Aksara Cinta

Aksara Cinta
157. Ketakutan


__ADS_3

"Aku tidak akan mengirim kalian ke penjara, itu hukuman yang sangat ringan." Ucap Tian dingin di depan Audrey dan Agam yang berhasil dia amankan.


"Potong jarinya karena sudah berani menyentuh istriku!!" Tian menunjuk ke arah Agam di depan anak buahnya, dia tidak akan mengotori tangannya untuk mengurus tikut-tikus menjijikan.


"Dan dia, gores pipinya seperti yang dia lakukan pada istriku!!" Titah Tian, menunjuk Audrey. Dua orang itu sudah pias di depan anak buah Tian yang membawa pisau mengkilat. Ketajamannya sudah bisa dipastikan kepala kambing saja bisa langsung putus.


Denis ingin mencegah tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya Erfan yang bisa menghalaunya, dia sudah menghubungi Erfan dan Jeri untuk segera datang.


"Ada yang ingin kamu sampaikan Audrey," Tian mengambil pisau menempelkannya di pipi perempuan itu. Audrey menggeleng pelan, air matanya mengalir karena ketakutan. Tubuhnya gemetar dan berkeringat dingin.


"Aku bisa saja langsung melakukannya seperti kamu melakukannya pada Ressa, tapi aku tidak ingin mengotori tanganku ini." Lanjutnya tanpa ekspresi.


"Buang air matamu Audrey, aku tidak akan tertipu!!" Tian menekan ujung pisau itu sedikit sampai mengeluarkan darah.


"Sakiitt!" Lirih Audrey, ia tidak dapat menghapus air matanya karena tangan yang terikat.


"Apa kamu berhenti saat Ressa berteriak sakit Audrey!!" Tian menatap murka Audrey.


"Tian, jangan!! Please." Jeri berlari mendekati Audrey melepaskan tali yang mengikat tangan perempuan itu.


"Apa yang kau lakukan Jeri!" Tian mengacungkan pisaunya ke depan Jeri.

__ADS_1


"Kumohon jangan, Tian. Ampuni Audrey, silahkan ambil apa yang sudah menjadi hakmu aku tidak akan menahannya. Tapi please lepaskan Audrey, akan ku pastikan dia tidak akan menyakiti Ressa lagi." Jeri membawa tubuh Audrey yang bergetar dalam pelukan.


"Kalau dengan membunuhku bisa sebagai tebusan untuk Audrey, lakukanlah." Lanjut Jeri.


"Jeri!" Audrey menggeleng, tidak setuju dengan ide lelaki itu.


"Sudah kubilang, aku akan menjagamu kan." Jeri menghapus air mata Audrey, menekan darah yang keluar di pipi itu dengan jarinya. Hanya tergores sedikit.


"Aku tidak terima tebusan apapun!!" Tegas Tian menatap tajam Jeri.


"Bill, lakukan sekarang!!" Perintah Tian pada anak buahnya, menunjuk Agam yang sedari tadi tidak berani bersuara.


"Denis, kirim dia ke tempat yang jauh. Jangan biarkan lepas!" Tunjuk Erfan pada Agam. Kalau Agam masih berkeliaran bisa saja Tian langsung membunuhnya.


"Erfan, jangan ikut campur urusanku!" Teriak Tian marah, karena kesenangannya sudah terhenti.


"Ressa tidak akan suka kamu melukai orang lain, Tian. Apa kamu lebih memilih Ressa pergi lagi dari pada melepaskan mereka." Sebut Erfan, hanya menjual nama Ressa yang bisa membuat Tian dingin lagi.


Tian mendengus, menghempaskan pisau di tangannya sampai menancap di kaki Agam.


"Aaarrrkhh!!" teriak Agam kesakitan. Tanpa peduli, Tian pergi dari sana.

__ADS_1


Erfan menggeleng pelan, sempat-sempatnya membuat orang kesakitan. Tapi itu lebih baik daripada Tian memotong tangan Agam.


"Denis urus dia, dan kamu Jeri. Jika Audrey menyakiti Ressa lagi, aku sendiri yang akan menghukumnya!" Ucap Erfan dingin, kemudian menyusul Tian.


Audrey semakin menangis ketakutan dipelukan Jeri. Lelaki itu membawanya pulang ke apartemen.


"Kenapa berbuat nekat, bagaimana kalau Tian tidak melepaskanmu." Jeri menyelimuti Audrey yang masih menangis sesenggukan. Setelah selesai mengobati luka di pipi Audrey, ia ikut berbaring dan memeluk perempuan itu.


"Mulai hari ini aku akan menjagamu, aku tidak akan mengejar Ressa lagi. Kita menikah." Putus Jeri, ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Tapi ia sangat takut melihat Audrey terluka, "maafkan aku yang memaksamu menggugurkan anak kita."


Audrey mengangguk pelan, "siapa yang mau menikahkanku." Lirihnya pelan.


"Aku akan minta ijin ayah dan bundamu. Kita lupakan semua dendam ini, aku tidak ingin melihatmu terluka, Sayang. I love you." Jeri mengecup Audrey di kening setelah mengungkapkan isi hatinya.


Jeri berjanji akan menjaga Audrey dengan baik, tidak akan membuat perempuannya ini merasa terabaikan lagi.


"Jangan tinggalin aku," gumam Audrey pelan.


"Aku gak akan ninggalin kamu lagi," ucap Jeri serius. Cukup karena obsesinya Ressa terluka dan hampir saja Audrey juga terluka.


"Jangan melukai orang lagi ya Sayang," Beritahu Jeri dengan lembut. Audrey menganggukkan kepala.

__ADS_1


__ADS_2