Aksara Cinta

Aksara Cinta
56. Waspada


__ADS_3

Ressa membaringkan tubuhnya di sofa sebentar karwna malas beranjak ke kamar. Akhirnya dia bisa merasakan bagaimana rasanya jadi istri bos seperti sahabatnya dulu. Malah yang jadi suami sahabatnya itu adalah bos di tempatnya bekerja.


Ia hampir terlelap saat pintu ruangan dibuka. Ressa enggan membuka mata, paling suaminya yang kembali karena ketinggalan sesuatu.


"Enaknya yang jadi partner ranjang Pak Bos." Sindir Zeni yang pura-pura meletakkan berkas ke meja presdir.


Tadi Zeni melihat sendiri bagaimana bos yang jadi incarannya itu berjalan sambil merangkul Ressa. Ia muak melihat perempuan yang sok jual mahal itu.


Ressa menajamkan pendengarannya, ia sangat kenal suara itu. Tentu saja kenal, selama tiga tahun dia bekerja bersama Zeni. Perempuan yang entah kenapa selalu dengki padanya.


"Hm, ngomong apa Zen?" Ressa terpaksa bangkit dari tidurannya padahal sangat malas.


"Lo itu munafik ya, katanya gak suka sama bos. Eh malah nempel-nempel sekarang, dibayar berapa lo sekali tidur."

__ADS_1


Ressa menautkan kening melihat Zeni yang bersedekap dada di depannya. "Gue pernah ngomong gak suka ya? Gak inget tuh. Seingat gue, gue pernah ngomong mana mungkin bos suka sama perawan tua kayak gue. Kalo kenyataannya bos suka, apa itu salah gue?" Sahutnya tenang sambil tertawa kecil.


Kenapa begitu banyak orang yang iri dan dengki di dunia ini. Kadang ia sampai bingung pernah bikin dosa apa sama orang lain, sampai selalu dihujat.


"Paling lo pake pelet, mana ada cowok yang mau sama perempuan kayak lo, kecuali Agam."


Ressa membelalakkan mata, rupanya Zeni sangat membencinya sampai harus menuduhnya menggunakan pelet.


"Kayaknya bukan cuma lo deh yang harus disadarin, bos juga. Perempuan ular kayak lo gak pantes sama Bos Tian," sarkas Zeni geram.


"Oh iya, yang pantes cuma lo ya," sindir Ressa. "Dah sana keluar, jangan sampai kesayangan gue murka sama lo. Nanti lo dipecat, gue jadi merasa bersalah." Ujarnya santai lalu membaringkan tubuh kembali.


"Dasar perempuan ular!" Desis Zeni.

__ADS_1


"Mending perempuan ular daripada perempuan iblis, walau gak ada bedanya sih." Sahut Ressa sambil tertawa kecil.


Zeni yang kesal meninggalkan ruangan itu sambil mencak-mencak. Ressa menggeleng pelan lalu memejamkan mata, sampai tidak sadar kalau suami sudah selesai meeting.


"Astaga Sayang, kenapa tidur di sofa. Badan kamu bisa sakit semua." Tian memindahkan Ressa ke ruangannya. Ia mencek cctv ingin melihat apa saja yang dilakukan istrinya saat sendirian. Tapi yang ditemukannya malah hal yang membuatnya murka.


Sepertinya Tian harus membuat pengumuman kalau mereka sudah menikah. Dia tidak bisa membiarkan Ressa selalu jadi cibiran mulut-mulut pedas orang.


Ressa menggerakan tubuhnya, saat matanya membuka sempurna dia baru menyadari tidur di ranjang bukan sofa. Pasti banyak yang jatuh cinta pada lelaki seperti Tian kalau tidak tau bagaimana kehidupannya. Sungguh seorang pemuja wanita yang hebat.


Baru beberapa hari menjadi istrinya saja, dia merasa jadi perempuan yang sangat dicintai. Padahal pada semua wanita pasti Tian memperlakukan seperti itu. Andai ia yang menjadi satu-satunya di hati Tian pasti akan sangat bahagia.


Mengingat semua kebiasaan Tian, ia harus waspada agar tidak jatuh terlalu dalam dalam pelukan lelaki itu. Agar nanti ketika terpuruk tidak terlalu sakit. Ressa tidak ingin terlalu mendekap, hanya sedang menikmati waktu yang menjadi miliknya.

__ADS_1


__ADS_2