
Pagi-pagi Tian sudah bangun menyiapkan sarapan untuk Ressa. Ibu hamil itu masih tertidur pulas.
"Morning Honey," Tian membuka tirai jendela dan mengecup Ressa di pipi.
"Kamu gak kerja lagi hari ini?"
"Mau menemani istri dan anakku dulu, kerjanya bisa nanti." Senyuman Tian menyembul, "ayo mandi, sarapan sudah siap. Aku tunggu di belakang." Ujar Tian lalu meninggalkan Ressa agar istrinya itu segera membersihkan diri.
"Baby pagi ini mau makan apa?" Sambut Tian di meja makan. Menarikkan kursi untuk Ressa.
"Pengen gundulin kepala kamu, ih!" Ujar Ressa dengan wajah cemberut masam.
"Itu bukan makanan Honey!" Tian bergidik ngeri, ketampanannya akan hilang kalau kepalanya gundul. Dia tidak bisa membayangkan kalau kepalanya licin jadi perosotan lalat.
"Aku mau liat kepala kamu gundul, Tian." Rengek Ressa.
"Ganti yang lain Sayang, jangan jatuhin harga diri suamimu ini. Kalo gundul nanti gak ganteng lagi. Kamu bisa bosan lihatnya." Tian mencari-cari alasan yang masuk akal, tapi sayangnya tidak menemukan.
__ADS_1
"Aku cuma mau lihat kamu gundul, itu aja."
"Kepala satunya aja ya, Honey." Tian mengerlingkan mata, Ressa mendengus kesal. "Ayo makan dulu," bujuknya menyendokkan nasi ke mulut Ressa.
"Gak pengen makan," tolak Ressa.
Tian meletakkan sendoknya kembali, "kamu harus isi perut Sayang. Anak kita perlu asupan nutrisi. Dari kemaren kamu malas makan." Tangannya terulur mengelus pipi Ressa. Perempuan hamil itu malah menangkapnya dan memeluk manja.
"Hm, jadi mau manja-manja aja nih." Goda Tian seraya menyuapkan roti ke mulut Ressa. "Satu suap dapat hadiah satu ciuman." Katanya sambil tertawa kecil.
"Cium dulu baru makan." Tian menurut, mengecup pipi kanan dan kiri Ressa. Baru perempuan itu mau mengunyah rotinya. Begitu terus sampai habis dua lembar roti.
Ressa mulai terbiasa menikmati semua perhatian yang Tian berikan. Walau perempuan hamil itu sering menanggapi ucapan suaminya dengan jutek.
"Aku masih pengen lihat kepala kamu gundul, Tian." Ressa mulai merengek lagi.
"Jangan dong, Sayang. Minta yang lain aja, jangan yang susah-susah." Tawar Tian, Ressa menggeleng keras.
__ADS_1
"Nanti kalo banyak perempuan yang suka lihat aku gundul gimana? Mereka semua jadi ngejar-ngejar aku."
"Perempuan suka lihat yang gundul?" Tanya Ressa cengo.
Tian mengangguk antusias, "mereka suka banget sama yang gundul." Tegasnya walau tidak mengatakan apa yang ada dipikirannya, kepala bawah.
"Jangan digundulin," Ressa mengusap-usap rambut Tian.
"Tentu, Honey." Tian mengulum senyum kemenangannya. Untung istrinya masih bisa diperdaya.
"Kamu gak bohongkan Tian! Aku tahu kalau kamu cuma mau bohongin aku, mana ada perempuan yang suka sama laki-laki botak." Sarkas Ressa, Tian menggigit bibir bawah. Dia harus putar otak agar bisa menyelamatkan diri.
"Enggak, aku gak bohong, Honey. Kalo gak percaya kita buktikan sekarang. Mereka gak akan bisa nolak dikasih kepala yang gundul." Ucap Tian ambigu, jangan sampai anaknya jadi tulalit gara-gara dia menbodohi ibunya. Tian ingin punya anak yang cerdas seperti Erra.
"No... no... kamu sekarang milik aku. Gak ada yang boleh ngambil kamu dariku." Ujar Ressa memeluk Tian possesif.
"Iya, aku cuma milik kamu." Tian sujud syukur dalam hati karena bisa terlepas dari keinginan gila Ressa.
__ADS_1
Aktivitas makan yang bisa diselesaikan dalam lima belas menit, malah menghabiskan waktu satu jam. Ressa tidak sedang ngidamkan. Permintaan itu tadi bukan salah satu ngidam aneh istrinya kan? Entahlah yang penting Tian sekarang selamat dan bisa mdnghirup napas lega.