
Selesai mendaftarkan sekolah Dea, Tian membawa istrinya ke kantor. Aruna dan Dea diurus Denis. Syukurlah putrinya itu sudah mau menerima Ressa.
"Simpanan bos masih berani ikut datang ke kantor, seperti gak punya malu. Pake jilbab segala lagi," sindir Zeni.
Ressa tersenyum, tak menghiraukan kalimat pedas yang keluar dari mulut Zeni. Ia yang bersikeras ingin ke kantin, padahal sudah dilarang Tian.
"Hai apakabar?" Sapanya pada Amel dan Zeni yang sedang makan siang. Ressa ikut bergabung di meja itu sambil menunggu pesanannya.
"Hai Sa, kabar baik. Mau gabung makan di sini?" Tawar Amel sambil tersenyum.
"Eh, enggak. Makanannya sudah di tunggu, aku cuma pesan aja gak bisa makan di sini." Ujar Ressa ramah, walau dunia tidak ramah padanya. Tidak hanya Zeni yang menyindirnya, bisik-bisik tetangga yang lain pun juga terdengar.
"Sempurna banget penyamaran lo, sudah tau bos itu punya istri. Masih berani muncul secara terang-terangan."
"Zen, gak baik ngomong gitu." Tegur Amel pada temannya yang suka sirik melihat kebahagiaan orang lain.
"Selama gue masih belum ketemu sama istrinya, kayaknya masih aman deh." Jawab Ressa santuy, perempuan dengan blouse berwarna milo dan pashmina senada itu tersenyum manis.
__ADS_1
"Berani banget lo ngerebut suami orang! Kebal banget muka lo, sudah gak punya urat malu ya." Seloroh Zeni sewot.
"Sejak dulu gue sudah kehilangan urat malu," lagi-lagi Ressa menyunggingkan senyuman manis.
"Mbak Ressa ini pesanannya." Ujar ibu penjaga kantin.
"Terimakasih Bu," Ressa memberikan beberapa lembar uang. "Kembaliannya buat Ibu, sekalian punya mereka ya."
"Eh, banyak banget. Terimakasih Mbak Ressa." Ucap ibu itu, Ressa hanya mengangguk kecil.
"Gue duluan," pamit Ressa pada Amel dan Zeni. Amel mengangguk mengucapkan terimakasih.
Amel geleng-geleng kepala melihat tingkah rekan kerjanya ini.
"Mungkin mereka sudah menikah, lo gak bisa nuduh sembarangan tanpa bukti begitu Zen." Bela Amel, melihat Ressa yang penampilannya berubah dia hanya ingin berbaik sangka.
"Alaahh, bos baru satu bulan menikah mana mungkin menikah dengan Ressa!" Cibir Zeni. Amel mengendikkan bahu malas menanggapi, dikasih tau bagaimanapun tetap saja sirik itu mematikan hati.
__ADS_1
Ressa masuk ke ruangan dengan wajah cemberut, "sampai kapan mereka menganggap aku ini simpanan kamu?" Katanya sambil meletakkan makanan yang dibawanya ke meja.
"Akukan sudah bilang, jangan keluar sendirian." Tian mendekati Ressa, menggenggam tangannya dengan erat. "Kita resmikan pernikahan kita ya sekalian resepsinya."
Perempuan itu menggeleng pelan, membawa kepalanya bersandar pada Tian. "Aku malu, cuma mantan karyawanmu."
"Kamu istri aku sekarang, Sayang." Tian mengelus puncak kepala Ressa dengan kasih sayang.
"Tetap aja, aku gak pantas buat kamu."
Tian menggeleng pelan, isi kepala perempuan terbuat dari apa sih. Terlalu sering overthinking yang bisa menimbulkan kesalahpahaman.
Sebenarnya perempuan memang lebih overthinking daripada laki-laki. Karena otak perempuan lebih aktif di area korteks frontal. Area yang melibatkan fokus dan kontrol impuls, serta area emosional limbik otak yang berkaitan dengan mood atau suasana hati dan kecemasan.
"Kita makan dulu baru bahas itu," Tian mengalihkan perhatian Ressa. Bisa-bisa istrinya ini harus ditangani psikolog kalau terus seperti ini.
"Mau tidur."
__ADS_1
"Makan dulu, minum obat baru tidur." Bujuk Tian, perempuannya ini kalau di luar pasti senyam-senyum seperti tidak memiliki masalah.
Ressa menurut menyuap nasi dengan malas, Tian kembali ke mejanya melanjutkan memeriksa dokumen-dokumen yang berserakan. Sambil sesekali melirik istrinya yang makan dengan ogah-ogahan.