Aksara Cinta

Aksara Cinta
37. Erra Sakit


__ADS_3

Seperginya Erfan, Tian masih betah diam. Dia bingung harus bicara apa. Memiliki dua orang istri sungguh tidak ada dalam kamus hidupnya.


"Aku boleh masih di sini?" Tanya Tian sambil mengelus perut Ressa, tapi perempuan itu menepis tangannya.


"Aku pulang," ucap Tian sambil tersenyum. Paham Ressa tidak menginginkannya. Tetap berada di sana akan membuat Ressa semakin membencinya.


Ia memang bukan calon ayah yang baik. Mungkin ini hukuman yang pantas untuknya. Audrey dan Ressa tidak ada yang mau menerimanya.


Tian mengendarai mobil tanpa tau arah dan tujuan. Dia bahagia punya anak dari rahim Ressa, walau tidak bisa mendekapnya. Sedang Audrey, Tian tidak pernah berpikir ke arah sana.


*


Sampai di rumah Erfan memberikan putrinya pada babysitter. Dia harus menjinakkan istrinya terlebih dahulu.


"Kenapa sampai marah banget sama Erra, dia cuma anak kecil yang gak ngerti apa-apa." Erfan melepaskan penutup kepala istrinya.


"Aku kecewa sama teman kamu itu," ucap Hira cemberut.


"Hei, kamu lupa Ressa juga teman kamu." Goda Erfan dengan terkekeh kecil. "Jangan marah-marah sama Erra lagi." Katanya seraya membawa sang istri dalam pelukan.

__ADS_1


"Tapi dia menghamili dua perempuan Mas, bahkan hampir bersamaan." Adu Hira, dia tidak terima sahabatnya disakiti. "Bagaimana kalau sampai Ressa tau kalau Audrey juga hamil anak Tian. Dia bisa stress."


"Sayang, itu bukan urusan kita. Ressa bahkan tau kalau Tian sering tidur dengan Audrey. Mas juga sudah mengingatkan," jelas Erfan pelan. "Sekarang yang jadi urusan kita itu Erra, kamu bikin Erra ketakutan dengan bersikap seperti tadi."


"Sakit!" Dalam kamarnya Erra menunjukkan tangannya yang sakit pada Ina, babysitternya.


"Kenapa?" Ina mengompres tangan kecil itu. Pergelangan tangannya yang memerah. Tapi Erra mengeluh sakit di lipatan tangan. Majikan kecilnya ini sangat sensitif dan rentan sakit.


"Erra nakal," gumamnya dengan mata berkaca-kaca.


"Aku panggilin mommy ya," ujar Ina memenangkan Erra.


"Daddy lebih sayang sama mommy, cuma Uncle yang sayang sama Erra." Gumamnya sambil menangis sesenggukan.


Hati Erfan seperti teriris mendengar pengaduan dari mulut kecil itu. Ina memberitahunya kalau Erra sedang merajuk dan sakit tangan.


"Daddy sayang sama Erra," Erfan mengangkat putrinya dalam pelukan.


"Daddy jangan ke sini! Nanti mommy marah sama Erra lagi," usirnya.

__ADS_1


"Tangannya sakit, kita periksa ke dokter ya, Sayang." Bujuk Erfan, gadis kecil itu menggeleng bangkit dari pelukan sang daddy.


"Ya sudah, Erra tidur daddy temani." Pasrah Erfan, anaknya ini mewarisi sikap keras kepalanya.


"Go Daddy, go!" Usir Erra lagi.


Erfan menghela napas panjang. Anak sekecil itu sudah mengerti arti kecewa. Ia kembali ke kamar, kamar mereka bersebelahan terhubung dengan connecting door.


"Tangan Erra terkilir, kamu tarik tadi. Dia gak mau aku dekati, cemburu sama kamu." Jelas Erfan frustasi, ia juga tidak bisa menyalahkan Hira. Bisa-bisa istrinya yang mengamuk lagi.


Hira mengintip putrinya yang berbaring membelakangi mereka. Punggung anak itu turun naik, terlihat jelas sedang menangis.


"Kalau mau marah mikir dulu, Erra itu tulangnya tidak seperti anak yang lahir normal." Erfan mengingatkan. Ibu satu anak itu mendekati putri semata wayangnya.


"Maafin Mommy sudah bikin Erra sakit." Lirih Hira penuh penyesalan, memeluk putrinya dari belakang.


Gadis kecil itu langsung berhenti menangis takut sang mommy kembali marah. Ia memejamkan mata pura-pura tidur.


Anak ini dewasa sebelum waktunya, padahal Hira cuma mengajarkan untuk mandiri sejak dini, bukan untuk menjadi dewasa dengan segudang kepura-puraan.

__ADS_1


"Sini tangannya mommy tiup biar gak sakit lagi. Mommy gak marah sama Erra, mommy sayang sama Erra." Hira memejamkan mata seraya memeluk putri kecilnya. Tapi gadis kecil itu tak mempedulikan sang mommy, masih setia dengan aktingnya.


__ADS_2