
"Audrey ini milik siapa?" Ayah Audrey melempar testpack ke arah Audrey yang baru bangun tidur. Perempun itu menangkap testpack dengan tangan gemetar.
"Kenapa benda ini bisa ada sama Ayah?" Gumamnya ketakutan.
"Ayah mengijinkan kamu jadi model bukan untuk menjadi perempuan liar, Audrey!" Sentak sang ayah marah.
Audrey menundukkan kepala dengan mata yang sebentar lagi membanjiri pipi.
"Aa-yah, ini gak seperti yang Ayah kira. Aku dipaksa," lirih Audrey.
"Jelaskan kalau memang ini tidak seperti yang Ayah kira?" Serang pria paruh baya itu, tidak sia-sia ia melakukan inspeksi pagi ini di apartemen putrinya.
Audrey gadis yang penurut di matanya, sehingga ia mengijinkan putrinya ini hidup mandiri dan mengejar mimpinya menjadi seorang model.
"Ayah tenang dulu, dengarkan Audrey. Kalau Ayah marah-marah Audrey akan takut bercerita." Ujar sang bunda menenangkan ayahnya.
"Aku dijebak Ayah, malam itu aku tidak ingat apapun. Tiba-tiba saja paginya aku berada di kamar hotel." Audrey mengarang cerita dengan beruraian air mata.
"Kamu kenal laki-laki itu?"
__ADS_1
"Kenal Ayah," jawab Audrey pelan.
"Kamu siap-siap, kita temui laki-laki itu. Jangan coba-coba mengarang cerita Audrey, Ayah akan mengeluarkanmu dari kartu keluarga kalau sampai cerita ini bohong."
Audrey hanya menganggukkan kepala, pagi ini dia selamat. Entah bagaimana nasibnya nanti.
"Sebelum itu kita ke dokter terlebih dahulu," perintah sang ayah.
Audrey hanya bisa pasrah, dia tidak pandai berbohong apalagi mengarang cerita yang dramatis.
"Ayah jangan terlalu keras, Audrey bisa tambah tertekan."
***
"Ada yang mengaku sebagai orang tua Audrey ingin bertemu," lapor Denis pelan.
"Atas keperluan apa mereka mencariku, bukannya Audrey sudah tidak hamil lagi. Tidak mungkin meminta pertanggung jawaban kan?" Tian melirik istrinya yang sedang selonjoran dengan santai di sofa.
"Entahlah, kalian bicara dulu. Biar aku ulur waktu." Saran Denis yang disetujui Tian. Asistennya itu langsung menemui tamunya di loby.
__ADS_1
"Sayang," panggil Tian.
"Ya. Aku malas jalan, hm." Sahut Ressa diikuti cengiran.
Tian terpaksa beranjak mendekati istrinya itu, "aku ada tamu kamu bisa masuk kamar sebentar." Pintanya, tidak berani mengatakan yang sebenarnya. Istrinya ini bisa mengamuk kalau mendengar nama Audrey.
"Aku malas jalan, gendong ke kamar boleh? Atau aku di sini aja. Aku gak akan ganggu kamu." Ujar Ressa manja, yang sesungguhnya ia penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan tamu Tian. Telinganya bisa mendengar apa yang Denis katakan pada suaminya tadi.
"Baiklah aku gendong," Tian mengalah. Daripada semuanya jadi kacau karena istrinya mengamuk lagi.
Ressa mengalungkan tangannya di leher Tian, lalu berbisik. "Yakin mau jauh dari aku, gak mau mangku aku aja, hm." Katanya dengan suara menggoda yang mampu memancing keperkasaan Tian.
"Sayang, bukan saat yang tepat menggodaku. Dokter masih menyarankan kamu untuk istirahat satu sampai dua minggu ke depan." Ucap Tian tenang seolah tidak terganggu dengan pancingan Ressa. Ia tetap memindahkan istrinya itu ke kamar.
"Aku tidak akan tinggal diam kalau ada yang menyentuh milikku lagi, Tian!" Sarkas Ressa setelah mendarat sempurna di tempat tidur.
"Aku tau tidak boleh membuat kesalahan lagi, Sayang. Kamu bisa keluar saat aku memerlukan bantuanmu. Pantau dari sini," Tian memberikan ponsel yang sudah terhubung cctv di ruang kerjanya.
"Aku perlu kerjasama-mu kali ini, Sayang." Ujar Tian dengan tatapan memohon, dia tidak ingin ada pertengkaran lagi.
__ADS_1
"Tentu saja," Ressa mengambil ponsel dari tangan Tian dengan tersenyum manja. "Keluarlah, aku tunggu kabar baiknya." Ujarnya mengedipkan mata manja.