Aksara Cinta

Aksara Cinta
184. Khawatir


__ADS_3

"Siapa yang menculik Dea, Sayang?" Tanya Ressa sambil menyandarkan kepala di dada bidang Tian. Aroma tubuh suaminya itu sangat menenangkan.


"Azmi," jawab Tian pelan. Membawa tangannya mengusap bahu Ressa.


Ressa langsung menolehkan wajahnya pada sang suami saat nama Azmi dilontarkan Tian. "Manusia brengsek itu sudah bebas dari penjara?" Gumamnya tidak percaya.


"Iya, beberapa bulan yang lalu Sayang. Chip yang aku pasang di liontin Dea ditinggalnya di rumah papinya." Jelas Tian pelan, dia sangat khawatir Azmi melakukan hal tidak senonoh pada putrinya.


Lelaki itu terkenal dengan penjahat kelamin. Bagi Tian lebih baik membayar perempuan yang menjual tubuhnya daripada memanfaatkan orang yang tidak bersalah untuk memuaskan nafsu.


"Sayang, aku takut Dea... empph.." Tian langsung membungkam mulut Ressa dengan bibirnya agar tidak mengatakan hal yang membuatnya cemas. Tian tidak ingin putrinya yang menanggung karma atas dosa-dosa masalalunya.


"Jangan katakan apapun Honey, aku juga takut. Aku takut Allah menghukumku melalui Dea. Aku takut ini karma dari perbuatanku." Ucap Tian menautkan keningnya pada Ressa. Tanpa ia sadari air matanya menetes.


Ressa menangkup pipi suaminya, menghapus air mata yang menetes di pipi Tian dengan lembut. "Dea pasti ketemu Sayang. Allah pasti menjaga Dea," lirihnya yang saat ini juga sedang kalut-kalutnya.

__ADS_1


Tian mengangguk menautkan bibir mereka kembali. Dia ingin melepaskan segala lelahnya pada sang istri.


Sementara di kamar lain Denis menunggu Aruna sadar setelah membersihkan diri. Dia juga menyiapkan makanan agar istrinya itu mau mengisi perut setelah bangun nanti.


"Maaasss..." panggil Aruna pelan.


"Iya Sayang, syukurlah kamu sudah bangun." Denis membantu Aruna untuk duduk, "sekarang kamu harus isi perut Sayang. Mencari Dea perlu energi untuk berpikir. Kamu gak boleh sakit sebelum Dea ketemu. Aku bisa tambah gila kalau kamu sakit."


Denis menyuapi Aruna tanpa persetujuan. Baru satu hari menikah, mereka sudah mendapat ujian seperti ini.


Aruna susah payah menelan nasi yang masuk ke tenggorokannya. "Aku gak bisa makan, gak mau ketelan nasinya."


"Minum susunya dulu, kamu harus isi perut walau cuma sedikit Sayang biar bertenaga." Lagi-lagi Denis memaksakan Aruna untuk minum susu.


Perempuan itu hanya minum sedikit, kemudian mengembalikan gelas pada Denis.

__ADS_1


Denis tidak bisa memaksa lagi kalau sudah seperti ini.


"Ya sudah sekarang kita istirahat ya, pasti kamu capek seharian menangis." Denis membaringkan Aruna dengan pelan.


"Dea gimana Mas? Apa dia sudah makan, tidur dimana dia malam ini." Aruna kembali menangis mengingat putrinya yang belum ditemukan.


"Berdoa Sayang semoga Dea baik-baik saja. Anak buahku dan polisi juga masih melakukan pencarian." Ujar Denis menenangkan Aruna, yang sebenarnya hanya anak buahnya yang masih bekerja. Pihak kepolisian belum bertindak sebelum dua puluh empat jam.


"Tetap aja aku kepikiran Mas, kalau Dea belum ada di rumah ini." Tukas Aruna yang tidak bisa menghilangkan ke khawatirannya.


"Sayang, tenang dulu ya biar aku bisa berpikir jernih."


"Gimana aku bisa tenang, anakku belum kembali Mas!!" Ucap Aruna dengan nada yang mulai tingga karena dari tadi disuruh tenang terus.


"Dea anak kita Sayang," Denis memeluk Aruna agar lebih tenang. Tangannya memberikan belaian hangat di punggung.

__ADS_1


"Aku gak bisa tidur, aku mau nunggu Dea pulang!" Rengek Aruna kembali manja.


"Apa cuma cara ini yang bisa bikin kamu tenang Sayang." Denis langsung menghapus jarak diantara mereka, dia sedang lelah. Kalau Aruna tidak tidur, dia tidak akan bisa istirahat. Sedang dia perlu istirahat barang sebentar untuk menenangkan pikiran.


__ADS_2