
"Azmi lepaskan putriku!!" Teriak Tian, mereka sudah mengepung Azmi bersama pihak kepolisian.
Dea mematung melihat sudah banyak orang di sekitarnya. "Om cepat pergi, sebelum polisi menangkap Om." Ucap Dea pelan yang hanya di dengar Azmi.
"Om gak papa di tangkap asal kamu memaafkan Om Sayang." Azmi membelai lembut rambut Deandra.
"Rupanya kau sudah tergila-gila dengan putriku Azmi!!" Tian tersenyum miring, menarik pelan putrinya dalam pelukan.
Azmi tidak menjawab. Dia terjebak, karena perasaannya pada gadis kecil ini kebebasannya dipertaruhkan. Dua orang polisi membawanya berdiri dan memegang di masing-masing tangannya.
"Daddy jangan tangkap Om please," mohon Deandra pada sang ayah dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.
"Dia pantas mendapatkannya Sayang, jangan bela penjahat yang sudah membuat orang-orang yang kamu sayang terluka." Ucap Tian tersenyum, sedang Azmi tersenyum penuh arti karena sudah berhasil mempengaruhi putri Tian itu.
"Om gak jahat Daddy," lirih Deandra pelan.
__ADS_1
"Nanti Dea akan mengerti kenapa Daddy melakukan ini Sayang," ucap Tian lembut.
"Boleh Dea memeluk Om untuk yang terakhir kalinya." Pinta Dea sayu, Tian menatap Ressa yang mengangguk. Mereka tidak bisa terlalu keras pada gadis yang baru merasakan indahnya jatuh cinta itu.
"Boleh Sayang," Tian mengalah pada egonya. Dea tidak akan bisa mengerti dengan kebencian yang dia miliki untuk Azmi.
Gadis remaja itu berlari mendekati Azmi dan memeluknya. Dua orang polis juga melepaskan tangan Azmi atas ijin Tian.
"Baby, maafin Om ya. Om sayang sama Dea." Azmi memeluk Dea dan berbisik di telinganya. "Jaga diri baik-baik," katanya mengusap kepala Dea penuh kasih sayang.
"Dea akan maafin Om, kalau Om mencari Dea setelah bebas nanti." Ucap Deandra.
"Om pasti akan menemui Dea nanti, jangan menangis Sayang." Azmi menyeka air mata yang beruraian di pipi Dea.
"Dea anggap itu sebagai janji Om!!" Tuturnya pelan lalu mengecup kedua pipi Azmi kemudian berlari meninggalkan tempat itu dengan air mata yang terus berjatuhan.
__ADS_1
"Apa Deandra Adley sudah membuat seorang Azmi Azzam Wijaya tidak berdaya?" Tanya Tian bersikap tetap tenang walau dirinya sangat murka pada saudara angkat Erfan ini.
Lelaki itu tersenyum, "jika waktunya sudah tiba aku akan mengambilnya kembali." Jawab Azmi dengan arogan.
"Itu kalau kau bisa menemuinya lagi setelah ini!!" Sarkas Tian terpancing emosi.
"Mari kita lihat, apa kamu bisa menolak kalau putrimu itu merengek ingin menemuiku." Azmi tersenyum miring, "bahkan dia sudah mengenal milikku. Uh, belaiannya sangat lembut. Aku sangat suka saat dia memanjakanku." Bisiknya pelan di telinga Tian.
"Brengsek kau bajingaaan!!" Tian ingin menghajar Azmi tapi di tahan Denis dan Jeri. Sedang Erfan terus mengamati permainan yang saudaranya itu mainkan.
"Cepat bawa dia pergi dari sini Pak!!" Ujar Denis pada polisi yang ada di sana, sebelum kekacauan benar-benar terjadi.
"Aaarrrggghhh!!!" Teriak Tian frustasi saat polisi sudah pergi membawa Azmi.
"Azmi hanya ingin membuatmu marah Tian. Dia bukan tipe orang yang suka menunda waktu. Jika ingin melakukannya, sudah dilakukannya di depanmu. Kamu bisa lihat, dia sangat menyayangi Dea." Ucap Erfan menenangkan, membawa Tian kembali ke rumah. Sedang Ressa sudah lebih dulu menyusul sang putri.
__ADS_1