
"Hentikan!!" Teriak Ibu Jeri saat putranya akan mengucapkan ijab kabul. Jeri menghela napas pelan, sedang Audrey sudah menunduk ketakutan dan juga malu.
"Kita tetap lanjutkan Pak," ucap Jeri tenang pada penghulu. Akad nikah itu hanya dihadiri beberapa orang saja. Ia tidak memberitahu ibunya, entah dapat kabar darimana ibunya itu kalau malam ini dia akan menikah.
"Jeri, hentikan! Kamu mau membantah Ibu, kamu boleh menikah tapi dengan dia!" Ibu Jeri menarik perempuan yang dibawanya.
"Bibi, jangan halangi Jeri. Lanjutkan Pak." Ucap Tian pada penghulu, dia membawa bibinya pergi dari sana. Sedang Ressa masih menyaksikan ijab kabul yang dilakukan secara tertutup di apartemen Jeri itu.
"Tiaaan jangan halangi bibi..!!" Teriak perempuan paruh baya itu seperti kesetanan.
"Jangan sampai karena emosi, membuat Bibi menyesal seumur hidup." Tian membawa bibinya dalam pelukan, agar lebih tenang.
"Bibi gak mau Jeri menikah dengan perempuan itu!!" Kekeuh sang bibi.
"Jeri berhak bahagia dengan perempuan pilihannya. Yang menjalani mereka, bukan kita. Beri Jeri kesempatan Bi," bujuk Tian.
"Itu benar Tante, saya tidak bisa menikah dengan lelaki yang tidak mencintai saya." Ucap perempuan yang bersama Ibu Jeri.
"Kalau Bibi sudah tenang kita temui mereka. Tapi kalau bibi masih emosi lebih baik kita pulang. Aku yang menjamin kalau Audrey perempuan baik." Tian kembali meyakinkan sang bibi.
__ADS_1
Hanya ini yang bisa dilakukannya untuk membahagiakan Audrey, sesuai keinginan Ressa untuk menebus kesalahannya. Ia yang sudah membuat perempuan itu terluka.
"Antar bibi pulang," sebut perempuan paruh baya itu. Tian menyetujui, daripada bibinya membuat keributan lebih baik dia antar pulang saja.
Audrey menangis dalam pelukan Jeri setelah akad nikah berhasil dilakukan dan para tamu pulang. Hanya ada Ressa dan asisten Jeri yang tertinggal di sana.
"Tenang Sayang, jangan pikirkan ucapan Ibu. Tidak ada yang bisa menghalangi takdir Tuhan." Jeri menyeka air mata Audrey, "sayang make up loh kalau nangis. Aku bayar MUA mahal-mahal," canda Jeri.
"Kamu ya perhitungan banget!" Audrey memanyunkan bibirnya.
"Ekhem, masih ada orang di sini?" Peringat Ressa saat Jeri ingin menyosor bibir Audrey.
"Malu-maluin ih..!!" Audrey menutup wajahnya dengan lengan Jeri.
"Kamu nangis dari tadi gak malu?" Ejek Jeri diikuti tawa kecil.
"Senang ya bikin aku tambah malu," rajuk Audrey. Ressa tersenyum tipis melihat kemesraan penganten baru itu.
"Aku senang akhirnya kamu jadi istriku," ujar Jeri gombal. "Matt kamu tidak ingin muntah mendengarnya kan?" Godanya pada sang asisten yang tidak bergerak seperti manekin bernapas.
__ADS_1
"Tidak bos," jawab Matt diikuti helaan napas berat. Melihat bosnya itu bercintapun dia sudah biasa.
"Baguslah, aku takutnya kamu lupa bernapas Matt!!" Jeri mengajak Audrey dan Ressa santai di ruang tengah sambil menunggu Tian kembali. Syukurlah ada Tian yang menenangkan ibunya itu, sehingga semuanya bisa berjalan lancar.
Tidak berapa lama Tian datang menjemput Ressa. "Sayang, ayo pulang." Ajaknya lalu beralih pada pengantin baru itu mengucapkan selamat. Kemudian mereka berpamitan, lelaki itu tidak ingin berlama-lama di sana.
Ressa menghela napas panjang melihat suaminya yang tidak bersikap ramah, tapi ia yakin Tian sedang berusaha untuk memaafkan keduanya.
Setelah Tian pulang, Matt juga pamit pulang. Jeri membawa Audrey ke kamar.
"Kenapa? Kangen ayah sama bunda?" Tanya Jeri melihat Audrey yang tidak ada bahagia-bahagianya. Padahal dia sudah sedari tadi berusaha membuat istrinya itu tertawa dengan segala lelucon recehnya. "Atau kamu tertekan menikah denganku?"
"Kenapa bertanya seperti itu, aku bahagia menikah sama kamu Tian."
"Hm," Jeri menarik napas pelan. Rupanya Tian yang masih ada dalam pikiran Audrey. "Tidurlah, kamu pasti sangat kelelahan sampai lupa namaku." Sindir Jeri halus.
"Emang aku manggil kamu apa tadi?" Tanya Audrey yang tidak sadar salah sebut nama.
"Tian," jawab Jeri lalu berbaring lebih dulu.
__ADS_1
Audrey menepuk kepalanya, "kenapa jadi salah nama begini?"" Gumamnya panik.