
"Assalamualaikum Ibu," Jeri mengucapkan salam setelah memasuki istana besar peninggalan sang kakek. Sudah lama ia tidak pulang ke rumah, lebih memilih tinggal di apartemen.
"Wa'alaikumsalam, kamu ya bikin Ibu khawatir aja lama gak pulang." Ibu Jeri hanya tinggal bersama pelayan di rumah besar ini. Ia hanya memiliki satu putra dan satu keponakan. Keponakannya itu pun sudah belasan tahun pergi dari rumahnya.
Jeri menyalami ibunya lalu memeluk dengan penuh kasih sayang. Tidak Audrey lihat lagi Jeri yang arogan kalau di bersama ibunya, lelaki itu sangat hangat.
"Kamu bawa siapa? Gak mau dikenalin sama Ibu?" Goda sang ibu pada Jeri.
"Di ajak duduk dulu Bu, masa tamunya di suruh berdiri. Kalau kakinya pegal emang Ibu mau mijetin," Jeri balik menggoda sang ibu. Obrolan ibu dan anak itu sangat akrab.
"Dasar anak nakal!" Gumam sang ibu, menarik lembut tangan Audrey membawanya duduk di sofa.
"Kenalin calon istriku, Bu. Namanya Audrey." Jeri ikut duduk di samping Audrey. "Ibu mau punya menantu gak. Kalau gak mau aku bawa pulang lagi nih," candanya.
"Ibu nyuruh cari kakakmu, bukan malah bawa pacar ke rumah!!" Sarkas sang ibu ketus.
Audrey dibuat merinding, mungkinkah Ibu Jeri mau menerimanya sebagai menantu.
Jeri hanya cengengesan, "Ibu bikin Audrey takut aja."
"Kamu sih Ibu kasih tugas gak pernah dikerjakan. Pasti kamu belum ketemu kakakmu kan?" Desak sang ibu, Jeri menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Hanya sedang akting iklan sampo anti ketombe.
"Jadi menantunya gak mau nih?" Lelaki itu kembali mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Tentu saja mau, tapi kasian dia kalau punya suami gak jelas seperti kamu ini." Ibu Jeri tersenyum pada Audrey.
Huhh, perempuan itu akhirnya bisa bernapas lega setelah menahan napas diantara perdebatan ibu dan anak.
"Ibu..." rengek Jeri manja.
"Gak ada ibu-ibuan. Cari kakakmu dulu sana, baru menikah!!" Sarkas sang ibu ketus.
Audrey jadi bingung, ada apa dengan kakaknya Jeri. Ibu Jeri sepertinya sangat menyayangi anaknya itu.
"Kak Tian ada di sekitar sini, Bu. Dia sudah lama kembali ke Indonesia," jawab Jeri cemberut.
Audrey membulatkan mata, jadi kakak yang selalu disebut Ibu Jeri dari tadi itu adalah Tian. Oh Tuhan, nyawanya bisa dalam bahaya.
"Ibu sakit, malu ih dilihat Audrey. Ibu bar-bar banget," celetuk Jeri.
"Suruh pulang kalau sudah ketemu!!" Titahnya, "atau Ibu sendiri yang menemuinya."
Jeri menggeleng pelan, bagaimana Ia bisa membawa Tian pulang kalau dia berencana menikahi Audrey. Ia tidak ingin Audrey terluka.
"Nanti aku ajak Ibu ketemu mereka." Ucap Jeri, dia harus menjauhkan Tian dari Audrey. Kalau Audrey tidak membuat ulah bisa saja Tian yang merealisasikan pembalasan dendamnya.
"Mereka, maksud kamu?" Sang ibu meminta penjelasan lebih lengkap.
__ADS_1
"Anak dan istrinya, Ibu. Emang siapa lagi," Jeri mendengus pelan.
"Jadi Tian sudah menikah dan memiliki anak?" Tanyanya bersemangat karena sudah memiliki cucu. Jeri mengangguk pelan, dalam hatinya sangat cemas.
Banyak pertanyaan yang bersarang di kepala Audrey, apa sebenarnya yang sudah terjadi. Dan anak Tian, mereka baru menikah mana mungkin Tian langsung memiliki anak.
"Anaknya sebesar apa?" Tanya Ibu Jeri antusias, Audrey jadi terabaikan.
"Mungkin sudah SMP."
Audrey ikut terkejut dengan jawaban Jeri. Cerita apa lagi yang dikarang lelaki di sampingnya ini. Benarkah anak Tian sudah besar, kenapa ia tidak pernah tau.
"Bawa Ibu ketemu mereka sekarang!!"
Jeri hanya mengangguk menyetujui, tidak mungkin menolak keinginan ibunya itu.
Audrey mendesah pelan, Tian dan Ressa lah yang sangat dinantikan di rumah ini bukan dirinya. Sudah dipastikan dia akan tersisih kembali.
"Aku pulang naik taksi aja ya, kamu antar ibumu ketemu Tian." Papar Audrey sambil tersenyum setelah Ibu Jeri pergi dari ruang tamu.
Jeri jadi tidak enak pada Audrey, ibunya lebih antusias pada Tian.
"Aku antar kamu pulang dulu baru bawa Ibu ke rumah sakit. Sabar ya Sayang. Ingat, aku akan selalu ada buat kamu. Jangan ambil hati karena ibu mencuekimu ya."
__ADS_1
"Aku paham," sahut Audrey lagi-lagi tersenyum. "Aku paham, kalau aku tidak pantas dibanggakan."