
Tian menggendong Aruna yang cuma terbalut handuk ke tempat tidur. Entah berapa jam yang mereka habiskan di kamar mandi malam ini. Tiba-tiba terdengar bel rumahnya berbunyi.
"Siapa yang bertamu malam-malam begini," kesal Tian memasang pakaiannya dengan cepat tanpa sempat mengeringkan rambut langsung membuka pintu.
"Denis!" Berang Tian, melihat asistennya yang mengganggunya malam-malam. "Kau mengganggu!"
Tanpa menjawab Denis langsung menghajar Tian dengan sengit, "BODOH TIAN!!!" Teriaknya murka melihat rambut Tian yang basah dia tau mereka habis melakukan apa.
"Kenapa kau menamparku, hah. Aruna istriku. Kau tidak rela aku menidurinya!" Sarkas Tian ikutan marah karena diserang Denis. Denis memancarkan aura membunuhnya kembali menghajar Tian.
"Terserah mau lo apakan Aruna, gue gak peduli. Ressa di rumah lagi kesakitan dan lo enak-enakan main kuda-kudaan di sini, bangs*t!!"
Entahlah, bahasa mereka sudah campur aduk. Sekalian bahasa binatang semua keluar. Kalau perlu Tian sekalian yang Denis masukkan ke kandang binatang.
"Istri lo keguguran di rumah sakit brengs*k!!!"
Lutut Tian langsung lemas mendengar pernyataan Denis yang menyapu telinganya. Apa yang baru di dengarnya Ressa keguguran, anaknya? Istrinya? Oh Tuhan, Tian bisa gila setelah ini.
__ADS_1
"Hei kenapa bertengkar?" Bingung Aruna yang mengusul keluar karena mendengar keributan. Ternyata Denis yang marah-marah pada Tian.
"Lo juga, di mana hati lo, Aruna. Lo merasa menang karena bisa memiliki Tian, hah! Adik lo itu, adik lo yang sudah banyak berkorban buat lo. Di mana lo saat dia berjuang sendirian, hah. Gue kecewa sama lo!" Tukas Denis lalu pergi dari rumah itu setelah meluapkan amarahnya.
"Mas ada apa?" Tanya Aruna bingung pada Tian. Dia bingung, Denis tiba-tiba marah padanya.
"Ressa di rumah sakit keguguran," jawab Tian pelan.
Lelaki itu masuk ke kamar mengambil barang-barangnya. Ia sempatkan memeriksa ponsel dan betapa terkejutnya Tian melihat panggilan tak terjawab dari Ressa sebanyak dua puluh kali.
Tian meninggalkan kamar tanpa mempedulikan Aruna yang juga terlihat sendu.
Tuhan, andai dia tidak mengabaikan Ressa mungkin anaknya masih bisa diselamatkan malam ini. Apalagi yang bisa dilakukannya selain menyesali kebodohannya.
Istrinya sedang kesakitan dia malah bersenang-senang dengan istri yang lain. Tanpa terasa air matanya menetes.
"Maafkan rasa lelahku ini membuatmu semakin terluka. Maaf aku tidak sabar menghadapimu," gumam Tian pelan. Ia sanksi ada cara untuk mendapaatkan maaf dari Ressa setelah ini.
__ADS_1
Setelah Aruna masuk, Tian langsung melajukan mobilnya dengan perasaannya kacau balau. Sesampainya ia langsung menanyakan ruangan Ressa ke resepsionis.
Kakinya melangkah dengan cepat menuju ruangan tempat Ressa di rawat. Istrinya sedang ditemani Hira, Erfan dan Denis. Tian menatap perempuan yang terbaring lemah di atas brankar itu tersenyum padanya. Ia ragu untuk mendekat namun Tian sangat ingin mendekap. Masih maukah Ressa menerima pelukan darinya.
"Maaf," Tian mendekati Ressa mencium di kening. Namun perempuan itu meletakkan tangan di kening sebelum bibir Tian mendarat sempurna.
Tian sadar istrinya tidak ingin disentuh, segera ia menjauhkan tubuhnya. "Masih sakit?" Tanyanya dengan rasa bersalah yang menggunung.
"Tidak ada, aku sudah lebih baik." Sahut Ressa dengan tersenyum manis, tidak dingin seperti sikapnya satu bulan ini.
Entah kenapa Tian merasakan sikap Ressa ini lebih menakutkan. "Kenapa Aru gak di ajak masuk? Hira bawa Aru masuk, kasihan di luar banyak nyamuk." Ujarnya, tidak seperti sedang sedih.
Aruna tidak berani bersuara. Dia sama ikut andil dalam masalah ini sampai membuat Ressa seperti sekarang.
"Hei kenapa kalian diam begitu, aku tidak akan menggigit. Aku belum berubah jadi anjing yang kalian bisa rabies kalau di gigitnya." Ressa mengeluarkan candaan untuk melepaskan ketegangan. Tidak perlu kalian tanya bagaimana kondisi perasaannya saat ini.
Ressa tau kalau Dea menginap di rumah sang ayah. Karena ayahnya sore tadi bercerita kalau sedang mengajak Dea jalan-jalan. Dan ia bisa menyimpulkan sendiri, kalau Tian menginap di rumah Aruna karena sedang ingin memadu kasih. Yang tidak Tian dapatkan darinya lagi.
__ADS_1
Itu hal yang wajar, ia juga tidak pernah melarang Tian menginap di rumah Aruna. Ressa hanya kecewa karena Tian berbohong padanya. Tapi lupakan semua itu. Ia yakin Tian sudah kembali jatuh cinta pada Aruna. Jadi biar dia yang mengalah.
"Mumpung kalian semua ada di sini aku cuma mau bilang, karena tidak ada bayiku lagi di sini jadi aku minta dilepaskan dari Tian. Pasti sebentar lagi juga ada keponakanku di sini." Ucap Ressa sambil tersenyum memegang perut Aruna dengan lembut.