
Ressa bergidik ngeri, dia tidak tau pasti apa yang dilakukan Tian di dalam ruangan. Hanya melihat punggung perempuan yang duduk di pangkuan bosnya. Dan menebak-nebak aktivitas apa yang mereka lakukan.
Ada perasaan terluka melihat Tian seperti itu. Seakan dia masih terbawa perasaan saat dimana Tian memintanya untuk menjadi istri dulu.
Asal jangan dia yang menjadi korban tidak masalah, Ressa menasehati dirinya. Nyatanya dia tidak berani mengajukan resign disaat ibunya masih sibuk mengomel minta menantu. Dia tidak ingin bahan ceramah sang ibu jadi bertambah kalau dia tidak bekerja. Siapa nanti yang bayar listrik, cicilan mobil dan lain-lain. Apalagi kalau mengingat ancaman Tian yang bisa membuatnya tidak diterima bekerja dimanapun lagi.
"Kalau Audrey kesini lagi bilangin saya sedang tidak bisa diganggu." Ujar Tian dingin dengan bahasa formal saat Ressa mengantar berkas untuk di tandatangani.
"Siap Pak," Ressa menganggukkan kepala dengan malas.
"Jam makan siang nanti temani saya meeting."
"Baik Pak," lagi-lagi Ressa hanya bisa menganggukkan kepala. Ia segera berlalu dari ruangan setelah selesai menerima perintah.
Ressa mengecek agenda bosnya hari ini. Tidak ada meeting saat jam makan siang, gumamnya setelah memeriksa beruang kali jadwal yang dia buat.
Apa ini hanya akal-akalan Tian saja supaya dia tidak bisa menolak diajak makan siang. Ressa geleng-geleng kepala dengan kelakuan bos cassanovanya itu. Baiklah, dia akan mengikuti permainan Tian saja, menolak juga tidak bisa. Siapa dia, hanya seorang karyawan.
__ADS_1
Tepat jam makan siang Tian mengajak Ressa ke sebuah restoran. Selama perjalanan tidak ada yang membuka suara. Ressa mengalihkan pandangan ke jalanan yang macet.
"Maaf terlambat," ujar Tian saat bergabung di meja rekan bisnisnya. Ressa tersenyum mengambil posisi di samping Tian. Ternyata bosnya benar-benar meeting, untung dia tidak melayangkan protes tadi.
"Tidak masalah Pak, anda pasti sangat sibuk karena baru mengambil alih kepemimpinan PT. Jayindo." Ujar Beni ramah, Tian tersenyum menanggapi.
Mereka menghabiskan waktu hampir dua jam diskusi. Usai meeting mereka kembali ke kantor. Tian sama sekali tidak mengajak Ressa bicara.
"Kalian darimana?" Tanya Agam penuh selidik mendatangi meja Ressa. Dia tidak suka kalau orang yang ditaksirnya menjadi korban bos yang terkenal suka bergonta-ganti teman tidur itu.
"Meeting di restoran. Kenapa?" Ressa merasa heran, Agam menatapnya seperti tersangka.
"Diapa-apain, maksudnya?" Pertanyaan Agam sangat ambigu. Membuat Ressa tambah bingung.
"Dengar-dengar bos suka bergonta-ganti teman tidur, lo tadi gak diapa-apain kan?" Agam menegaskan pertanyaannya kembali.
Ressa menarik napas panjang, rupanya sepak terjang Tian memang sudah diketahui banyak orang.
__ADS_1
"Bos mana yang mau perawan tua seperti gue, Agam." Katanya diikuti tawa renyah.
"Come on, Ressa. Lo itu cantik, kecantikan lo ideal dari atas sampai bawah. Siapa yang tidak tergoda sama lo, bisa aja bos tertarik sama lo."
Ressa mengernyit, ternyata semua lelaki sama saja. Memandang perempuan hanya dari penampilan fisik. "Jadi menurut lo gue menarik dan lo salah satu makhluk yang tergoda sama gue?"
Agam mengangguk, "lo menarik dan gue suka sama lo." Ucapnya yakin, tapi hanya dianggap Ressa sebuah bualan semu. Lagi-lagi perempuan itu tertawa.
"Dasar lelaki!" Desisnya mengetuk kepala Agam dengan penggaris yang ada di meja.
"Aduuh, sakit!" Agam pura-pura memegang kepala dan ikut tertawa.
"Jaga mata lo, kalau gak mau gue congkel!" Peringat Ressa sambil menggoyang-goyangkan penggaris di depan mata Agam.
"Iya-iya, galak amat. Lo kalo galak gitu jadi tambah cantik."
Ressa memelototkan mata pada Agam. Si empunya semakin tertawa gelak.
__ADS_1
"Apalagi kalo melotot, jadi gak sabar pengen halalil." Kelakar Agam lalu meninggalkan meja Ressa.
"Sinting!" Desis Ressa yang masih bisa di dengar Agam.