
Usai sarapan Ressa membawakan Teh ke kamar tempat ayahnya beristirahat diikuti sang suami.
"Ayah, tumben pagi-pagi tidur lagi." Tegur Ressa heran, ayahnya itu paling anti tidur pagi hari.
Ressa meletakkan teh di atas nakas dan duduk di sisi tempat tidur, "Ayah sakit?" Tanyanya seraya membelai pipi sang ayah.
Tian merasakan ada yang aneh dengan ayah mertuanya itu, ia mendekat menekan di jempol kaki. Tapi tidak ada reaksi apa-apa. Hatinya sudah mulai gelisah.
"Sayang," Tian membawa Ressa dalam pelukan, membenamkan wajah istrinya di dada. Sedang tangan kanannya mencek nadi di pergelangan tangan mertuanya. Karena kurang yakin ia menempelkan jari telunjuk di hidung sang mertua.
"Ayah udah gak ada Sayang," ucapnya lirih menguatkan pelukan.
Ressa menggeleng pelan, saking syoknya mendengar ucapan Tian perempuan itu tidak dapat mengeluarkan air mata lagi. "Ayah gak mungkin pergi, Tian. Gak mungkin!"
"Ikhlas Sayang, ayah ingin kamu bahagia kan." Tian mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada Ressa lewat pelukan.
__ADS_1
Ia jadi teringat saat ditinggalkan kakeknya pergi. Waktu itu usianya masih delapan belas tahun. Ia marah pada Tuhan karena telah mengambil satu-satunya orang yang paling disayanginya di dunia ini.
"Ayah gak mungkin ninggalin aku kan. Ayah gak akan ninggalin aku!!" Ressa melepas paksa pelukan Tian mengguncang-guncang tubuh sang ayah agar bangun.
"Ayah banguun! Ayah mau lihat Ressa bahagiakan. Sekarang ayah harus bangun." Perempuan itu menjatuhkan tubuhnya di atas sang ayah. Tian menghubungi Denis untuk mengabari Aruna dan keluarganya.
"Sayaang," Tian tidak dapat berkata-kata lagi. Hanya membelai punggung Ressa untuk memberikan ketenangan.
Istrinya tidak mengeluarkan air mata sedikitpun. Justru itu menggambarkan kepiluan yang sangat besar.
"Ayaaaah!!" Teriak Aruna dari depan pintu kamar, dengan air mata yang tak terbendung lagi. Denis sedang menjemput Dea dan juga Ibu kandung Aruna. Perempuan itu melakukan yang seperti Ressa lakukan tadi. Mengguncang-guncang membangunkan sang ayah, berharap tubuh renta itu tersenyum lagi padanya.
"Ayaah Mas," lirih Aruna yang tidak bisa menghentikan tangisnya.
"Ayah ingin kalian bahagia," Tian memejamkan mata mengusap lembut bahu dua orang perempuan yang memiliki cerita masing-masing di hatinya itu.
__ADS_1
Tidak berapa lama Rina datang di susul Deandra.
"Ayaaaaah, maafin ibuuu!!" Rina memeluk suaminya yang akhir-akhir ini memang ingin tinggal bersama Ressa tapi dilarangnya. Perempuan paruh baya itu menciumi seluruh wajah Amrin dan mengecup di punggung tangannya. Kemudian beralih menatap Ressa sendu.
"Maafin Ibu, Nak." Rina merentangkan tangan minta dipeluk. Ressa menghambur kepelukan perempuan yang sudah membesarkannya itu dengan suka cita.
"Gak usah minta maaf, Ressa yang selalu nyusahin ibu dan ayah." Lirih Ressa yang akhirnya berhasil menangis dipelukan sang ibu.
Rina juga meminta Aruna untuk mendekat, mereka bertiga berpelukan. “Jangan menangis, Ayah tidak suka kalian sedih begini melepas kepergiannya. Yang Ayah butuhkan itu doa," nasehat sang ibu.
Dua orang perempuan itu mengangguk, menyeka air matanya masing-masing. Semua terjadi begitu cepat, Ressa masih belum bisa percaya kalau sang ayah sudah pergi. Tadi dia masih bisa memeluk dan bermanja-manja pada ayahnya itu.
“Kakeeek!!” Denis menuntun Dea yang menangis sepanjang jalan.
“Kenapa kakek ninggalin Dea, kalau mommy sama daddy sibuk. Dea sama siapa?” Dea naik ke atas tempat tidur memeluk sang kakek yang sudah tidak bernapas lagi.
__ADS_1
“Dea sama Daddy, Sayang.” Tian langsung memeluk putrinya dari belakang. Sebelum Dea mengikuti jejak Aruna dan Ressa, membangunkan paksa sang kakek.
“Daddy ada di sini buat Dea, Dea jangan takut sendirian. Kakek gak suka Dea nangis kan?” lelaki itu membalikkan tubuh Dea pelan. Menyeka bulir-bulir air mata yang berjatuhan di pipi sang putri.