Aksara Cinta

Aksara Cinta
101. Kepala Batu


__ADS_3

"Ceraikan aku Tian, itu caranya kamu membuktikan kamu cinta aku." Ucap Ressa Tegas, Tian menggeleng pelan dengan permintaan sang istri. Bukan cerai yang dia mau.


"Jangan berbicara seperti itu di depan Erra, Honey." Ujar Tian sambil memohon, kenapa istrinya ini kepala batu sekali. Ia jadi kehabisan cara untuk membujuk.


Erra yang dari tadi berdiri di depan dua orang dewasa itu terbengong-bengong tidak mengerti dengan apa yang sedang mereka bicarakan.


"Honey," panggil Tian pada Erra.


"Yes Uncle."


"Erra bisa tinggalin Uncle sama Tante Ressa sebentar? Pinta Tian dengan sangat manis lalu mengecup puncak kepala gadis kecil itu.


Kepala mungil itu mengangguk lalu berlari meninggalkan ruangan.


"Sudah tidak ada lagikah rasa cinta kamu buatku, Ressa. Tidak maukah kamu melihat perjuanganku sedikit saja. Jujur, aku lelah Sayang."


"Kalau lelah dilepaskan, bukan bertahan." Ressa menanggapi dengan santai. Tian meringis, istrinya ini benar-benar kepala batu ternyata.

__ADS_1


Lelaki itu tidak menjawab, kembali menyandarkan kepalanya di bahu Ressa sampai tertidur. Dia tidak bohong ketika mengatakan lelah. Badannya memang sangat lelah.


Ressa menoleh saat lama tidak ada suara hanya terdengar suara napas yang berhembus, "astaga tidur."


Ressa membaringkan perlahan tubuh Tian ke sofa, membenarkan posisi kakinya. Lalu mencari Hira ke dalam.


"Ra ada kompresan, badan Tian panas."


"Hm, ada." Ressa mengikuti Hira yang berjalan menuju dapur setelah mengambilkan handuk kecil.


"Masih mau bertahan sama Tian?" Tanya Hira serius sambil mengambil baskom dan mengisikan dengan air.


"Gue pengen membuat Tian gak bisa ketemu lo lagi Sa, tapi gue juga mikirin ini." Hira menyentuh dada Ressa dengan ujung telunjuknya. "Gue gak mau lo tambah terluka berjauhan dari Tian."


"Perempuan itu memiliki hati yang lebih kuat dan bergudang-gudang maaf untuk orang yang dia cintai. Sampai kadang terlihat sangat bodoh di mata orang lain. Maafkan kalau itu yang lo mau, gue gak bisa jadi penghalang hubungan kalian." Sambung Hira, setelah mendapat kuliah empat SKS dari sang suami masalah percintaan akhirnya Hira mengalah. Walau sangat sakit melihat Ressa berkali-kali terluka karena Tian.


"Nanti gue pikirin kalau lagi mood," Ressa mengambil baskom dan handuk dari tangan Hira lalu membawanya keluar. Hira menatap nanar sahabatnya itu.

__ADS_1


"Sudah ya, jangan ikut kepikiran begini, yang ada kamu bisa ikutan sakit." Erfan melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


"Kita ke kamar," ajak Erfan saat tidak mendapat jawaban.


Sementara Ressa sedang merawat Tian, tangannya menyeka keringat di kening sang suami, mengompresnya di sana. Ia melepaskan alas kaki dan membuka kemeja Tian agar panasnya cepat turun.


Bibirnya tersenyum miris melihat tanda percintaan yang begitu banyak di tubuh Tian. Ressa menutup kemeja kembali tanpa mengancingnya.


Ia bersandar di sofa yang lain sambil memejamkan mata. Sudah dua bulan lebih dia tidak menyentuh tubuh suaminya itu selain pelukan. Tugasnya benar-benar sudah tergantikan oleh Aruna. Tak terasa air matanya menetes.


Andai bisa mengadu, ingin Ressa mengatakan kalau ia tidak rela orang yang dicintainya di sentuh perempuan lain. Apalagi kakaknya sendiri, dia tidak yakin bisa menyentuh tubuh itu tanpa bayang-bayang Aruna.


"Sstt," Hira segera membawa sahabatnya dalam pelukan. Sedang Erfan mendekati Tian dan menyingkap kemejanya. Dia penasaran apa yang membuat Ressa sampai menangis. Istrinya yang sudah menurut mau dibawa ke kamar malah berbelok melihat sahabatnya menangis.


Ayah Erra itu berdecak pelan, pantas saja Ressa sampai menangis. Sisa percintaan Tian dan Aruna tercetak jelas di sana.


"Kamu mau pergi?" Tanya Erfan pelan. Kali ini kalau Ressa menginginkan pergi dia akan membantu pelariannya.

__ADS_1


Ressa menyeka air matanya lalu menggeleng. Erfan dan Hira saling pandang, kalau itu keputusan Ressa dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


__ADS_2