
"Daddy, Dea dapat juara pertama di sekolah." Beritahu Deandra pada ayahnya yang baru pulang dari kantor.
"Really?" Tian meletakkan tas ke sofa lalu menggendong Deandra sambil berputar-putar. "Daddy bangga sama kamu," ucapnya seraya menciumi pipi sang putri. Membuat gadis itu merasa sangat dicintai.
Bukankah sudah keahlian Tian membuat perempuan merasa berbunga-bunga dengan perlakuannya. Termasuk putrinya sendiri.
"Dea dapat hadiah apa?" Tanya Dea manja mengalungkan tangan di leher sang ayah.
"Kamu mau hadiah apa Sayang. Daddy akan usahakan, asal jangan minta kapal pesiar atau pulau." Jawab Tian dengan tersenyum manis.
"Hm, Dea mau apa ya." Gumam Dea sambil berpikir, "mau kita liburan sekeluarga aja deh."
"Kalau yang lain setuju, Daddy akan penuhi. Kita liburan sekeluarga." Tian menatap sang istri yang mengangguk kecil. Putranya juga sudah genap empat puluh hari, tidak masalah kalau dibawa jalan-jalan.
"Daddy Denis dan Mommy bisa?" Tanya Dea penuh harap.
"Tentu saja bisa Sayang, apasih yang enggak buat kesayangan Daddy ini." Denis mencubit hidung Deandra yang menatap ke arahnya.
"Nenek?" Putri Tian itu menoleh ke arah sang nenek.
"Bisa Sayang."
"Semua bisa," ujar Dea pada sang ayah. Tian mengangguk, "terserah Dea mau pergi kemana. Kita akan ikut karena semua sayang Dea," ujarnya menegaskan.
"Thanks Daddy."
"Your welcome Honey, Daddy mandi dulu. Oke?" Tian menurunkan anak gadisnya yang sekarang semakin manja ini.
__ADS_1
"Yes Daddy," Deandra mengangguk setuju.
Tian membawa istri dan putranya ke kamar. Ia tidak menyentuh baby boy itu sebelum mandi. Karena bisa mendapat petuah dari sang istri sehari semalam kalau melakukannya.
"Daddy kangen boy, Rain sudah bisa apa hm?" Lelaki itu menciumi pipi putra bungsunya, Raindra Adley.
"Mommy juga kangen, masa si boy aja yang di sapa." Ressa melingkarkan tangannya di pinggang sang suami dari belakang.
"Mommy juga kangen, hm." Tian membalikkan badan, menarik Ressa untuk duduk di pangkuannya.
"Gak ada yang ngelarangkan kalau Daddy melepaskan kangen Mommy di depan Rain." Katanya sambil tersenyum mengusap bibir Ressa dengan jempolnya.
"Gak ada yang ngelarang kalau Mommy yang mau. Akan dilarang kalau Mommy lagi gak mau," jawab Ressa usil. Bersandar dengan nyaman di bahu Tian.
"Jadi peraturannya begitu, hm. Daddy boleh bikin peraturan juga dong. Mommy gak boleh nolak kalau Daddy yang mau." Tian mengelus bahu kiri Ressa dengan kedua tangannya.
"Arrkhh, teruskan Sayang." Gumam Tian yang mendapatkan setruman mendadak. Seluruh tubuhnya seperti dialiri listrik, membuatnya menegang.
"Cukup," ujar Ressa tersenyum usil setelah membuat Tian panas dingin.
"No Honey, teruskan please." Mohon Tian dengan tatapan mengiba.
"Rain belum tidur Sayang," katanya turun dari pangkuan Tian beralih naik ke tempat tidur, memeluk putranya.
"Kamu harus selesaikan Honey, aku gak terima diginiin." Tian menjauhkan istrinya itu dari sang putra. Untung Rain sedang anteng menggerak-gerakkan tangannya lucu.
"Gak sekarang Sayang," tolak Ressa.
__ADS_1
"Tidak ada penolakan Sayang. Kamu lupa, aku bisa membuatmu bertekuk lutut pada senjataku ini, hm." Tangan Tian bergerak melepaskan Ressa yang sedang mendekap putranya. Setelah itu ia menggendong sang istri ke sofa.
"Gak ada kesempatan untukmu melarikan diri Sayang. Sebelum kamu memanjakannya." Tian menciumi pipi Ressa dengan senyuman menggoda.
"Daddy mesum, ih!"
"Aku selalu mesum kalau lihat kamu Honey. Kamu suka banget menggodaku." Tian menatap teduh istrinya, dia tidak melakukan apa-apa selain memeluk kesayangannya itu.
"Aku gak ada goda kamu Sayang," elak Ressa dengan memelas.
"Ini apa, hm." Tian membawa tangan Ressa ke lehernya, menekankan di sana.
"Mommy cuma khilaf Daddy," Ressa menyengir lebar membenamkan wajahnya di dada bidang Tian.
"Itu bukan khilaf Sayang, kamu nakal!! Mau sekarang, hm."
Ressa menggeleng pelan, "nanti aja."
"Ya sudah, sekarang gini aja dulu biar kangennya hilang." Senyuman terbit di bibir Tian.
"I love you," gumam Ressa tiba-tiba menyosor bibir sang suami. Tian tidak bisa menolak, mengikuti permainan istri nakalnya.
"Tuh kamu yang suka godainkan," Tian menggigit bibir Ressa gemas menutup aktivitas kesenangannya.
"Aku cuma lagi ngasih hadiah suami tersayangku ini," ucapnya dengan senyuman lebar.
"Makasih hadiahnya Honey, I love you too."
__ADS_1
...END...