
Kedua sudut bibir Tian terangkat mengetahui siapa yang menjadi sekretarisnya. Kali ini dia tidak akan membiarkan perempuan itu hidup dengan tenang. Jodoh memang tak kemana, gumamnya sambil menyeringai.
Ia harus membujuk Erfan dulu agar mau memberikan PT Jayindo Infrastruktur padanya. Perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur dan jasa manajemen kota. Bukan tanpa alasan Tian memilih perusahaan ini.
Hari pertama memimpin, Tian menghadiri rapat direksi sekaligus pergantian kepemimpinan.
"Denis, Extnet aman kamu ikut ke sini, Erfan tau?" Tanya Tian pada assistennya.
"Aman bos, Pak Erfan sudah memberikan saya izin." Jawab sang assisten yang dipanggil denis. Tian terlihat mengangguk kecil.
Usai meeting Tian memanggil Ressa, tidak sabar bermain-main dengan perempuan itu. Bagaimana ekspresinya nanti, mungkin tadi sekretarisnya itu tidak terlalu memperhatikan wajahnya.
Dapat keberuntungan apa Ressa sampai dapat bos baru yang katanya tampan dan masih bujang. Apa ini kutukan emak yang minta ia cepat nikah.
Perempuan itu merapikan rok selututnya sebelum masuk ke ruangan presdir. Ressa mengetuk pintu lalu langsung masuk saat mendapat sahutan dari dalam.
__ADS_1
"Bos casanova," desisnya dalam hati saat melihat Tian yang duduk di kursi presdir. Ini benar-benar kutukan emak sepertinya. Entah dia harus bersyukur atau berduka.
"Hei Honey, jodoh tidak kemana. Tuhan selalu tau cara untuk mempertemukan dua insan yang memang ditakdirkan bersama." Tian bangkit dari kursi menyambut Ressa dengan mengulurkan tangan. Dia selalu tau cara membuat perempuan klepek-klepek.
Karena Ressa tidak berniat menyambut tangannya. Tian inisiatif sendiri membawa tangan Ressa dalam genggaman lalu mengajaknya duduk di sofa.
"Jangan coba-coba berpikir resign dari perusahaanku. Kalau itu kamu lakukan, akan kubuat kamu tidak akan diterima bekerja dimanapun lagi." Ancam Tian dengan seringaian licik.
"Kantor Bos!" Ressa memperingatakan, menyingkirkan tangan nakal Tian yang membelai pipinya. Tidak taukah bosnya ini kalau jantungnya sedang ketar-ketir.
"Satu ruangan memang wajar, tangan nakal kamu ini nih yang gak wajar." Ressa memelototkan mata, si empunya malah terkekeh geli. Tak berpaling dari bibir indah yang sangat menggoda untuk dia manjakan.
"Sini aku contohin yang gak wajar itu." Tian menyambar bibir yang sejak tadi ingin bermain-main dengannya.
Ressa yang terkejut dengan apa yang dilakukan Tian tak bergerak sejenak. Beberapa detik kemudian dia mendorong dada Tian.
__ADS_1
"Please jangan bikin aku benci sama kamu, Tian!" Tekan Ressa dengan nada ketus, Tian mempermainkannya lagi.
"Aku rela kamu benci, benar-benar cinta." Tian terkekeh, menarik Ressa dalam dekapan. "Diam sebentar, aku rindu aroma tubuhmu."
Jangan lemah Ressa, jangan lemah.
Ressa memperingatkan dirinya, jangan sampai ia terbuai dengan perlakuan Tian yang semena-mena. Akalnya tidak boleh dilumpuhkan oleh hati yang merasa nyaman.
Sungguh, ia ingin mengutuk jantungnya yang berdebar-debar saat Tian membelai dan menciumi rambutnya. Ada glenyar-glenyar aneh yang hadir, meminta ingin diperlakukan lebih.
Ressa mendorong tubuh Tian, lalu bangkit. "Tunggu surat resignku!" Ucapnya dengan sorot mata tajam sebelum meninggalkan ruangan sang bos cassanova.
Kalau Tian tidak suka bergonta-ganti wanita mungkin Ressa akan mempertimbangkan. Membawanya ke rumah sebagai calon menantu yang sangat ibu tunggu-tunggu.
"Jangan coba-coba mengancamku Ressa! Sampai aku menerima surat resignmu, aku kumakan kamu saat itu juga." Tekan Tian sebelum Ressa benar-benar pergi dari ruangan. Bibirnya tersenyum nakal, membayangkan perempuan itu di bawah kungkungannya saja sudah membuat gairahnya bangkit.
__ADS_1