Aksara Cinta

Aksara Cinta
67. Berubah


__ADS_3

Ressa hanya sarapan roti, dia tidak memasak karena perutnya sedang tidak bersahabat. Lagian Tian juga tidak makan. Makan malam kemaren masih utuh yang berakhir di tempat sampah.


Telinganya mendengar pintu rumah dibuka, ia harus tetap berakting biasa saja. Tidak boleh terlihat kecewa. Setelah ini jangan terlihat lemah lagi di hadapan Tian. Itu komitmen Ressa pada dirinya sendiri. Biar dia yang menanggung semua luka ini sendirian tanpa perlu anak dan ayah bayinya ini tau.


"Aku gak masak, mau sarapan roti?" Tawar Ressa basa-basi, mulutnya sudah gatal ingin mengomel tapi ditahannya.


"Enggak, sudah sarapan?" Tanya Tian sambil tersenyum manis.


"Iya, ya sudah aku bereskan kalau kamu gak mau sarapan." Ucap Ressa tenang, meskipun dalam hatinya mengomel melihat suaminya yang seolah tidak berdosa itu meninggalkannya tidur sendirian.


"Dia pasti enak-enakan memeluk perempuan lain tadi malam," gumam Ressa dalam hati sambil mencuci peralatan makan.

__ADS_1


"Aku mau mandi dulu ya?"


Ressa hanya menjawab dengan anggukan sambil ngedumel dalam hati. Derita ya dinikmati sendiri karena pilihan sendiri. Ibu hamil itu menyibukkan diri membereskan rumah. Awas saja kalau dia sudah punya bukti Tian bersama perempuan lain. Ia akan langsung menggugat cerai. Selama belum ada bukti Ressa tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sa, aku berangkat ke kantor dulu ya. Mungkin pulangnya agak malam karena lagi ada proyek baru." Tian mengecup kening Ressa yang sedang menyapu di teras.


"Iya, hati-hati. Jangan lupa makan." Ucap Ressa lembut seraya melambaikan tangan seolah tidak ada apa-apa yang terjadi dengan hatinya.


Di rumah Ressa membuat peyek untuk mengalihkan pikirannya. Peyek itu dia bungkus dengan plastik gula. Kalau ada yang mau beli dijual, kalau gak ada di bagi-bagikan. Tujuannya hanya satu, tidak kepikiran dengan perubahan Tian.


"Huft, apa benar kamu kerja Tian. Kenapa aku sekarang suka mencemaskanmu seperti ini. Padahal aku sudah tau inilah neraka pernikahan yang harus aku terima bersamamu."

__ADS_1


Lagi-lagi Ressa tidur sendirian, suaminya itu baru menampakkan batang hidung dipagi hari. Ternyata ia tidak bisa untuk diam, mulutnya sangat gatal ingin mengoceh.


"Ini yang kamu bilang ingin berubah, Tian. Aku sudah berusaha untuk diam dan mengacuhkan semuanya, tapi gak bisa. Perempuan mana yang bisa diam melihat suaminya pulang pagi tanpa penjelasan. Kamu masih ingat syarat yang aku ajukan kan, kalau kamu merasa tidak bisa memenuhinya mending kita selesaikan di sini saja. Baru satu minggu jadi istrimu rasanya dua hari ini sangat melelahkan hatiku."


Tian terdiam mendengar curhatan istrinya itu. Ia hanya menenangkan pikiran, melihat Ressa membuat hatinya terlampau sakit. Tapi dia tidak bisa berterus terang pada perempuannya ini.


Ressa tersenyum, "diam berarti setujukan." Ucapnya lalu masuk ke kamar mengambil koper yang sudah disiapkannya satu jam yang lalu. "Rumah ini milik kamu, jadi aku saja yang keluar dari rumah ini." Kata Ressa riang, dengan jantung yang serasa di tikam karena tidak ada pembelaan sedikitpun dari mulut Tian.


"Jangan pergi, Sayang." Tian menangkap tangan Ressa yang melewatinya. "Aku gak ada ketemu perempuan manapun, aku tidur di apartemen. Maaf sudah membuatmu tidur sendirian dan cemas." Katanya mebawa sang istri dalam pelukan.


"Aku ingin menjelaskan semuanya, tapi aku terlalu takut kamu pergi meninggalkanku Sa. Aku menjauh darimu karena merasa bersalah setiap kali berada di dekatmu."

__ADS_1


"Aku benci diriku yang menjadi bodoh saat bersama kamu, Tian." Lolos sudah air dari mata perempuan yang sok kuat ingin menanggung semua lukanya sendirian. Karena nyatanya tidak bisa, dia tetap perempuan yang lemah dan penuh perasaan.


"Aku benci karena tidak bisa menolak setiap perkataan manismu," lirih Ressa membenamkan kepalanya di dada bidang Tian.


__ADS_2