
Ressa membuka pintu setelah selesai mengurus Tian. Bibirnya menerbitkan senyuman pada anak kecil yang menatapnya tajam.
"Masuk," ajaknya pada Aruna dan Denis. "Tian ada di kamar." Ujarnya lalu ke dapur membuatkan minuman untuk tamunya.
Setelah membuatkan minuman Ressa kembali ke ruang tamu, Aruna sedang menyusul Dea ke kamar. Perempuan itu memejamkan mata seraya menyandarkan punggung di sofa.
"Ressa!" Panggil Denis, ia kasihan melihat Ressa yang sayu. Kondisi perempuan itu masih belum pulih seratus persen.
"Hm, kenapa?" Ressa membuka mata kembali menyunggingkan senyuman.
"Istirahat di kamar," sebut Denis.
"Iya," jawab Ressa diikuti anggukan. Dia pergi ke kamar satunya. Perutnya memang terasa agak nyeri, dan juga sedang malas berdebat.
Tian tersenyum dengan kedatangan Dea kembali ke rumahnya. Sini Sayang," panggilnya.
Dea mendekat duduk di sisi ranjang samping Tian dengan wajah ditekuk.
"Maafin Daddy gak jujur dari awal ya, Sayang. Daddy cuma gak mau Dea kecewa. Maaf juga Daddy gak bisa sama Mommy." Tian menggenggam erat tangan putrinya.
__ADS_1
"Daddy sayang sama Dea. Kalau Dea mau, Dea bisa tinggal di sini sama Daddy, Sayang."
"Dea gak mau tinggal sama Tante Ressa!!" Tolak Dea lantang. "Dea mau tinggal sama Daddy, tapi gak ada Tante Ressa!" Lanjutnya.
Tian mengelus kepala Dea dengan sayang, "kenapa?"
Ressa yang ingin masuk ke kamar samping tidak sengaja mendengar penolakan Dea. Ada goresan-goresan kecil yang menyayat hatinya, menimbulkan rasa perih.
"Dea gak suka Tante Ressa yang jadi istri Daddy!" Tukas Dea.
"Dea, Mommy gak pernah ngajarin gitukan!" Tegur Aruna yang berdiri di depan pintu.
"Dea, tantemu gak pernah merebut Daddy!" Tidak sengaja Aruna membentak Dea karena emosi, "Mommy mengajakmu ke sini bukan untuk membuat keributan lagi!"
"Sstt, tenang Aru." Bisik Denis lembut, tangannya mengusap punggung Aruna.
Ressa yang kembali mendengar teriakan Dea hanya bisa menghela napas berat.
"Pulang!" Aruna menarik tangan Dea dengan kasar.
__ADS_1
"Mommy sakiit, Dea mau sama Daddy." Tangis Dea pecah.
"Mommy bilang pulang, pulang Dea! Kita kembali ke Sydney!" Aum Aruna, anaknya ini tidak bisa diberitahu dengan lembut saat seperti ini.
"Aru, jangan kasar." Tegur Tian lembut, melepaskan tangan Dea dengan pelan dari cengkraman Aruna. "Tangan Dea nanti sakit."
Tian ingat kejadian saat Hira menarik Erra sampai tangannya terkilir. Perlu waktu berminggu-minggu untuk memulihkan kembali.
"Sayang, dengarkan Daddy. Sampai kapanpun Daddy akan tetap menyayangimu. Jangan benci Tante Ressa, please." Tian menegakkan tubuhnya membawa Dea dalam pelukan.
Tian khawatir mendengar Dea seperti ini Ressa bisa memutuskan pergi darinya. Perempuan labil itu sulit ditebak isi kepalanya apa.
"Kalau Dea marah-marah, Tante Ressa bisa jadi sedih." Lelaki itu menempelkan pipinya pada sang putri, menunjukkan kalau dia sangat menyayangi Dea.
"Aru kenapa memarahi Dea seperti itu," Ressa mendekati Dea yang masih menangis. Mendengar Dea berteriak sakit membuat Ressa khawatir.
"Dea, maafin Tante." Ressa menghapus air mata di pipi Dea dengan lembut. "Dea bisa tinggal di sini sama Daddy, biar Tante yang pindah."
Ressa tersenyum mengacak puncak kepala Dea yang perlahan berhenti menangis.
__ADS_1
"Sayang, jangan pergi!" Tian menahan tangan Ressa yang ingin menjauh.