
Tian berdiri mendekati Audrey, lalu menyentuh dagu perempuan itu dengan lembut. "Kamu mau bukti, hm?"
"Tentu aku perlu bukti Tian, kamu sudah menuduhku sembarangan." Ujar Audrey menghapus air matanya. Ia sudah berhenti menangis melihat Tian mau mendekatinya.
"Denis berikan buktinya!" Ujar Tian tanpa ekspresi, Denis memperlihatkan foto-foto Audrey saat jadi pasien disalah satu dokter aborsi yang sudah di cetak juga kwitansi pembayaran.
Audrey mematung di tempat. Jadi Tian sudah tau apa yang dilakukannya. Padahal dia sudah memberikan uang tutup mulut.
"Kalau kamu bersikeras mengelak maka mereka juga akan terseret, aku akan melaporkan klinik aborsi itu!" Tegas Tian lalu kembali ke kursinya. "Sekarang pergi dari hadapanku sebelum aku melakukan semua itu!"
Audrey sudah tidak memiliki muka lagi di hadapan Tian, lelaki itu sangat marah padanya. Padahal dia sedang menyusun rencana keguguran saat sudah menikah dengan Tian nanti. Tapi semuanya hancur berantakan, rencananya gagal. Tian tidak semudah itu bisa dikelabui.
__ADS_1
Tian kembali fokus pada berkas-berkas, setelah Audrey pergi dengan perasaan yang hancur. Tega tidak tega ia harus melakukannya, walau hampir luluh saat melihat Audrey berlinangan air mata.
Dia paling tidak bisa melihat perempuan menangis. Dengan membayar perempuan untuk teman tidur dia tidak akan membuat mereka menangis. Berbeda ketika pacaran, itulah salah satu alasan Tian benci komitmen selain pernikahan itu merepotkan. Banyak kesalahpahaman didalamnya. Itu dulu saat dia belum mengenal Ressa dan memutuskan untuk serius dengan perempuan itu. Walaupun awalnya hanya sekedar main-main.
Baru tiga hari ia tidak masuk bekerja. Sudah banyak pekerjaan yang menunggunya. Hah, belum lagi kalau ia merencanakan honeymoon dua minggu. Lelaki itu bolak-balik menatap jam. Waktu sangat lambat berputar, dia sudah merindukan Ressa. Baru beberapa jam berpisah.
"Jangan beri akses pada siapapun perempuan yang datang mencariku untuk masuk ke sini, Denis."
Sang asisten diam menunggu penjelasan lebih lanjut.
"Akhirnya seorang Ardiya Tiandra benar-benar takluk pada satu wanita."
__ADS_1
"Jangan mentertawakanku Denis! Ini bukan hal sepele, satu kali saja aku melakukan kesalahan maka Ressa tidak akan memaafkanku lagi."
"Mari kita lihat, apakah benar begitu. Atau seorang Ardiya Tiandra bisa meluluhkan hati wanitanya dengan sentuhan." Denis masih enggan mengakhiri tawanya, menurutnya syarat yang Ressa berikan itu sangat konyol. Mengingat seorang Tian yang tidak akan mampu tanpa wanita dan memiliki berbagai cara untuk menaklukkan wanitanya.
"Jangan menantangku Denis, aku tidak berminat membuktikan apapun padamu. Apa yang sudah aku dapat hari ini, akan aku jaga dengan baik. Aku tidak akan mengkhianati Ressa," tegas Tian.
"Well, gue cuma penasaran berapa lama lo dapat bertahan."
"Lo benar-benar iblis berwujud manusia, Denis!" Desis Tian kesal, dia tidak mengerti jalan pikiran asistennya ini. Setiap kali dia ingin bertobat selalu saja meragukannya dan terkesan menantangnya untuk melakukan kesalahan.
"Gue emang iblis, Tian!" Denis tertawa terpingkal-pingkal. "Tugas iblis menggoda manusia, dan tugas gue menggoda lo." Ucapnya tanpa dosa.
__ADS_1
"Sepertinya gue harus ganti asisten!" Sarkas Tian.
"Hahaha, saya dengan senang hati lepas dari anda Tuan." Denis mengedipkan sebelah matanya. Membuat Tian melempar apapun benda ke wajah Denis. Sialnya dia tidak bisa pisah dari makhluk terlucknut ini.