Aksara Cinta

Aksara Cinta
162. Terhalang Restu


__ADS_3

"Bibi kenalin Ressa istriku," Tian mengalihkan perhatian sang bibi. Perempuan paruh baya itu memeluk Ressa erat.


"Dea sini Sayang, kenalan sama nenek. Ibunya Om Jeri," ujar Tian memanggil Dea. Gadis kecil yang duduk anteng di sofa menikmati drama itu mendekat menyalami neneknya.


"Dan itu ibunya Dea, Bi." Tian menunjuk ke arah Aruna yang duduk di samping Denis.


Ibu Jeri melotot tajam pada Tian, lelaki itu hanya terkekeh kecil. "Sekarang istriku cuma satu, Bibi. Jangan pikirkan apapun. Dan jangan tanyakan apapun sekarang, karena aku sedang tidak ingin menjawabnya." Ujar Tian seraya merangkul Dea, sebelum bibinya mengeluarkan berbagai pertanyaan susulan.


Jeri mengamati kehangatkan sang ibu pada keponakannya yang lama tidak bertemu. Dia jadi memikirkan Audrey. Sedang apa perempuannya itu, semoga Audrey tidak nekat melakukan apapun lagi yang bisa membuatnya sulit membujuk sang ibu.


"Kamu harus putuskan Audrey sekarang Jeri." Perempuan paruh baya itu kembali ingat pada putra semata wayangnya.


Lelaki itu menghela napas pelan, dia sudah berjanji akan selalu ada buat Audrey.


"Ibu jangan begini," lirih Jeri.


"Ibu tidak mau tau, kamu pilih perempuan itu apa ibu?" Tegas sang ibu, membuat Jeri tambah pusing.

__ADS_1


"Bibi sudah, biar saja Jeri menikah dengan Audrey." Bujuk Tian menenangkan sang bibi yang terlihat emosi.


"Tidak, Ibu tidak ingin punya menantu penjahat. Bisa-bisa anaknya dibunuh nanti." Sarkas sang ibu yang membuat Jeri meringis, Audrey memang sudah dua kali menggugurkan kandungannya. Kalau ibu tau itu, entah bagaimana harus meminta restunya.


Tian tersenyum tipis pada Jeri, dia memang tidak membalas dengan luka yang sama. Tapi dengan seperti ini semua akan terbalaskan.


Ressa mencubit tangan Tian, tau pikiran licik yang sedang suaminya itu pikiran.


"Ibu, kasih Audrey kesempatan. Aku akan mendidiknya dengan baik," mohon Jeri.


Jeri menghela napas berat, dia diam sajalah. Bicara apapun pasti akan kalah dengan ibunya. Setelah sang ibu selesai melepas rindu, Jeri mengantarkan ibunya pulang.


"Aku pulang ya, Bu." Pamit Jeri menyalami ibunya saat masih di mobil.


"Ini rumahmu Jeri, kamu mau pulang kemana, hah?" Teriak sang ibu geram, sejak mengetahui perbuatan Audrey dia jadi kesal pada putranya yang dibutakan cinta itu.


"Aku tidur di apartemen seperti biasa, Bu." Jawab Jeri sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Ingat, putuskan Audrey. Besok ibu akan bawakan perempuan yang lebih cantik dan baik daripada dia!" Sarkasnya lalu keluar dari mobil Jeri.


Lelaki itu tidak menjawab melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Adley. Ia langsung ke apartemen Audrey.


Perempuannya itu meringkuk di atas kasur tanpa berganti pakaian. Matanya sembab seperti habis menangis. Jeri mengambil album foto yang dipeluk Audrey. Di sana ada rekam jejak kebersamaan Tian dengan Audrey.


Dia tidak bisa memilih antar Audrey dan ibu, tapi Jeri sudah berjanji menikahi dan menjaga Audrey. Harus bagaimana ini, ibunya tidak merestui dan malah mencarikan jodoh untuknya.


Jeri membelai lembut rambut Audrey, semua salahnya. Semua terjadi karenanya, dan harus Audrey yang menderita.


"Jeri, aku mimpikah." Audrey mengerjapkan mata beberapa kali, "aku terlalu rindu padamu sampai terbawa mimpi."


Bukan terlalu rindu, Audrey terlalu takut Ibu Jeri tau kalau dialah yang melukai Ressa. Lelaki itu tersenyum simpul.


"Ini bukan mimpi, Sayang." Jeri mengecup mata Audrey agar tersadar. "Kenapa menangis, kangen Tian?"


Audrey menggeleng pelan, "aku takut. Kalau ibumu tau aku yang melukai istri Tian pasti tidak akan merestui kita. Aku tidak ingin bersaing dengan Ressa lagi untuk mendapatkan hati ibumu, aku jelas akan kalah."

__ADS_1


__ADS_2