
"Sayang, boleh aku bicara sebentar?" Tian meminta agar semua yang ada diruangan keluar dengan isyarat tatapan mata yang memohon. Ressa hanya diam, tidak menanggapi permintaan Tian.
"Aku cuma bermaksud menemani Aru malam ini, kami sudah memutuskan untuh berpisah. Aku pikir tidak masalah kalau satu malam aku menginap di rumahnya."
"Sungguh tidak masalah Tian, aku tidak pernah melarangmu menginap di rumah Aru. Bahkan aku sudah menyuruhmu untuk tinggal di sana." Ressa menjawab dengan sangat tenang sambil tersenyum.
"Lalu kenapa kamu ingin bercerai dariku, Sayang?" Tian menatap dengan sendu, dia sangat ingin mendekap perempuan yang sedang terluka di depannya ini.
"Tidak ada alasan lagi untuk aku mendampingi kamu, Tian. Anak kita sudah tidak ada, jadi aku tidak perlu mengambil ayah Dea menjadi milikku. Lagi pula aku percaya cintamu sudah mulai kembali bersemi pada Aru. Keluarga kalian sudah sempurna, tanpa perlu pengganggu sepertiku." Lagi, Ressa tersenyum manis.
Bibir itu kenapa sangat bisa membohongi hatinya. Dan wajahnya begitu tenang, Tian tau ada banyak kalimat kesakitan yang ingin Ressa ungkapkan tapi ditahannya.
__ADS_1
"Kita bisa membuat anak kembali, setelah aku dan Aru bercerai kita menikah resmi dan memiliki anak, Sayang."
"Kamu mau bercerai atau tidak dengan Aru itu bukan urusanku, Tian. Aku tetap menyayangi kakakku itu dan mendoakan agar dia selalu bahagia. Tapi aku tidak berminat tetap bersamamu."
"Aku tetap tidak akan menceraikanmu, Ressa Azkia." Tekan Tian yang sudah tidak sabar membujuk Ressa. Bisa-bisa dia lepas kontrol kalau begini terus.
"Terserah kamu mau bagaimana, Tian. Mungkin sebutan istri durhaka itu bagus untukku setelah anak durhaka. Aku mau istirahat, pintu keluar masih ada di depan sana." Tunjuk Ressa dengan binar-binar wajah yang tidak luntur. Entah make up apa yang sudah merubah wajahnya jadi glowing seperti ini untuk menutupi kehancuran hidupnya.
"Kamu bicara apa, Sayang. Gak ada istri durhaka, kamu tetap istri terbaikku."
Ressa hanya tersenyum tipis menanggapinya, menarik selimut lalu memiringkan tubuh membelakangi Tian.
__ADS_1
Tian menjaga Ressa, tidak meninggalkannya sendirian. Cukup sudah kesalahan yang dilakukannya, sekarang dia akan menerima apapun perlakuan Ressa.
Tangannya mengusap belakang kepala Ressa dengan penuh kasih sayang. "Bolehkah aku memelukmu untuk melepaskan segala sesakmu, Sayang?"
Ia tau Ressa sedang menangis dalam diam, terlihat dari punggungnya yang turun naik.
"Tidak perlu Tian, dadaku sama sekali tidak sesak." Hanya tidak berfungsi dengan normal lagi saat ini. Sambungnya dalam hati.
Tapi Tian tetap naik ke atas brangkar tidak mempedulikan penolakan Ressa. Bukankah perempuan kalau mulutnya meminta pergi tapi hatinya meminta tinggal. Tangannya melingkar di perut Ressa tidak terlalu erat. Khawatir perut itu masih sakit.
"Mungkin tidak ada maaf lagi yang pantas untukku, tapi aku akan tetap ada di sisimu, Sayang. Maafkan aku yang merasa kewalahan menghadapimu akhir-akhir ini dan merasa lelah. Harusnya aku tidak lelah menemanimu. Tidurlah, malam ini sangat berat untukmu." Tian mengecup belakang kepala Ressa. Ia sangat rindu dengan istri tersayangnya ini.
__ADS_1
Setelah ini mungkin Ressa akan lebih dingin padanya. Tian akan terima semua itu sebagai hukuman dari kesalahannya. Ia berjanji untuk selalu ada di sisi Ressa, walau perempuannya itu menolak.