Julian.
Juliam hanya cengar cengir mendengar omelan kakak angkatnya itu.
Sedangkan Zafira yang mendengar Uncle Iannya dimarahi sang Umma, tampak tersenyum puas.
Ia bahkan sempat menjulurkan lidahnya mengolok Unclenya itu.
"Weekk... syukurin.." Gumam Zafira dengan bahasa bibirnya karena jika ketahuan Ummanya meledek ia akan kena marah juga.
Ian yang masih tidak rela dengan senyum kemenangan Zafira. Sekali lagi ia mengangkat ikan asin di tangannya tinggi-tinggi lalu ia dekatkan ke Zafira.
"Uwaa.. hik.hik.. Ummaa... Uncle Ian..." Zafira kembali berteriak.
Belum sempat Aqeela membalas Julian melesat lari keluar ruangan.
Sedangkan Zafira masih terisak menahan rasa takutnya.
Aqeela menuntun Zafira keluar kamarnya. Mencari keberadaan Julian.
Terlihat Julian berada di dapur.
Aqeela mendekat Julian pelan-pelan. Dan menjewer telinga pemuda cilik itu.
"Aduuh.. aduuh.." Teriak Julian.
"Ampun.. ampun.. Kak." Kata Julian pura-pura kesakitan. Padahal sebetulnya tidak sakit sama sekali.
__ADS_1
"Yan tunggu kakak sama Zafira di ruang tengah." Titah Aqeela.
"Iya Kak." Jawab Julian sambil menunduk.
Iapun langsung ke ruang tengah tanpa menunggu Aqeela.
"Bu Darmi!" Panggil Aqeela.
"Iya, Mbak." Jawab Bu Darmi sambil menoleh ke arah Aqeela.
"Bu, besok lagi kalo beli ikan asin sementara jangan sampai ketahuan anak-anak ya." Kata Aqeela.
Bu Darmi mengkerutkan dahinya. Seakan meminta penjelasan lebih.
"Karena Zafira phobia sama ikan asin." Lanjut Aqeela.
"Dan kalo ketahuan anak-anak atau Julian mereka pasti godain Zafira sampai nangis." Sambung Aqeela.
"Waduuh.. Maafkan saya ya Mbak. Saya tidak tahu." Bu Darmi tampak menyesal atas ketidaktahuannya.
Ia juga mencaci Bu Erna dalam hati, yang tidak memberitahunya tentang kondisi Zafira.
"Ya sudah gak pa_pa. Yang penting sekarang Bu Darmi sudah tahu." Kata Aqeela sambil meninggalkan dapur menuju ruang tengah bersama Zafira.
Di sana Julian sudah duduk tenang menunggu Kakaknya dan Zafira.
"Yan.. Ada yang ingin kamu katakan?" Tanya Aqeela begitu mereka duduk di sebelah Julian.
Julian menatap Kakaknya. Tak ada kemarahan atau apapun. Ia sedikit keheranan.
Kenapa Kakaknya ini tidak pernah berbicara ketus padanya.
Kemudian ia beralih kepada Zafira. Gadis itu malu-malu menatap ke arah Julian. Sebagian wajahnya ia sembunyikan dibalik lengan Ummanya. Tapi ada satu mata yang melirik ke arahnya.
Julian tanpa sengaja menatap mata keponakan angkatnya. Tatapan Julian dan lirikan Zafira bertemu.
Zafira kembali menenggelamkan wajahnya full di balik lengan Ummanya.
Julian beranjak pelan mendekati Zafira.
"Uncle janji deh, gak bakalan ambil ikan asinnya Bu Darmi dan Bu Erna." Julian mengangkat jari kelingkingnya.
Zafira masih menyembunyikan wajahnya.
"Ayo dong Zafira.. Uncle minta maaf. Uncle sayang loo sama Zafira." Bujuk Julian.
Tapi Zafira masih mempertahankan posisinya.
"Zafira cantik... " Panggil Julian dengan suara yang lembut, membuat gadis cilik itu menoleh tapi masih dengan malu-malu.
"Kita main lagi yuuk.. Mau uncle peluk?" Julian merentangkan kedua tanganya.
Zafira kembali menoleh, tapi masih dengan posisi sama. Separuh wajahnya bersembunyi di belakang lengan Ummanya.
"Zafira sayang.. pliss dong. Zafira gak kasiyan gitu sama Uncle. Ntar Uncle main sendirian dong?" Suara Julian mendayu-dayu.
Tangannya membelai lengan mungil Zafira. Gadia itu masih malu-malu untuk menoleh penuh ke arah Julian.
Perlahan Zafira keluar dari zona nyaman lengan Umma.
Julian tersenyum melihat Zafira mulai kembali menatapnya.
"Zafira.. Hug me!" Pinta Julian sambil merentangkan kedua tangannya.
Gadis cilik itu menatap mata Julian seakan mencari ketulusan dari janji Julian kepadanya.
"Uncle janji gak akan ngulangi lagi." Kata Julian berusaha meyakinkan gadis cilik itu.
Zafira masih menghiraukan Julian yang sudah bersiap dengan aksi pelukannya.
"Zafira.. pliss..."
"Uncle janji.. gak nakutin Zafira lagi?" Kalimat pertama Zafira setelah ngambek.
__ADS_1
"I'am promise. Janji. Uncle mulai hari ini dan seterusnya janji akan jaga Zafira." Julian kembali meyakinkan Zafira.
"Byuuh, kalo sudah ngambek gini. Kayak cewek beneran." Batin Julian.
(Pletak, aku jitak loo kamu Yan. Kok, aku sih yang sebel. )
Zafira melepaskan genggamannya di lengan Umma.
Dan menghempaskan tubuhnya ke tubuh Julian. Meskipun baru kelas lima SD, pertumbuhan Julian sudah nampak.
Tubuhnya kekarnya sudah terlihat. Apalagi sejak kecil Aqeela dan Desta sudah membiasakan Julian berolahraga. Jadi, wajarlah tubuhnya sudah terbentuk.
"Maafin Uncle ya.." Tutur Julian.
Zafira hanya mengangguk.
"Yan, aman kan?" Tanya Aqeela.
"Aman, Kak." Jawabnya.
"Kakak tinggal ke kamar, ya?" Julian hanya mengangguk.
Ia tahu, kedua kakaknya tadi di dalam kamar sedang menyelesaikan suatu masalah. Entah masalah apa.
Yang ia lihat, Kak Wawan dalam keadaan bengkak.
"Kita main ke depan yuuk.." Ajak Julian sambil mengangkat tubuh Zafira agar berdiri.
Zafira kembali mengangguk. Keduanya bergandengan tangan menuju halaman depan.
Di sana Zafir dan Zafran sedang asyik bermain kelereng berdua.
Merekapun bergabung.
💗💗💗💗💗💗
Di dalam kamar.
"Udah kelar?" Tanya Aqeela kembali ke posisinya semula.
Ia melihat suaminya sedang menggendong baby Al.
"Kayaknya di haus deh, Beb." Ucap Desta sambil menyerahkan baby Al.
"Kalian mau ngapain, ngeliat istri aku kayak gitu?" Omel Desta melihat kedua temannya ikut fokus ke arah Aqeela.
"Liat baby Al, di kasi ASi. Sekalian belajar." Jawab Ronald dengan senyum smirknya.
"Gundulmu. Ayoo keluar. Biarkan cewek-cewek di dalam. Ntar kalian berdua ngiler." Desta menyambar tangan kedua sahabatnya agar segera keluar dari kamar mereka.
Tak rela jika Aqeela menyusui anaknya di depan sahabat-sahabatnya itu. Meskipun ia tahu, aset istrinya akan di tutupi dengan kerudungnya.
Melihat ketiganya sudah akrab, Aqeela yakin mereka sudah menyelesaikan permasalahan Wawqn dengan damai.
"Bil, lain kali kalo kalian ada masalah ngobrollah dengan kami. Meskipun kami tidak bisa tidak bisa menyelesaikan dengan tuntas. Minimal kami membantu walau hanya setengahnya." Kata Aqeela.
"Kamu juga Has, ini berlaku juga buat kamu. Kalian harus ingat. Dekat dengan kami kadang jauh dari kata nyaman. Meskipun kehidupan kami saat ini sudah lebih baik dari masa lalu."
"Tapi masa lalu kami, tak bisa dihapus. Hanya bisa diperbaiki." Jelas Aqeela sambil mengingar perjalanan putih abu-abunya yang diwarnai tawuran gak jelas.
Hasna yang memang tidak menjadi saksi nyata kenakalan remaja Aqeela dan genk-nya hanya bisa diam.
Sedangkan Nabila yang sedikit banyak tahu, terus merangkul bahu sahabat sebangkunya itu.
💗💗💗💗💗💗
Ingat ya gaes.. jagoan juga manusia.
Punya kelemahan.
Nobody's perfect.
Istilah kerennya.
__ADS_1
Gaess.. always give me your vote.
aku tungguin ya..