Aksara Cinta

Aksara Cinta
30. Sandiwara Erra


__ADS_3

"Tante!" Erra berlari kecil mendekati Ressa yang sudah merentangkan tangan. Lalu menghambur kepelukan perempuan itu. Hira menyusul membawakan jus jeruk.


"Daddy, aku mau uncle Tian!" Ucap gadis kecil itu cemberut.


"Uncle lagi kerja, Sayang. Sama Tante Ressa aja dulu ya," bujuk Erfan.


"No. Aku mau uncle di sini. Now!" Hira mengernyitkan kening melihat tingkah putri kecilnya itu. Sandiwara apa yang sedang sang suami mainkan bersama Erra.


"Kenapa harus ada uncle?" Tanya Ressa penasaran. Tanpa curiga kalau semua sudah diatur Erfan yang memanfaatkan putri kecilnya untuk meluluhkan hati Ressa.


"Aku mau tante sama uncle bikinin dedek kecil yang imut buat aku." Jawab Erra antusias, suami Hira itu mengulum senyum. Mengedipkan mata pada sang istri.


"Kalau itu Erra bisa minta bikinin mommy sama daddy, tante gak bisa bikinnya." Tolak Ressa cepat.


"Tante bisa bikinnya kalau sama Uncle Tian." Entah siapa yang sudah meracuni otak anak kecil ini. Ressa menatap tajam Hira dan Erfan bergantian. Keduanya bersikap santai, mengendikkan bahu, acuh.


Tanpa perlu Erfan panggil lelaki yang dinantikan Erra sudah datang. Sebelum pulang tadi ia sudah kongkalikong dengan Tian agar menyusulnya.


"Kenapa panggil Uncle, Honey." Tian mengecup kening Erra yang berada dalam pangkuan Ressa. Lalu dengan cepat ia mencuri satu kecupan di pipi perempuan itu.


Ressa mendelik, belum sempat protes. Erra sudah protes lebih dulu. "Uncle kenapa cium tante, ih." Gadis kecil itu memukul-mukul dada bidang Tian. "Kata daddy kalau belum menikah gak boleh cium sembarangan. Dosa."


"Yah, Uncle salah dong. Biar gak dosa harus apa?" Tian tersenyum smirk menatap wajah jengah Ressa.

__ADS_1


"Nikah, pokoknya aku mau kalian sekarang nikah." Ucap Erra dengan mata berkaca-kaca. Ressa membulatkan mata dengan tingkah anak kecil ini.


"Tante gak bisa nikah sama uncle, Sayang." Ressa menangkup pipi Erra, "Erra cariin uncle perempuan lain aja ya." Bujuknya, Tian mendelik. Apa-apaan ini, rencananya bisa kacau kalau gadis kecil itu mengangguk.


"No, aku mau Tante, titik!" Rengek Erra.


"Sayang, bawa Erra main di dalam." Titah Erfan, sudah cukup putri kecilnya itu terlibat dalam pembicaraan orang dewasa.


"No Daddy!" Erra menggeleng kuat.


Tian mengambil alih gadis itu lalu menggendongnya sambil berjalan-jalan. "Siapa yang ngajarin, hm?" Tanyanya sambil tersenyum lucu.


"Daddy," jawab Erra polos.


"Good, sekarang Erra main di dalam ya. Biar Uncle yang bujuk tante."


"Erra doain Uncle kan? Daddy pernah ngajarin apa?"


"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu."


"Pintar, doa Erra pasti Tuhan kabulkan."


"Allah, Uncle." Ralat anak kecil yang baru berusia tiga tahun itu.

__ADS_1


"Yaa, doa Erra pasti Allah kabulkan." Ulang Tian, walau dia tidak yakin Tuhan mengampuni dosa-dosanya yang sangat banyak ini. Dia kalah pintar dengan anak kecil kalau masalah Tuhan.


Putri Erfan itu mengangguk-angguk lucu. Minta diantar pada mommy-nya. Setelah Hira membawa Erra masuk, Erfan ikut menyusul membiarkan dua orang itu bicara dari hati ke hati.


"Kenapa bicara seperti itu sama Erra?" Tian duduk di pembatas sofa, tangannya terulur membelai rambut Ressa.


"Kamu gak perlu gunain Erra untuk mengubah keputusanku." Ressa menepis kasar tangan Tian di rambutnya.


"Kenapa susah banget buat kamu nerima aku, Sa." Kesal Tian, dia sudah berusaha sabar menghadapi perempuan labil di depannya ini.


"Aku gak bisa nikah sama kamu Tian. Gak bisa. Kamu ngerti gak sih!" Sahut Ressa tak kalah kesal, Erfan dan Hira yang menyaksikan semua itu geleng-geleng kepala.


"Mereka gak bisa disatuin, Bee."


Erfan menghela napas berat membenarkan ucapan istrinya.


"Aku cuma ngertinya mau nikah sama kamu." Tian kembali ke mode santai, tidak boleh ikut terpancing emosi. Gas di depannya ini bisa langsung meledak.


"Pantas, kamu cuma bisanya bahasa binatang," sarkas Ressa kasar.


"Kamu ini kenapa sih, tadi baik-baik aja. Kamu lihat sendirikan, aku lebih milih kamu dibanding Audrey, Ressa."


"Aku malu, kamu ngerti gak sih kalo aku malu. Kamu anggap aku ini apasih!" Teriak Ressa emosi.

__ADS_1


"Aku gak ngerti mau kamu apa? Kamu mau status? Berulang kali aku ngajak kamu nikah tapi kamu tolak. Sekarang kamu nyalahin aku yang gak ngerti denganmu. Aku memang gak ngerti mau kamu itu apa, Ressa."


Tian memijat pelipisnya pening, perempuan memang susah ditebak maunya apa.


__ADS_2