
"Sepertinya inilah waktunya gue mengambil alih Adley Grup. Sebagai peringatan untuk Jeri, agar dia tidak berani macam-macam dengan Ressa." Ucap Tian serius, mereka sedang membahas Adley Grup dan mengatur strategi ke depan untuk Jayindo Infrastruktur dan Extnet Indonesia.
Erfan mengangguk, "biar Denis yang menggantikan lo di Jay-In untuk sementara."
"No.. No, dia akan tetap ikut gue. Lo cari yang lain aja." Tolak Tian, "gue mau fokus sama Ressa dulu. Denis sudah expert, kalau gue cari asisten baru bikin repot."
Erfan mendengus, "bercinta aja terus yang di otak lo."
"Apa bedanya sama lo, sampai Erra cemburu." Sindir Tian dengan senyuman miring, tangannya membuka dokumen-dokumen yang dibawanya.
"Gue sudah menyelidiki Adley Grup di bawah kepemimpinan Jeri, sejauh ini tidak ada masalah. Andai dia tidak menantang, mungkin gue gak akan ambil perusahaan itu. Kehilangan Adley Grup tidak akan membuat seorang Tian jatuh miskin. Tapi Jeri malah menginginkan Ressa," oceh Tian.
__ADS_1
Erfan geleng-geleng kepala melihat kebucinan Tian. Ternyata orang bucin itu sangat menggelikan. Ia jadi ingat bagaimana bucinnya dengan Hira, sungguh memalukan.
Suami Hira itu mengambil dokumen yang di pegang Tian dan ikut mengamatinya. "Tidak bisakah lo memaafkan mereka, Tian. Hidup dalam kebencian itu sangat melelahkan. Gue pernah merasakannya," nasehat Erfan dengan serius.
"Kebencian itu sudah mendarah daging, belasan tahun tertanam di hati dan pikiran gue." Jawab Tian tenang.
Ayahnya meninggal saat Tian berumur lima tahun dalam sebuah kecelakaan. Tidak lama setelah itu ibunya menyusul karena sering sakit-sakitan setelah ditinggal ayah.
Penyebab kematian sang ayah terungkap saat Tian berumur delapan belas tahun. Ayah Jeri lah dalang dari semuanya yang mensabotase mobil sang ayah sampai kecelakaan itu terjadi.
Seluruh harta yang dimiliki keluarga Adley, sang kakek diserahkan pada Tian karena murka dengan ayah Jeri. Ibu Jeri hanya mendapatkan sebagian kecil harta itu.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu kakeknya meninggal yang diketahui juga karena ulah ayah Jeri yang serakah.
Tian yang saat itu baru lulus SMA memutuskan kuliah di luar negeri agar tidak bertemu dengan keluarga yang membuat kebenciannya mencuat.
"Sekarang ayah Jeri sudah tidak ada, mungkin saat itu ibu Jeri tidak tau dengan perbuatan suaminya atau sedang dalam tekanan. Lo membenci Jeri karena ayahnya yang sudah menyebabkan ayah dan kakekmu meninggal. Sebenarnya itu hanya perantara, Tian. Andai bukan ayah Jeri yang melakukan pembunuhan. Mereka akan tetap meninggal kalau waktunya sudah sampai," jelas Erfan panjang lebar.
"Memaafkan itu tidak semudah kata yang terucap Erfan! Kalau hanya dengan kalimat, tidak ada kata seindah kata maaf, tidak ada perbuatan seindah yang memaafkan, kini hati akan dibersihkan, tanpa noda dan kotoran. Itu adanya cuma saat lebaran," desis Tian.
"Memang tidak ada yang mudah kalau tidak dipelajari dan dibiasakan." Balas Erfan tidak mau kalah.
"Andai memaafkan sesederhana satu tambah satu sama dengan dua, mungkin tidak akan ada penjara dan penjahat di bumi ini. Semua akan melebur dalam damai dan kebencian menjadi abu mayat." Ucap Tian asal yang sama sekali tidak ada hubungannya.
__ADS_1
"Hidup memang tidak sesederhana itu, Tian. Orang bisa dengan melakukan cara apapun untuk mendapatkan angka dua, itu sah-sah saja."
Pembicaraan serius itu berakhir dengan perdebatan matematika sederhana yang sama sekali tidak sederhana. Hanya warung sederhana yang sederhana.