
Hari ini Ressa tidak ikut ke kantor Tian, ia akan mengantar Dea ke sekolah. Gadis itu ingin dia yang mengantar. Ia menemukan satu bucket mawar merah saat membuka pintu.
...Tuhan selalu memiliki cara yang indah mempertemukan setiap jiwa dengan takdirnya. Aku percaya kamu adalah takdirku, Nona....
...-Jeri Andreas Alden-...
Ressa mengernyit, dari mana orang itu tau alamat rumahnya. Dia tidak memberikan kartu nama atau apapun. Alamat di KTP yang pria itu lihat juga bukan alamat rumahnya sekarang.
"Kartu ini memang tidak bisa mengganggumu, Honey. Tapi pemilik di kartu nama ini yang bisa jadi pengganggu milikku."
Ressa teringat ucapan Tian tadi malam, apa suaminya itu mengenal orang ini. Sungguh aneh, Ressa membawa bunga itu ke mobil. Nanti akan ia buang di jalan agar Tian tidak tau. Sekarang ia harus bergegas menjemput Dea, kalau tidak keponakan yang sudah jadi anak sambungnya itu akan merajuk sepanjang hari.
"Mommy, ini bunga dari siapa?" Tanya gadis yang menggunakan seragam biru putih itu. Dea mengangkat bunga dan memangkunya. "Cantik, aku foto dulu." Serunya seraya mengeluarkan ponsel dari saku dan memotonya.
"Entahlah, ada di depan pintu rumah Mommy pagi tadi." Jawab Ressa, melajukan mobilnya menuju sekolah Dea.
Dea mengangguk-anggukkan kepala. "Mommy langsung pulang, apa nyusul daddy ke kantor?"
__ADS_1
"Langsung pulang, Sayang. Hari ini daddy banyak kerjaan jadi gak bisa diganggu."
"Daddy Denis juga?"
"Of course, Sayang. Daddy Denis dan Daddy Tian satu paket, gak bisa dipisahkan." Canda Ressa.
"Mommy Ressa bertemu daddy di mana dulu?" Gadis yang baru menginjak remaja itu antusias bertanya segala hal.
"Daddy bos Mommy di kantor. Kita sudah lama kenal." Jawab Ressa seadanya, tidak mungkin dia menjelaskan secara terperinci pertemuaannya dengan Tian.
"Mommy Aru tidak pernah cerita siapa ayah Dea, seperti apa orangnya. Mommy juga tidak menanyakan itu, karena itu privasi Mommy Aru, Sayang. Mungkin mommy kamu waktu itu tidak bisa bercerita."
"Apa Mommy mencintai daddy?" Tanya Dea sendu.
"Apa Dea meragukan cinta Mommy sama Daddy Tian?" Ressa bertanya balik.
"Apa orang dewasa selalu berpura-pura bahagia di depan anak kecil, Mom?"
__ADS_1
"Tidak semua kesedihan yang kita miliki harus kita bagi dengan semua orang, Sayang. Kadang kita, para orang dewasa hanya perlu bercerita pada satu orang yang benar-benar bisa mengerti."
"Seperti Mommy Aru yang selalu membagikan kesedihannya dengan Daddy Denis?"
"Mungkin, yang Mommy Aru tidak bisa ceritakan sama Mommy, cuma bisa diceritakan pada Daddy Denis." Jawab Ressa sambil tersenyum.
Dia dan Aruna mungkin sama terlukanya. Tapi mau bagaimana lagi, takdir yang berkata seperti ini. Semoga Denis bisa menjadi pelipur lara bagi Aruna.
"Daddy Denis sangat mencintai Mommy Aru dan kamu." Lanjut Ressa untuk menghibur keponakannya.
"Aku harap begitu, juga Daddy Tian mencintai Mommy Ressa."
Ressa mengaminkan dalam hati, sering kali ketakutan Tian berpaling darinya itu selalu datang menghampiri.
"I love you, Mommy." Ucap Dea, tidak terasa mereka sudah sampai. Gadis itu mencium pipi Ressa kanan dan kiri lalu menyalaminya sebelum keluar dari mobil.
"I love you, too. Honey." Balas Ressa dengan tersenyum manis. Siapa yang menyangka, keponakannya itu malah menjadi anak sambungnya.
__ADS_1