Aksara Cinta

Aksara Cinta
38. Good Girl


__ADS_3

"Erra mau ikut Uncle, kita obati tangannya. Uncle tau kamu gak tidur." Tian mengelus sayang kepala Erra.


Erfan terpaksa meminta Tian untuk membujuk putrinya itu karena sedang merajuk dengannya dan Hira.


Gadis kecil itu mengerjap-ngerjap lucu ketahuan pura-pura tidur. "Aku mau tinggal sama Uncle."


"Oke," Tian membawa Erra pergi tanpa menunggu persetujuan orang tuanya.


Hira menatap kepergian putrinya dengan hati yang terluka. Dia yang sudah membuat luka di hati putrinya sendiri.


Tian membawa Erra ke klinik terdekat. Gadis kecil itu mengalami pergeseran sendi siku. Entah bagaimana bisa terjadi, mungkin saat tarik menarik dengan Hira tadi. Erra dipasangkan arm sling untuk mempercepat proses penyembuhan.


"Jangan banyak bergerak dulu, oke. Biar tangannya cepat sembuh." Beritahu Tian, putri Erfan itu menangguk antusias.


Tian membawanya ke pusat perbelanjaan untuk membeli perlengkapan Erra. Setelah semuanya lengkap, ia membawa Erra pulang. Mendudukkannya di sofa sambil menemani menonton kartun.


"Uncle besok kerja, Erra mau ikut ke kantor?" Ajak Tian. Lagi-lagi, kepala mungil itu mengangguk.


"Oke, tapi ada syaratnya?"


"Apa?" Tanya Erra penasaran.


"Gak boleh melawan sama daddy dan mommy. Erra harus nurut dan gak boleh marah lagi sama mereka," pinta Tian.


"Mommy bikin tangan Erra sakit. Daddy gak sayang sama Erra, daddy cuma sayang sama mommy."


"Mommy gak sengaja bikin Erra sakit, mommy sudah minta maafkan?"


Erra mengangguk lemah.

__ADS_1


"Kalau ada yang minta maaf, Erra harus apa?"


"Maafin."


"Pintar, Uncle tambah sayang sama Erra." Tian membawa gadis kecil itu duduk di pangkuannya. Memberikan elusan lembut di kepala sampai tertidur. Ia memindahkan Erra ke kamar.


"Maafin Uncle, gara-gara Uncle kamu terluka." Lirih Tian sendu, mengecup kening Erra lama.


Tian duduk di lantai bertopang di ranjang sambil mengelus rambut Erra.


Semoga Ressa kuat selama hamil tanpanya, gumam Tian. Ia bahkan tidak berani berharap bisa melihat anaknya. Ressa benar-benar membencinya, begitu juga Audrey. Bagaimana caranya agar dia bisa menjaga dua perempuan itu.


"Uncle nangis!" Tangan mungil Erra mengusap pipi Tian.


"Kelilipan," lekas Tian menghapus air yang pertama kali terjatuh dari matanya.


Sebagai lelaki pantang untuk Tian menangis. Tapi saat mengetahui ada dua perempuan yang hamil anaknya dan dia tidak bisa melakukan apapun. Tian merasa dirinya hanyalah seorang pecundang yang pengecut.


"Uncle suka Erra ada di sini, Uncle gak suka Erra nanya seperti itu lagi."


"Don't cry!"


"Yes, Honey." Tian tersenyum menepuk pipi balita itu dengan sayang. Ia ikut tertidur saat menidurkan Erra. Jadi babysitter ternyata cukup melelahkan.


Dalam kamarnya Hira menangis sambil memeluk lutut. Putrinya lebih memilih pergi bersama orang lain.


"Erra akan baik-baik aja sama Tian," Erfan memeluk istrinya untuk menenangkan.


"Aku mommy-nya, Bee."

__ADS_1


"Iya, sampai kapanpun kamu tetap mommy-nya. Erra hanya perlu waktu untuk menghilangkan ketakutannya sama kamu."


"Aku gak bisa jauh dari Erra, Mas. Gak bisa."


"Bisa, kamu tenangin diri dulu." Bukan tanpa alasan Erfan lebih mendahulukan Hira daripada Erra. Sampai putrinya itu merasa tidak disayangi. Ia mempertimbangkan emosi Hira yang kadang masih tidak stabil.


Hira melemah dalam pelukan Erfan, dia lelah menangis sampai akhirnya tertidur.


Erfan menghela napas lega, ia harus menemui Erra. Menitipkan pesan pada art kalau Hira mencarinya saat terbangun.


Erfan berdecak, berkali-kali memencet bel tapi tidak ada yang membuka pintu. Pencetan ke sekian kalinya pintu terbuka. Putri kecilnya yang membuka pintu.


"Uncle mana?" Tanya Erfan seraya membawa putrinya dalam gendongan.


"Tidur."


"Lain kali jangan buka pintu sendirian ya, Sayang." Nasehan Erfan.


"Siap Daddy."


Erfan duduk di sofa sambil memangku Erra, "mau ikut Daddy pulang. Mommy nangis terus nanyain Erra." Ujarnya, berharap sang putri luluh mendengar mommy-nya menangis. Erra menggeleng lemah.


"Masih takut sama Mommy?" Gadis kecil itu hanya menganggukkan kepala.


"Honey, where are you?" Tian mengucek-ngucek mata. Baru sehari jadi babysitter, dia sudah dibuat kewalahan. Tidur jadi tidak tenang.


"I'm here, Uncle."


"Tidur terus," desis Erfan.

__ADS_1


"Belum ada undang-undang yang melarang orang tidur." Tian menghempaskan pantat di samping Erfan. Erra langsung berpindah duduk ke pangkuan lelaki itu.


"Good girl," puji Tian sambil tersenyum miring pada Erfan. "Mesraan aja terus sampai putri lo cemburu," bisiknya menyindir.


__ADS_2