Aksara Cinta

Aksara Cinta
72. Jeda Waktu


__ADS_3

Ayah Dea sekarang sudah berbeda, dia lebih dewasa. Sepertinya akan mudah untuk jatuh cinta padanya.


Ressa menatap Tian yang masih tertidur setelah membaca pesan dari Aruna. Dia tidak tau jam berapa Tian pulang tadi malam. Pikirannya mendadak buntu, tidak tau harus bersikap bagaimana sekarang. Selain ada keponakannya yang butuh ayah, anaknya juga membutuhkan sosok seorang ayah.


"Morning, Honey. Kenapa menatapku seperti itu." Tian tersenyum mengecup pipi kiri Ressa, perempuan itu memberikan ponselnya pada sang suami. Dia ingin semuanya terang, lebih cepat semuanya beres, lebih baik.


"Kita gak usah honeymoon dulu, Tian. Selesaikan apa yang ada diantara kalian. Aku akan terima apapun yang kamu putuskan nanti." Ressa meninggalkan kamar, dia menuju pekarangan belakang menghirup udara segar di sana. Otaknya sedang butuh pencerahan, sekarang benar-benar tidak bisa berpikir lagi. Aruna, Dea, Tian, semuanya berputar-putar di kepala.


Tian terdiam setelah membaca isi pesan yang Ressa tunjukkan. Hatinya sekarang bimbang, setelah bertemu Aruna tadi malam tidak bisa dipungkiri hatinya berbunga-bunga. Apa dia masih terjebak pada perasaan cinta belasan tahun lalu. Atau hanya terlalu senang bertemu dengan putrinya.


Permintaan Deandra tambah membuat Tian tidak bisa berkutik. Gadis itu ingin terus bersamanya.


"Aku gak bisa tinggalin Dea, Sayang. Dia ingin bersamaku." Tian menyusul Ressa ke belakang.


Ressa sudah tau semua ini akan terjadi. Deandra sangat ingin bertemu ayah kandungnya. "Aku paham Tian, tidak apa. Kamu temani Aru bertemu ayah dan ibu." Katanya sambil tersenyum manis.

__ADS_1


Ya, Ressa tau itu yang Aruna inginkan. Setelah bertemu ayah Deandra, dia akan membawanya ke rumah dan mengenalkan pada ayah dan ibu. Entah sebagai apa, mungkin calon suami. Ibu pasti memaafkan Aruna, berbeda ketika dia yang melakukan kesalahan. Tidak akan termaafkan.


"Kamu gak akan ninggalin akukan, Sayang?"


"Di dunia ini tidak semua yang kita mau bisa kita genggam, Tian. Nanti aku urus perceraian kita, please jangan tahan aku lagi. Aku akan jaga anak ini dengan baik. Setelah lahir kamu bisa mengunjunginya kapanpun."


"Sayang, jangan begini. Jangan tinggalin aku, bantu aku hadapi semua ini." Mohon Tian, menangkap tangan Ressa yang ingin pergi.


Ressa mengusap lembut tangan itu sambil tersenyum, "cinta kamu sama Aru masih ada, Tian. Lain kali aku akan menemui mereka. Ucapnya lalu melepaskan tangan Tian.


"Daddy, kita akan ketemu nenek dan kakek sama mommy kan? Setelah itu kalian menikah, kita akan hidup bahagia bersama. Tidak akan terpisah lagi."


"Dea, Daddy sudah me—"


"Tian," potong Aruna sambil menggeleng pelan. Berharap Tian tidak mengecewakan putrinya dipertemuan pertama.

__ADS_1


"Tapi aku gak bisa Aru," lirih Tian sangat pelan.


"Please kita bahas itu nanti, Tian. Jangan buat Dea sedih sekarang," mohon Aruna. Tian hanya diam, tidak menolak juga tidak mengiyakan keinginan Deandra yang diartikan gadis kecil itu sebagai persetujuan.


Ressa sudah membawa kopernya, dia mendatangi Tian yang masih melamun di halaman belakang.


"Jangan cari aku, setelah aku melahirkan aku akan mengabarimu dimana aku tinggal. Kamu bisa bertemu anakmu nanti. Bahagiakan Aru dan Dea, mereka keluarga impianmu Tian. Aku pamit." Ressa memeluk Tian untuk terakhir kalinya.


"Maafkan aku, Sayang." Tian memejamkan mata, satu tetes cairan bening terjatuh di sana. "Maaf aku selalu membuatmu terluka. Bawa kartu ini," ia memberikan blackcard pada Ressa.


"Jangan hidup susah, aku gak mau kamu kelelahan. Bayar perawat untuk menjagamu, ini keputusanmu aku tidak bisa menahan lagi karena kamu yang tidak ingin tinggal."


"Iya," Ressa menerima kartu itu. Dia memang butuh uang untuk bertahan hidup.


"Jangan minta cerai, aku cuma memberimu jeda waktu menjauh dariku. Aku tidak akan menceraikanmu." Tian memberikan kecupan diseluruh wajah Ressa lalu melepaskan istri tersayangnya untuk pergi.

__ADS_1


__ADS_2