Aksara Cinta

Aksara Cinta
69. Tawanan


__ADS_3

Tian membuka mata lalu tersenyum membelai pipi Ressa, mengecup lama di kening. "Kalau kamu ingin pergi. Pergilah sekarang, mumpung aku berubah pikiran. Kalau kamu ingin menikah dengan lelaki lain, silahkan. Aku menyayangimu, Ressa. Titip anakku."


Setelah merenung Tian mengalah, dia tidak bisa egois menahan dan membuat Ressa terluka bersamanya.


"Aku tidak ingin menjadi seperti perempuan itu meninggalkanmu. Aku ingin tetap di sini menjadi tawananmu. Biarlah aku menjadi perempuan bodoh karena sudah memilih tinggal bersama lelaki buaya ini."


Tian terkekeh kecil mendengar ucapan Ressa. Ia membawa tubuh Ressa bangun, lalu memeluknya sangat erat. "Terimakasih kamu masih mau mendampingiku, Honey."


Ressa hanya mengangguk kecil, menyadari kebodohannya karena memiliki hati yang lemah.


"Kamu mau lihat?" Tian membuka menu galeri di ponselnya lalu menunjukkan pada sang istri.


Ressa meringis dalam hati saat melihat foto yang terpampang di layar ponsel Tian. Benar, Tian-lah ayah dari keponakannya itu.


"Dia sudah lama ingin bertemu denganmu Tian," ucap Ressa tersenyum menyembunyikan segala rasa sakit yang menghujamnya.


"Kenapa kamu kasih nama Deandra?" Tanya Ressa penasaran pada bayi mungil yang sekarang ada di hadapannya.


"Biar mirip sama ayahnya, aku berharap suatu hari nanti dia bisa menyayangi ayahnya tanpa kebencian. Karena ini bukan salah ayahnya," jawab Aruna dengan bangga.

__ADS_1


"Kenapa kamu harus pergi Aru, kalau dia siap bertanggung jawab?" Tanya Ressa gemas pada kakak tirinya ini.


"Aku tidak ingin hidup bersama orang yang tidak pernah aku cintai Ressa. Bagiku itu sangat mengerikan, hidup penuh dengan kepura-puraan. Qoute cinta hadir karena terbiasa itu adalah bullshit." Ressa hanya bisa menghela napas panjang, tidak mengerti dengan pemikiran Aruna.


"Kamu kenal mereka?"


Pertanyaan Tian menyadarkan Ressa dari lamunannya, "kenal. Aku yang merawat dan menemani Aru sampai melahirkan."


Perempuan itu menggigit bibir bawahnya, bagaimana dia menjelaskan pada Tian siapa Aruna. Dan bagaimana kalau suaminya sering bertemu Aruna, apakah benih-benih cinta itu akan bersemi kembali.


"Kamu tau selama ini mereka ada di mana?" Tanya Tian, dia seperti terjebak pada lingkaran setan. Apa sebenarnya hubungan Ressa dengan Aruna, kenapa mereka sedekat itu. Ressa hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Kembali Ressa menganggukkan kepala, dialah yang menyarankan Aruna untuk ke Jakarta mencari ayah Dea. Walau sampai sekarang Aruna tidak pernah mau mengungkap identitas lelaki yang ternyata suaminya ini.


"Apa?" Desak Tian, dia sudah tidak sabar ingin tau apa tujuan Aruna muncul di sekitarnya. Sedang selama belasan tahun perempuan itu menghilang seperti ditelan bumi.


"Mencari ayahnya Dea," lirih Ressa.


"Aruna siapa kamu, Ressa?" Tanya Tian sedikit emosi. Kenapa dia jadi marah pada istrinya yang tidak tau apa-apa.

__ADS_1


"Anak ayah dengan almarhum istri pertamanya," jawab Ressa sambil menundukkan kepala.


Apa? Jadi dia memiliki anak dari saudara istrinya. Tian memijat pelipis pening.


"Kalau kamu ketemu Aru, gak perlu bilang aku ini istrimu. Aku akan hadir di sana sebagai adik Aru nanti," ujar Ressa berpendapat.


"Itu pemikiran bodoh, Ressa. Bagaimana kalau ayah ibumu tau akulah ayah dari anak itu. Kamu akan mereka anggap merebut aku dari Aru."


"Tidak apa, kamu bebas memilih antara aku atau Aru. Temui Dea, dia sangat merindukanmu." Ressa menepuk lembut punggung Tian untuk menenangkan. Kemungkinan terburuknya dia harus melepaskan Tian, karena Aruna taunya ayah Dea belum menikah.


Tian mengecup puncak kepala Ressa sangat lama untuk menenangkan jiwanya. Tangan kanannya mengelus perut sang istri. "Maafin ayah sudah membuat kacau seperti ini, Sayang."


Ressa mengelus lembut pipi suaminya, dia memang tau cerita versi Aruna bagaimana Deandra terlahir ke dunia tanpa ayah. Ia tidak bisa menyalahkan Tian. Bahkan mungkin Tianlah orang yang paling terluka saat itu hingga sekarang.


"Gak ada niat mau mandi, Sayang?"


Tian menggeleng pelan, Ressa memang paling tau cara melunakkan hatinya, "kalau dimandiin plus-plus mau."


Ressa melotot tajam. Tian menyapu wajah itu dengan telapak tangannya agar mata Ressa berhenti melotot. "Matanya nanti keluar Honey, aku gak mau mata kamu diganti mata ikan. Tapi kalau mata kucing bolehlah dicoba." Lanjutnya yang mendapatkan cubitan cinta.

__ADS_1


__ADS_2