
"Hanya ada sidik jari Erra dan Ressa di botol minuman itu. Kita kesulitan untuk melacak karena tidak ada saksi atau cctv di tempat kejadian," lapor Denis.
Tian membenamkan wajah sambil memukul-mukulkan tangannya ke meja. "Sayang kamu dimana?" Lirihnya, semoga istrinya baik-baik saja sekarang. Dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri kalau sampai terjadi apa-apa pada Ressa.
"Kita tidak menemukan apapun sebagai bukti keberadaan Ressa. Sebaiknya kita lapor polisi," usul Erfan setelah berjam-jam melakukan pencarian mereka tidak menemukan petunjuk apapun.
"Laporan sudah dibuat dikepolisian, tapi harus menunggu dua puluh empat jam baru bisa dinyatakan sebagai orang hilang," sahut Denis.
"Coba ingat-ingat apa ada benda pada Ressa yang bisa digunakan untuk melacak keberadaannya."
Tian menggeleng pelan, dia tidak meletakkan chip atau apapun pada Ressa. Bodohnya dia, harusnya sudah dilakukannya dari dulu.
"Ada cctv di depan ruko-ruko sekitar taman, tapi itu tidak bisa menjangkau posisi Ressa yang ada di lokasi kejadian." Erfan mendesah berat.
"Yakin bukan Jeri yang menculik Ressa?" Tanya Tian lemas, sepupunya itu sangat licik. Bisa saja tadi Jeri hanya sedang bersandiwara di hadapannya.
"Pasti bukan, dia tidak akan ikut khawatir kalau memang dia yang menculik Ressa. Sorot matanya tidak bisa berbohong," jelas Erfan.
__ADS_1
"Siapa yang melakukannya. AAAARRRGGGHHH!!" Teriak Tian frustasi, kemana lagi harus mencari istrinya itu. Baru hilang beberapa jam, dia sudah dibuat gila.
"Uncle kenapa?" Tanya Erra dari depan pintu kamar. Ia berlari kecil mendekati Tian, "ada yang sakit?" Tanyanya lagi.
Tian menggeleng pelan. "No Honey," katanya seraya mengangkat gadis kecil itu ke pangkuan.
"Tante Ressa belum ketemu?"
"Belum Sayang, berdoa ya semoga tante gak kenapa-kenapa." Lelaki itu mendekap Erra dengan erat.
"Daddy, ayo cari Tante Ressa. Jangan duduk aja!!" Perintah sang gadis kecil.
"Ih Daddy, kenapa masih duduk!!" Teriak Erra diikuti isakan yang disengajakan. Dalam pikiran gadis kecil itu kalau tidak bergerak maka tidak mencari. Tidak mengerti kalau sang daddy sudah mengerahkan seluruh orang-orangnya.
"Ini Daddy sedang mencari Tante Ressa, Sayang." Beritahu Erfan sambil menunjukkan ponsel di tangannya.
"Emang Daddy nyari dimana? Shopee, tokopedia atau buka lapak?" Jawab Erra lancar dengan dengusan kecil.
__ADS_1
"Siapa sih yang ngajarin ini anak," Denis tertawa geli melihat Erfan yang dibuat pusing oleh anaknya sendiri. Ia mengunyel gemas pipi Erra.
"Daddy nyarinya di OLX, Sayang." Jawab Erfan asal.
"Tante Ressa bisa dijual di OLX?" Tanyanya dengan mata membulat dan ekspresi menggemaskan.
"Bocah gemblung, lo kira Ressa barang bekas!!" Desis Tian melotot tajam pada Erfan, anaknya sendiri dibuat sesat.
"Uncle bilang apa tadi, bocah gelembung?" Ulang Erra, Tian memijat kepalanya pusing.
"Yes Honey, gelembung ikan." Tian ikut-ikutan bicara asal, Denis geleng-geleng kepala. Hanya dia yang waras sekarang. Para bos kalau kebanyakan pikiran otaknya bisa langsung geser.
"Jadi Daddy nyari gelembung ikan dulu biar bisa ketemu Tante Ressa?" Tanya Erra bingung, yang ditanya juga jadi bingung.
"Bukan Sayang, gelembung ikan itu buat bernapas." Ujar Denis meluruskan, Erfan menepuk jidat. Ya Salam, kenapa semua jadi stress.
"Buat bernapas itu insang, Uncle." Seloroh Erra membenarkan.
__ADS_1
"Erra temani mommy aja Sayang." Erfan akhirnya mengusir bocah kecil yang membuat otak para orang dewasa jadi gesrek.