Aksara Cinta

Aksara Cinta
43. Ayahnya Siapa?


__ADS_3

Ressa baru selesai pindahan. Dia mendapatkan sebuah rumah yang dikontrakkan murah. Barang-barangnya tidak banyak, jadi tidak perlu waktu lama untuk membereskan.


Ia membuat warung kecil di depan rumah. Mulai besok akan berjualan sayur masak untuk kebutuhan sehari-hari.


Hari pertama jualannya sepi, Ressa membagikan ke tetangga sebagai bentuk promosi. Paginya dia memasak, siang berjualan. Di tengah kondisinya yang sedang hamil muda Ressa menggunakan beberapa lapis masker agar perutnya tidak mual mencium aroma masakan. Hidungnya sangat sensitif.


Bayinya tidak boleh manja, Ressa tak ingin berharap banyak pada Tian, bisa mandiri lebih baik.


"Kuat ya Nak, walau tanpa papa, kakek dan nenek kita pasti bisa." Ressa tersenyum mengelus perutnya. "Biarin aja gak ada yang sayang sama mama, asal ada kamu. Mama kuat."


Sedikitpun Ressa tidak menyesali kehamilannya, malah ini jadi penyemangat hidupnya. Sebelum hamilpun dia sudah terbuang dari keluarga, apalagi sekarang.


Sudut bibir Tian terangkat, Ressa tidak menggugurkan kandungannya. Dia yang sudah membeli mobil dan apartemen Ressa dengan harga tinggi melalui anak buahnya. Juga rumah yang di tempati Ressa sekarang. Tian sudah membelinya dan mengontrakkan dengan harga murah agar perempuan itu tidak curiga.


Setiap pagi Tian membeli semua jualan Ressa, lalu dibagikan. Ia tidak ingin Ressa kelelahan, hanya itu cara yang bisa dilakukannya dari jauh.

__ADS_1


Ressa baru pulang dari pasar, badannya sangat lelah. Ia berjalan sempoyongan sampai ke depan ke rumah.


Tian yang membuntuti, melihat Ressa hampir ambruk. Lekas ia berlari mengejar tubuh Ressa agar tidak terhempas ke tanah. Lalu mengambil kunci yang menggantung di tangan Ressa.


Ia membawa Ressa masuk dan menidurkan di ranjang. Rasa bersalah selalu menghantui Tian, Ressa bekerja keras karena kesalahannya. Ia bisa saja menanggung segala kebutuhannya. Tapi perempuan hamil ini pasti akan menolak.


Tangan Tian memijat kaki Ressa yang pasti pegal dibawa berkeliling pasar. Ia mengamati gurat lelah di wajah perempuan hamil itu.


"Tian," lirih Ressa saat terbangun.


"Kamu ngikutin aku?" Ressa pikir Tian tidak tau tempat tinggalnya. Laki-laki itu hanya mengangguk kecil.


"Boleh aku pegang anak kita?" Izin Tian. Perut Ressa masih kecil, tidak terlihat kalau sedang hamil.


Ressa mengangguk, bukan dia yang harus menghukum lelaki itu. Biar Tuhan yang melakukannya, melihat wajah sendunya saja Ressa tidak tega.

__ADS_1


Tian tersenyum menciumi perut Ressa yang masih rata. "Maafin ayah gak bisa selalu ada buat kamu, Nak. Jangan nakal di dalam ya, Sayang." Lirihnya sendu.


Tubuh ibu hamil itu seperti terkena setrum karena sentuhan Tian. Lelaki itu menyadarinya, ia semakin nakal menggoda Ressa.


"Dia pasti mau dielus ayahnya setiap saat, Sa."


"Emang ayahnya siapa, hm?" Tanya Ressa dingin.


"Sa, akukan ayahnya." Tian meringis, apa Ressa akan membiarkan anaknya tidak mengenal sang ayah.


"Buktinya apa?"


"Apa sudah ada yang menggantikan aku untuk membuatmu bergelinjang keenakan, Honey." Bisik Tian yang membuat bulu kudung Ressa meremang. Tangan lelaki itu tidak tinggal diam, dia akan menghukum Ressa.


"Aaaa, iya-iya. Kamu ayahnya!" Teriak Ressa ngos-ngosan, Tian mengabsen setiap inci tubuhnya dengan sentuhan dan berlama-lama di inti tubuhnya. Membuatnya panas dingin. Lelaki itu tersenyum smirk.

__ADS_1


"Sudah, dilanjut nanti, Honey. Kamu sedang sakit." Tian membelai pipi Ressa dengan sayang. Perempuan hamil itu menatapnya kecewa.


__ADS_2