
"Brengsek!!" Agam membanting ponselnya saat tau Ressa mengirim pesan pada Tian.
"Pindah lokasi sekarang!" Titah Agam pada anak buahnya. Ia langsung kembali ke kamar.
Ressa yang baru menyelesaikan makan menatap Agam polos lalu bertanya, "belum tiga puluh menitkan? Gue belum mandi.
"Ikut gue, nanti aja mandinya." Agam menarik Ressa agar mengikutinya.
"Mau kemana?" Tanya Ressa cemas. Kalau mereka pergi, Tian pasti tidak akan tau keberadaannya lagi. Itu menyulitkannya untuk kabur dari Agam.
"Diam kelinci nakal!" Teriak Agam membawanya keluar kamar.
"Kasih tau dulu kita mau kemana?" Tanya Ressa cerewet.
"Berisik!!" Agam meminta bius pada anak buahnya, lalu membekap hidung Ressa.
"Agaaaam, gue gak bisa napas." Rengek Ressa dengan tatapan memohon pada Agam.
__ADS_1
"Gue tidak akan tertipu lagi, kelinci nakal!" Serunya tersenyum devil. "Sempat-sempatnya memberitahu, Tian." Gumamnya setelah Ressa hilang kesadaran. Agam langsung membawanya ke mobil.
"Ambil jalur lain, mereka pasti sedang menuju ke sini." Perintah Agam, membawa Ressa ke apartemen Audrey. Di sana tempat yang paling aman, Tian tidak akan mencurigai Audrey yang menculik Ressa.
"Gila, kenapa dibawa ke sini. Kalau Jeri datang gimana!!" Teriak Audrey saat membuka pintu langsung mendapati Agam menggendong Ressa yang tengah pingsan.
"Tinggal beritahu Jeri agar jangan ke sini. Sementara gue siapin tempat dulu. Untuk malam ini aja Ressa gue titip di sini," bujuk Agam.
"Baiklah. Langsung eksekusi, jangan menunggu bangun." Titah Audrey, dengan tersenyum devil. Kembali ke kamarnya mengambil sesuatu lalu memberikan pada Agam, "kamera." Katanya seraya melempar kamera kecil yang disambut Agam dengan gesit.
Semenjak hadirnya Ressa apa yang dimiikinya pergi. Semua impiannya kandas di tengah jalan. Ressa memang harus membayar semuanya. Bersiaplah, setelah ini semua akan jijik melihatmu, termasuk Tian dan Jeri, gumam Audrey riang.
"Bilang kalau sudah. Aku akan memberikan hadiah untuk perempuan itu!" Teriaknya pada Agam. Lelaki itu mengacungkan jempolnya.
Agam membaringkan Ressa yang masih belum sadar ke tempat tidur dengan hati-hati. Andai Ressa mau menerimanya, dia tidak perlu melakukan cara seperti ini.
"Bos, rumah bos dibakar Tian!!" Beritahu anak buahnya saat Agam ingin menutup pintu kamar.
__ADS_1
"Sial, gara-gara Ressa gue rugi berapa miliyar!" Serunya meninggal kamar lalu mendatangi Audrey.
"Apalagi?" Tanya Audrey ketus.
"Rumah gue dibakar, tolong jaga Ressa sebentar. Nanti gue kembali," Agam membawa anak buahnya pergi setelah Audrey mengangguk setuju.
Perempuan itu menyeringai iblis masuk ke dalam kamar mengambil sesuatu yang akan digunakannya untuk memberikan Ressa kejutan.
"Aku berbaik hati padamu melakukannya saat kamu tidak sadar, agar tidak terasa sakit." Ucap Audrey sambil menatap cutter di tangannya. Lalu menggores pipi kanan Ressa. Perempuan itu menikmati setiap goresan yang diciptakannya.
"Kamu merebut semua yang aku miliki, Ressa. Kamu mengambil Tian dariku, sekarang kamu juga ingin mengambil Jeri. Kamu yang sudah membuatku diusir!!" Teriak Audrey marah, lalu melakukan goresan di sebelah kiri.
"Aaaaaaarrrgghh. Sakiiitttt!" Teriak Ressa karena pengaruh biusnya habis, perempuan itu tersadar. "Audrey saakiit. Lepasin!! Mohonnya.
"Sudah selesai Ressa," Audrey menepuk pipi Ressa. Membuat perempuan itu meringis kesakitan. Dia tidak bisa banyak bicara karena lukanya pasti akan semakin mengeluarkan darah.
"Rasa sakit ini tidak seberapa dibanding rasa sakit hatiku, Ressa." Audrey membersihkan cutter yang penuh darah itu dengan jemarinya sambil tersenyum puas. Lalu pergi dari kamar yang Ressa tempati.
__ADS_1
"Audrey Tooloong!" Perempuan itu hanya tersenyum hilang di balik pintu. Karena darah yang terus keluar dan rasa sakit tak tertahankan Ressa hilang kesadaran.
Audrey menyimpan cutter dalam laci lalu mencuci tangan, setelahnya ia tidur dengan bahagia. Tanpa mempedulikan darah di pipi Ressa yang terus keluar. Hatinya telah mati oleh kebencian. Rasa takutnya sudah menghilang, yang masih tersisa hanya dendam.