Aksara Cinta

Aksara Cinta
55. Bisik-bisik Tetangga


__ADS_3

Tian tidak segan menggandeng tangan Ressa saat memasuki kantornya. Karena hampir semua karyawan di sana mengenal Ressa. Banyak suara-suara miring yang sampai ke telinga pasangan itu walau mereka melakukannya dengan bisik-bisik tetangga. Yang panas mendengarnya justru Tian, bukan Ressa. Wanita itu nampak acuh dengan penilaian orang lain.


"Jadi dia berhenti kerja karena sudah menjadi simpanan presdir." Ujar salah satu karyawan, kalimat yang di dengar Tian dengan jelas.


Lelaki itu menggeram ingin mendatangi karyawan-karyawan itu. Tapi Ressa menahannya dengan mengelus-elus tangan sang suami. Ia harap singanya ini tidak mengamuk.


"Udah, biarin aja gak usah di dengerin, Sayang." Ucap Ressa saat memasuki lift, sontak membuat Tian menoleh. Tatapan lelaki yang tadinya garang itu langsung melunak.


"Good girl, Honey." Tian melingkarkan tangannya di pinggang Ressa bertepatan pintu lift terbuka. Membuat banyak mata menatap Ressa tidak suka, "tapi mereka ngerendahin kamu, Sa."


"Ngapain didengar sih, telinga kamu mending buat dengarin hal yang sedikit lebih bermanfaat." Ressa mengikuti Tian masuk ke ruangan mengabaikan tatapan-tatapan miring yang menyorotnya.


"Kamu istriku, gak ada yang boleh merendahkan kamu." Tian membawa Ressa duduk di pangkuannya.


"Aku bukan wanita terhormat Tian, sudah biasa mendengar hal seperti itu. Siap-siap meeting gih, jangan pikirkan itu." Katanya seraya merapikan dasi Tian.

__ADS_1


"Honey, aku gak suka ada yang merendahkan milikku."


"Masih pemanasan?" Goda Denis saat membuka pintu. "Ada apa?" Tanyanya siaga saat melihat raut tidak mengenakkan sang bos. Tidak jadi menggoda pasangan yang tengah hangat-hangatnya itu.


"Bereskan mulut-mulut sampah itu, Denis!" Perintah Tian dingin.


"Tian, NO." Ressa menggeleng pelan, singanya ini kalau sudah mengamuk sulit untuk dijinakkan. Dia sangat tau bagaimana Tian kalau sudah marah, walau lelaki itu kadang terlihat santai dan jarang marah.


"Sudahlah, fokus sama anak kalian. Jangan dengarkan mereka, kalau tau kalian sudah menikah nanti mereka akan diam sendiri." Denis menenangkan bosnya.


"Aku gak mau lagi dengar ada yang bicara seperti itu, Honey."


"Itu kalau kamu bisa membeli semua mulut mereka, Sayang." Ressa menyandarkan kepalanya di dada Tian tanpa mempedulikan ada Denis di sana. Ia sengaja memanggil sayang agar suaminya ini jinak.


"Akan capek kalau dengerin mereka, Tian. Tangan kita cuma dua," Ressa mengangkat tangan kirinya ke depan wajah Tian. "Gak akan bisa buat nutup mulut mereka. Ini cuma bisa digunain buat nutup telinga kita." Lanjutnya dengan meletakkan tangan itu di telinga Tian.

__ADS_1


Denis benar-benar takjub dengan Ressa yang bisa mendinginkan amarah Tian. Belum pernah ada perempuan yang bisa menjinakkan sahabatnya ini.


"Oke," ujar Tian mengalah. "Denis duluan ke ruang meeting, aku lima menit lagi menyusul." Perintahnya.


"Siap Bos," Denis segera pergi. Dia paham bosnya itu mau melakukan apa. Daripada dirinya sendiri yang kepanasan, mending kabur.


"Jangan keluar, aku gak mau ada yang menghina kamu lagi. Ada aku aja mereka berani ngomongin kamu, apalagi kalau gak ada." Tian menempelkan pipinya pada pipi Ressa. Sungguh dia enggan berjauhan dari istrinya ini, biarlah dia dianggap bucin akut.


"Yes, My Tian." Ressa mengangguk diikuti senyuman.


"Kamu menggemaskan seperti Erra, Honey." Ujar Tian gemas. "Hm, aku jadi kangen Erra. Malam itu dia ngambek aku usir pulang," akunya.


"Nanti kita ke sana, sana meeting pasti sudah pada nunggu." Ressa menepuk-nepuk pipi suaminya.


"Kasih booster dulu, biar aku gak marah-marah saat meeting." Selesai mengucapkannya Tian langsung menyatukan dua benda kenyal itu. Menyesapnya dengan lembut dan bermain sebentar dengan daging tak bertulang. Dia tidak bisa berlama-lama karena sudah lebih dari lima menit. Tian segera menuntaskannya.

__ADS_1


"Ke kamar, Honey." Ucap Tian sebelum meninggalkan Ressa. Istrinya itu mengangguk patuh. Sangat menggemaskan kalau penurut seperti itu. Tian jadi semakin bucin.


__ADS_2