Aksara Cinta

Aksara Cinta
213. Baby Boy


__ADS_3

"Bubaaa!!" Seru Deandra heboh berlari mendekati brankar pasien.


"Untung gak berbagi kamar sama pasien lain, kamu bisa dimarahin orang karena teriak terus Sayang. Gak capek teriak-teriak." Denis yang mendengarkan saja lelah apalagi putrinya yang berteriak.


"Daddy gak senang banget Dea bahagia," sindir Deandra.


"Bukan gak senang Sayang, tenggorokanmu nanti sakit karena terlalu banyak disuruh kerja keras."


"Sudah, sudah. Mommy capek dengar kalian berdua bertengkar." Tegur Aruna akhirnya, "adek terganggu mendengar suara kalian."


Anak dan ayah itu serentak diam, Tian yang sedang menggendong baby boy mengulum senyum melihat kekompakan keduanya.


"Sini Sayang," panggil Tian pada putrinya. Deandra mendekat mencium pipi adik bayinya. Tian mengecup Dea di kepala, dia tidak mau putrinya itu berpikir kalau ia hanya menyayangi anaknya dari Ressa.


"Daddy Sayang kalian," sebut Tian dengan senyuman manis.


"Terimakasih Daddy," Dea berjingkat ingin mengecup pipi Tian tapi tetap tidak sampai juga. Tian terkekeh kecil menundukkan kepala agar Dea bisa menjangkau pipinya.


"Yes Honey, cium Buba juga." Gadis remaja itu mengangguk mendekati ibu sambungnya.


"I love you," gumam Deandra. "Terimakasih Buba sudah menyayangi Dea." Katanya menempelkan pipi pada Ressa dan memeluknya.


"Love you too, Sayang. Walaupun Dea sudah punya adik, Buba tetap sayang sama kamu." Ressa mengelus pipi Dea dengan penuh kasih sayang.


"Jangan minta baby sekarang juga. Cukup putrimu itu yang mengganggu kita bercinta Sayang," canda Denis pada Aruna.


"Maass, kamu ini ngeselin ih."


"Aku ngeselin, enggak deh. Perasaan kamu aja." Denis menoel gemas pipi Aruna.


"Mas mau pulang," ajak Aruna.


"Kenapa buru-buru Sayang?"

__ADS_1


"Aku udah gak kuat nyium bau obat dari tadi ini isinya mau keluar semua." Aruna menahan mulutnya agar tidak muntah di sana.


Denis menggiring istrinya ke kamar mandi. Aruna langsung mengeluarkan isi perutnya di sana. Lelaki itu hanya bisa membantu memijat di tengkuk.


"Bu, aku bawa Aru pulang dulu ya." Ijin Denis sambil menahan tubuh Aruna yang lemas keluar dari kamar mandi.


"Iya, kalian hati-hati. Istirahat aja di rumah," sahut Rina menatap putrinya yang sudah pucat.


"Mommy kenapa?" Tanya Dea khawatir.


"Mommy cuma gak tahan nyium baut rumah sakit Sayang, Dea temani Daddy jaga Buba ya." Jawab Aruna sangat pelan.


"Mommy jangan lupa minum obat," Dea mengingatkan.


"Iya Sayang," sahutnya dengan anggukan kecil.


"Kenapa bau obatnya sampai mobil Mas?" Rengek Aruna di dalam mobil sambil memegangi perutnya yang bergejolak lagi.


"Gak ada bau obat di mobil ini Sayang," Denis memberikan kresek pada Aruna untuk memudahkan saat muntah lagi.


"Tahan sebentar Sayang," Denis mengeluarkan mobil dari parkiran. Cepat membawanya pulang, dalam perjalanan pulang Aruna muntah-muntah lagi.


"Mas, ganti mobil please. Bau obat." Aruna semakin merengek, Denis terpaksa memarkirkan mobil di pinggir jalan raya. Membawa Aruna keluar dari mobil, ia mendudukkannya di bawah pohon.


"Aku mau naik ojek aja," pinta Aruna pelan.


"Kamu lemas Sayang, nanti kenapa-kenapa kalau naik ojek." Denis tidak rela istrinya itu dibonceng abang-abang ojek.


"Bill bawakan aku motor matic sekarang, lokasi aku kirim." Titah Denis pada pengawalnya melalui telepon. Mending dia saja yang membonceng Aruna, lebih aman.


"Istrinya kenapa Mas?" Tanya ibu-ibu petugas kebersihan di tempat itu.


"Mabuk naik mobil Bu, katanya mobilnya bau obat. Padahal tadi berangkat pake mobil yang sama." Jelas Denis yang sebenarnya juga bingung, mengusap-usap lengan Aruna yang bersandar di bahunya.

__ADS_1


"Mungkin lagi ngidam Mas, coba dibawa periksa dulu." Saran ibu itu.


Denis mengernyitkan kening. Ngidam? Mana mungkin. Tadi malam saja ia dipaksa puasa karena bendera merah itu melambai-lambai. Denis tersenyum menganggapi, mengucapkan terimakasih atas sarannya. Aruna sudah tidak bisa menyahut, badannya sangat lemas.


Tidak lama Bill datang membawa motor matic.


"Kamu ke rumah sakit temani Tian, kalau dia perlu apa-apa. Aku gak bisa kembali ke sana." Beritahu Denis pada Bill, laki-laki berperawakan besar itu mengangguk setelah mereka bertukar kunci.


"Sayang, yakin naik motor." Denis membangunkan Aruna pelan, mendudukkannya di motor. "Peluk aku yang erat Sayang, jangan tidur ya."


Aruna hanya bisa mengangguk kecil, Denis naik ke atas motor. Tangan kirinya menahan tubuh Aruna agar tidak jatuh. Ia menjalankan motor itu sangat pelan.


"Bill kenapa ke sini?" Tanya Tian, dia tidak memanggil anak buah Denis itu untuk menjaga kamar rumah sakit ini.


"Perintah dari Pak Denis, Pak. Ibu Aru sakit, jadi saya yang diminta berjaga-jaga di sini kalau bapak perlu sesuatu." Tutur Bill, Tian mengangguk saja.


"Mereka pulang naik apa?" Tanya Tian lagi.


"Ibu mau naik motor, gak mau naik mobil Pak."


"Bu, sepertinya Aru yang butuh Ibu di rumah. Ressa di sini biar aku yang jaga." Ujar Tian beralih menatap ibu mertuanya, Denis pasti kebingungan merawat istrinya itu.


"Iya, sebaiknya ibu pulang duluan." Rina mendekati brankar, "kamu gak papa Ibu tinggal Sayang?"


"Aku gak papa Bu, Dea kalau mau pulang, pulang aja sama Nenek ya. Ada Daddy di sini yang menemani Buba," jawab Ressa.


"Iya, Dea juga mau pulang." Ucap Deandra sendu, gadis remaja itu sampai bingung kenapa mommy-nya bisa sakit mendadak.


"Kalau capek jaga Mommy dan Buba, ada Daddy di sini yang selalu siap memeluk Dea." Bisik Tian di telinga putrinya, ia sangat bangga dengan anak gadisnya ini yang sudah bisa diandalkan.


Deandra tersenyum haru, tidak berkata-kata langsung memeluk sang ayah.


"Kita berpelukannya nanti lagi ya Sayang, Mommy yang sedang butuh Dea sekarang." Tian mengusap puncak kepala anak gadisnya.

__ADS_1


"Bye Daddy, jagain Buba dan adek." Ucap Dea sebelum pergi mengikuti sang nenek dan pengawal ayahnya.


"Of course, Honey." Tian mengacungkan jempolnya dengan senyuman menawan.


__ADS_2