
"Buba...!!!" Teriak Dea dari depan pintu. "Siapa yang bikin Buba luka, mau Dea cincang-cincang." Sarkasnya galak, Ressa meringis mendengar itu.
"Kalian kenapa sih suka sekali teriak-teriak. Ini rumah sakit bukan tempat karaoke." Tian menggeleng pusing, tadi Erra sekarang putrinya yang mengeluarkan suara maut.
"Daddy jahat!" Sarkas Dea, naik ke atas brankar.
"Emang Daddy ngelakuin kejahatan apa?" Tanya Tian polos membuat Dea berdecak, tidak menggubris pertanyaan sang daddy.
"Gak boleh ngomong begitu," Ressa memeluk putri sambungnya. Ia takut Dea jadi psikopat seperti Audrey.
"Siapa yang jahatin Buba?" Tanyanya menangis dipelukan Ressa.
"Bukan siapa-siapa, Sayang. Buba juga gak tau siapa," bohong Ressa. Tidak ingin menanamkan kebencian di hati Dea.
"Awas saja kalau Dea ketemu orangnya. Mau Dea karungin dan jual di pasar loak!"
"Bagusan OLX kan daripada pasar loak." Celetuk Erfan tidak sengaja menanggapi ucapan Dea sambil tertawa karena ingat perbincangannya kemaren bersama Tian dan Denis.
"Sinting-sinting!" Gumam Denis pelan agar tidak di dengar anak di bawah umur.
__ADS_1
"Jadi Daddy beneran ketemu Tante Ressa di OLX?" Tanya Erra penasaran. Membuat laki-laki itu mendapat pelototan dari Ressa dan Hira secara bersamaan.
Erfan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Putrinya ini harus dimasukkan ke sekolah komunikasi agar tidak bertanya sembarangan di saat situasi yang tidak tepat. Bisa membahayakan ketenangan hidupnya di masa depan.
Denis dan Tian sudah puas mentertawakan Erfan yang seperti kucing persia di bawah tatapan Hira.
"Tante Ressa gak ada di OLX Sayang." Erfan meluruskan.
"Tapi kemaren Daddy bilang mau nyari Tante Ressa di OLX," perjelas Erra.
"Ngajarin anak itu yang benar, Mas!!" Omel Hira, lalu memukul punggung Erfan dengan keras.
Dea jadi cengo melihat tingkah orang dewasa yang seperti anak kecil.
"Kalian ngomongin apaan sih, kalau mau ribut di luar aja!" Ucap gadis yang beranjak remaja itu jutek. Tian dan Denis yang tadi ketawa jadi langsung diam. Sedang Erfan tidak melanjutkan dramanya lagi.
"Kenapa marah-marah Sayang," Tian mendekati Dea lalu mengusap di kepala dengan lembut. Ressa menggeleng pelan mengisyaratkan agar tidak ada yang bercanda lagi.
"Dea sama Daddy, biar Buba istirahat dulu, Sayang." Tian menurunkan Dea dari brankar membawanya duduk di pangkuan. Ressa membelai pipi Dea sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
Putri Tian itu tiba-tiba menangis dalam pelukan sang ayah.
"Dea kenapa, Sayang?" Tian mengusap-usap bahu Dea.
"Buba lagi sakit, kalian ketawa-ketawa." Jawab Dea sendu, Tian terdiam. Bukannya dia tidak merasa sedih, mereka ketawa karena memang Erfan sangat lucu untuk ditertawakan. Momennya sayang kalau dilewatkan.
"Maafin Daddy," ucap Tian.
Menghadapi perempuan yang marah cukup katakan maaf ketika melakukan kesalahan ataupun tidak. Maka semua akan cepat selesai. Karena Dea termasuk perempuan jadi Tian melakukan trik itu.
"Daddy ketawa karena mau menghibur Buba, Sayang. Kata orang kalau hati kita bahagia bisa mempercepat kesembuhan." Jelas Aruna bijak, tapi tangannya mencubit pinggang Denis dengan seluruh tenaga.
"Aaaduuuh!" Teriak Denis kelepasan sambil mengusap pinggangnya yang kena sasaran. Erfan ingin sekali tertawa tapi sekuat tenaga menahannya.
"Uncle Denis kenapa, apa yang sakit?" Erra minta diturunkan. Gadis kecil itu mendekati Denis, rasa empatinya memang sangat tinggi.
Denis berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Erra. "Di sini yang sakit Honey," katanya membawa tangan mungil itu ke dadanya.
Dea mendengus, pagi-pagi terlalu banyak drama di sini. Kenapa orang dewasa sangat suka bertengkar, beberapa menit kemudian sayang-sayangan. Sungguh sangat menyebalkan.
__ADS_1