
"Audrey!!"
Baru selesai berucap, sudah ada yang menyerukan namanya. Dia sangat hapal itu suara siapa. Belum sempat membalikkan badan Jeri sudah melingkarkan tangan di pinggangnya. Memeluk posessif, tidak memberikannya kesempatan untuk melarikan diri lagi.
Ressa menarik napas lega, tidak sia-sia dia mengulur waktu agar ada yang datang menahan Audrey.
"Ingin bermain-main denganku, hm." Jeri menarik Audrey mundur agar tidak terlalu dekat dengan Ressa. Sebenarnya dia tadi tidak pulang, hanya mendinginkan kepala sebentar ke taman.
Perempuan yang mengira Jeri sudah pulang itu tidak menjawab.
"Jangan takut, aku tidak menggigitmu." Kekeh Jeri memutar tubuh Audrey agar menghadapnya, "ayo kita pulang. Sebentar lagi Tian kembali, aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa." Laki-laki itu tersenyum membelai pipi Audrey, hatinya sangat lega tidak kehilangan perempuannya ini.
"Apa maksudmu Jeri, apa Tian yang melukai pipi Audrey?" Tanya Ressa garang.
"Ah, tidak. Jeri hanya bercanda, ayo kita pulang." Ajak Audrey, sebelum Ressa memberondonginya dengan banyak pertanyaan.
"Aku pulang Sa," pamit Jeri menggandeng tangan Audrey.
"Iya," sahut Ressa. Ingin menahan juga tidak bisa, dua orang itu sudah berjalan meninggalkan ruang rawat.
__ADS_1
Di depan pintu lift Tian berpapasan dengan Jeri dan Audrey. Lelaki itu bergegas ke ruangan istrinya, untuk apa Audrey datang ke rumah sakit. Sedang tadi Jeri bilang perempuan itu pergi. Pikirannya sudah melanglang buana, khawatir terjadi sesuatu pada Ressa.
"Sayang, kamu gak papa?" Tian berlari kecil mendekati Ressa.
Ressa menatap Tian bingung. "Aku sehat, kata dokter sore ini sudah boleh pulangkan?"
Kalau bisa cemberut ia ingin memasang wajah cemberut di depan Tian.
"Iya-iya sudah boleh pulang. Tadi aku lihat Audrey ada di rumah sakit bersama Jeri. Aku khawatir dia melukai kamu lagi."
Ressa menggeleng lalu menyandarkan kepala di bahu Tian setelah lelaki itu duduk di sampingnya.
"Dia gak ngapa-ngapain kamu kan?" Potong Tian cepat, sebelum Ressa selesai bercerita.
"Kamu yang ngapa-ngapain dia kan?" Tuduh Ressa, Tian memelototkan mata. "Kenapa jadi nuduh aku, Sayang. Aku gak ngapa-ngapain dia."
"Bener? Kenapa pipi Audrey luka?" Tanya Ressa penuh selidik.
"Ya mana aku tau, emang aku dua puluh empat jam bersama dia, jadi tau semua tentangnya." Kilah Tian bersikap setenang mungkin.
__ADS_1
Istri Tian itu mendengus, "aku gak percaya," gumamnya.
"Sayang, aku cuma gores pipinya sedikit. Itu gak sebanding dengan apa yang dia lakuin sama kamu," jawab Tian kelepasan.
"Nah, tuhkan bener. Kamu yang bikin Audrey luka." Katanya mencubit pinggang Tian, tapi sang suami sudah siaga lebih dulu, menjauh dari Ressa sambil tertawa.
"Sayang, jarinya jangan nakal. Jari kamu ini gunanya buat ngelus bukan buat nyubit." Tian menangkap kedua tangan Ressa menepuk-nepukkan keduanya seperti mengajak bayi bermain.
"Dan tangan kamu itu gunanya bukan buat melukai apalagi membunuh orang!!" Sarkas Ressa menarik tangannya lalu membaringkan badan membelakangi Tian.
"Honey, aku gak bunuh orang." Ringis Tian naik ke brankar, memeluk Ressa dari belakang.
"Kamu itu gak malu ya, sudah mencampakkannya malah tega ingin melukainya. Pas lagi butuh aja, mencarinya!!" Seru Ressa ketus.
"Sayang... Sayang, iya aku salah. Gak usah diungkit-ungkit lagi." Tian membenamkan wajahnya di punggung Ressa. "Aku sudah cerita kan, aku mau tanggung jawab. Tapi dia yang pergi."
"Tapi aku gak suka kamu menyakiti orang dengan alasan apapun, Sayang." Ressa menepuk-nepuk tangan Tian yang melingkar di punggungnya.
"Iya, gak lagi." Ucap Tian lemas, bagaimana kalau Ressa tau dia juga membuat kaki Agam tertusuk pisau karena tidak sengaja pisau yang dilemparnya menancap di kaki lelaki itu.
__ADS_1