
"Kenapa gelisah Sayang, kamu kepanasan? Tapi AC-nya dingin kok." Tian kebingungan melihat istrinya yang bolak-balik di tempat tidur. Mereka sedang menginap di rumah Rina usai pernikahan Denis dan Aruna tadi siang.
"Aku lapar," jawab Ressa dengan cengiran.
Tian meraup napas dengan kasar, dia saja yang terlalu berlebihan mengkhawatirkannya. Istrinya malah memasang wajah polos seperti itu.
"Ayo kita cari yang bisa dimakan," Tian memasangkan jilbab kaos terusan pada Ressa. Ia tidak ingin apa yang dimiliki tubuh istrinya ini terlihat oleh lelaki lain.
Tentu saja Ressa sangat senang, di ruang tengah masih ramai suara obrolan.
"Kalian mau kemana?" Tanya Aruna saat pasangan itu lewat. Tadi katanya Ressa mengantuk, tapi sekarang keluar lagi.
"Lapar, hehe." Jawab Ressa sambil mengelus perutnya pertanda cacing di sana sedang berdemo ria.
Sang ibu yang mendengar jawaban Ressa menatap heran. Tadi putrinya itu juga ikut makan bersama, malahan sangat lalap. "Duduk sini," panggilnya. "Biar ibu yang ambilin makannya."
Ressa tersenyum berbinar menurut dengan perintah sang ibu.
__ADS_1
"Bukannya tadi kakak juga makan sama kita, masa lapar lagi. Orang tadi makannya banyak banget. Sampai anak kucing lewat gak kelihatan," celetuk sang adik bungsu Ressa.
"Rekaaa, jaga mulutmu kalau bicara. Itu kakakmu!!" Tegur sang ibu dengan nada suara lebih tinggi beberapa oktaf.
Perempuan yang dipanggil Reka itu memberengut masam, "mentang-mentang suami Kak Ressa kaya jadi ibu belain teruuus!!" Selorohnya tanpa saringan, membuat sang ibu yang sudah berjalan beberapa langkah berbalik lagi.
"Ini nih, kalau mulut gak pernah sarjana!!" geram Rina menjepit bibir putri bungsunya. Ressa tertawa paling nyaring melihat adiknya dianiaya sang ibu. Pipi perempuan itu sudah pulih seperti semula, karena Tian memberikan perawatan mahal padanya. Sampai sekarang ia masih rutin melakukan perawatan.
"Ibuuu," rengek Reka setelah ibunya melepaskan jemari maut. "Mulut kalian pernah kuliah?" Tanyanya polos pada kakak-kakaknya yang berujung jadi bahan tertawaan.
"Pernah dong, bahkan sampai S2." Jawab Ressa asal, Aruna meringis melihat tingkah kedua adiknya yang sebelas dua belas itu. Adiknya yang satu lagi sudah pulang sore tadi. Sedang Reka masih menginap hanya suaminya yang pulang duluan.
"Polos dan bodoh itu beda tipis ternyata," gumam sang ibu frustasi. Menanggapi putrinya yang lemot itu bisa membuat penyakit asam uratnya kumat.
"Ibu sih mulai duluan, sudah tau Reka itu lola masih aja diladenin." Ujar Aruna yang malah menyalahkan sang ibu karena kelemotan adiknya. Bukan menyalahkan, maksudnya kalau sudah tau lemot gak perlu diladenin buang-buang energi saja.
"Makan Sa, ibu pusing dengerin Reka ngoceh." Rina duduk diantara Aruna dan Ressa.
__ADS_1
Ressa tidak akan bisa menolak nasi goreng super lengkap di depan mata, juga ada timun yang membuat matanya berbinar cerah. Ia makan dengan lahap dan super cepat seperti kilat.
"Hei, itu nasi gak ikutan lomba lari. Kenapa makannya buru-buru!" Tian mengambil sendok di tangan Ressa memberikan air putih untuk istrinya itu.
"Habiskan dulu yang di mulut baru protes," ucap Tian lebih dulu saat Ressa membuka mulut. Yang ada di sana hanya bisa melongo melihat cara makan Ressa seperti orang kelaparan.
Istri Tian itu memperlambat kunyahannya, kemudian menyengir setelah nasi dimulutnya terkunyah sempurna.
"Nasinya emang gak ikut lomba lari. Tapi cacing yang ada di sini sudah menari-nari," Ressa menyengir lebar dengan wajah di manja-manjakan pada sang suami.
Tian menggeleng pelan, ada saja jawaban istrinya ini. Ia melanjutkan makan Ressa dengan menyuapi tanpa menanggapi celotehannya.
"Cacing itu kalau menari gimana gerakannya Kak?" Tanya Reka serius memajukan wajahnya mendekati Ressa yang sedang disuapi Tian.
"Ya Salam anak siapa ini?" Rina menoyor jidat si bungsu yang halal untuk dijitak.
"Aduuh-aduuh Bu, otakku nanti keluar semua." Rengek Reka mengelus-elus jidatnya yang terasa sakit. Ibunya itu menjitak dengan tenaga super mom.
__ADS_1
"Emang otakmu itu sudah keluar semua!" Sarkas Rina kesal, anak dan menantunya sudah pada tertawa.